About Me


Jangan Perpanjang PSBB


Oleh: Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid

(Direktur Rosyid College of Arts, Surabaya)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Setelah sejak pertengahan Maret 2020 hampir 3 minggu kami mengisolasi diri di rumah, lalu terpaksa ke Denpasar untuk menikahkan anak kami (usulan reskedul ditolak oleh KUA Denpasar Timur)  dengan akad nikah minimalis untuk memenuhi kebijakan _social distancing_, lalu mengisolasi diri lagi hingga memasuki kebijakan PSBB di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik, saya menilai ada kekeliruan dalam manajemen penanganan Covid-19 ini. 

Jika melihat statistikanya dibanding kasus kematian akibat penyakit infeksi lain dan degeneratif serta kecelakaan lalu lintas, saya menilai memang ada liputan media massa yang cenderung mendramatisir Covid-19. Lalu menimbulkan kepanikan serta ketakutan massal yang tidak perlu yang berdampak besar secara ekonomi. Di Jawa Timur saja ada sekitar 10 kematian/perhari di jalanan kita, terutama menimpa pesepeda motor. 

Beberapa hari yang lalu saya sempat menulis artikel pendek yang mengungkapkan harapan saya, jika PSBB ini berjalan efektif dan sukses, Kami bisa merayakan Iedul Fitri 1441H di lapangan Masjid persis di depan kediaman kami. Sebagai warga Muhammadiyah, artikel pendek itu sempat dinilai sebagai ketidakpatuhan saya pada arahan PP Muhammadiyah yang jauh hari telah mengambil keputusan meniadakan sholat Iedul Fitri tahun ini sebagai bagian dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Sebelumnya, Saya dan istri telah menerima banyak permintaan sedekah bagi kerabat kami yang kehilangan pekerjaan atau dirumahkan atau tidak lagi bisa berkegiatan untuk memperoleh nafkah. *Kebijakan PSBB nasional ini telah menyebabkan konsekuensi ekonomi yang buruk berskala besar* juga. Pengangguran meningkat juga kriminalitas serta angka depresi dan bunuh diri. Walaupun PSBB ini berpotensi menguatkan  keluarga sebagai satuan pendidikan, tapi ekonomi yang mandeg berpotensi  menggoyahkan keluarga. 

Saya sempat mengolah statistika covid-19 dunia beberapa waktu lalu. Kesimpulan pendeknya adalah bahwa *bangsa ini memiliki ketangguhan yang cukup dalam melawan Covid-19* : bangsa ini relatif muda (umur rata2 27  tahun), langsing (konsumsi daging rendah), secara fisik aktif (konsumsi bensin rendah), iklim kita yang hangat dan lembab kurang bersahabat bagi Covid-19, negara kita kepulauan, dan kita sering berpuasa. Dibandingkan negara lain, resiko kematian menghadapi Covid-19, di Italia 150 kali, dan di AS 30 kali lebih tinggi daripada di Indonesia. Dua bangsa negara itu _obese and ageing_. 

Jika memang warga yang rentan meninggal akibat Covid-19 ini kelompok berumur 60 tahun ke atas, kita perlu program yang lebih fokus pada kelompok umur ini. Sementara kelompok umur yang masih muda menjalankan program peningkatan imunitas : jaga kebersihan, makan yang bergizi, aktif bekerja dan berolahraga serta memastikan hidup bahagia. Kelompok muda yang produktif ini jangan dikurung di rumah saja berminggu-mingu bahkan sampai kehilangan pekerjaan. *Kehilangan pekerjaan bagi kelompok usia produktif itu pukulan psikologis yang berbahaya* karena menurunkan daya tahan tubuh dan sosial. *Bekerja bukan sekedar untuk memperoleh penghasilan, tapi sebagai bagian dari hidup bermartabat*.  Kondisi ekonomi seharusnya tidak perlu seburuk saat ini. 

Kita tidak perlu hutang lagi ke IMF atau menerbitkan surat hutang. Juga tidak boleh lagi ada TKA yang justru masuk ke Indonesia secara diam-diam besar-besaran ke berbagai daerah. Ini makin menimbulkan masalah sosial saat banyak anak muda justru jadi penganggur. 

Saya usul agar kita *merumuskan kebijakan yang _more targetted_ pada kelompok2 sasaran yang berbeda*. Bukan kebijakan yang luas pada kelompok-kelompok yang berbeda. Saya mengusulkan agar begitu PSBB ini selesai, kita ubah kebijakan kita untuk : 1) fokus mengisolasi kelompok umur yang tidak produktif sekaligus rapuh menghadapi Covid-19 (di atas 60 atau 65 tahun dan memiliki penyakit degeneratif) dan memberi dukungan agar tetap sehat dan memperoleh perawatan gratis yang dibutuhkan jika sakit, 2) segera membuka kembali kegiatan ekonomi secara berangsur-angsur sambil membangun _herd immunity_ di kalangan anak muda, termasuk memberi bantuan modal bagi usaha kecil dan menengah yang terdampak; 3) Kelompok usia muda dipaksa agar mengembangkan gaya hidup yang lebih sehat (tidak merokok, banyak berolahraga, menjaga kebersihan, diet yang sehat); 4) Sekolah dan kampus di buka kembali. 

Sebagai muslim, kebijakan meniadakan kerumunan yang berdampak pada penutupan masjid dan praktek sholat berjamaah yang tidak rapat dan lurus di masjid-masjid sungguh menyedihkan hati banyak orang yang tinggal persis di depan masjid. Dalam prinsip pengambilan keputusan, *setiap kebijakan senantiasa bisa dievaluasi* jika terbukti tidak tepat karena asumsi-asumsinya sudah tidak valid lagi dan telah menyebabkan konsekuensi yang sebelumnya tidak diperhitungkan.  

Jika kita berani mengambil keputusan baru, maka kita *bisa segera memulai kehidupan normal baru*, tidak terlalu terlambat di banding bangsa lain yang sudah akan mengakhiri _lock down_ pada pertengahan Mei ini. Banyak anak muda bangsa ini siap hidup sederhana tanpa bantuan pemerintah seperti yang memang selama ini terjadi. Tapi memaksa banyak pemuda tinggal di rumah saja atau kehilangan pekerjaan adalah sebuah penghinaan atas harga dirinya. 

Rosyid College of Arts
Gunung Anyar, 4/5/2020

Post a Comment

0 Comments