About Me


J U M ' A T A N (2)


Oleh: Abdullah Mukti

(Alumni YTP, Kertosono)

Harianindonesiapost.com 
Bismillaahirrohmaanir rohiiim.

Sering saya dengar, ada beberapa
muballigh yang berpendapat bahwa hukum meninggalkan jum'atan atau sholat jum'at berjama'ah dalam suasana covid 19 ini hukumnya adalah boleh meninggalkan jum'atan,  dilarang jum'atan (di masjid), diganti sholat dhuhur di rumah dengan membawakan dalil dalil dari Al qur'an dan Alhadits juga ushulul fiqh yang saya tulis di bawah ini.

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. 
بسم الله الر حمن الرحيم.
يايها الذين امنوا اذا نودى للصلاة من يوم الجمعة فاسعواالى ذكر الله وذرواالبيع،ذلكم خير لكم ان كنتم تعلمون.
Hai orang orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
QS. Al jumu'ah ayat 9.

عن طارق بن شهاب ان رسول الله ص قال ( الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة الا اربعة : مملوك، وامرآة، وصبي، ومريض)  رواه ابو داود، وقال : لم يسمع طارق  من النبي ص. واخرجه الحاكم من رواية طارق المذكور عن ابي موسى. 
Dari Thoriq bin syihab,bahwasanya Rosululloh saw. telah bersabda: " jum'ah itu satu tuntutan yang wajib atas tiap tiap muslim dengan berjama'ah, kecuali empat : Hamba dan perempuan dan anak anak dan orang sakit "
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan ia berkata : Thoriq tidak dengar dari Nabi saw, tetapi dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thoriq yang tersebut, dari Abi  Musa.

Di masa Nabi saw pada saat hujan, pada hayya 'alassholaah (حى على الصلاة)... muadzdzin disuruh Nabi mengganti dengan sholluu fii buyuutikum ( صلوا في  بيوتكم ). 
Sholatlah di rumah rumah kalian.

درء ( دفع ) المفاسد مقدم على جلب المصالح . اصول الفقه .
Menghindari (mencegah) kerusakan itu didahulukan daripada berbuat kemaslahatan.

QS. Al jumu'ah ayat 9
adalah dasar untuk menentukan bahwa sholat jum'at itu wajib bagi  setiap muslim.
Sedangkan hadits dari Thoriq di atas adalah sebagai dasar pengecualian bagi orang yang tidak wajib sholat jum'at (berjama'ah di masjid).

Kira kira di awal tahun duaribu saya membaca sebuah artikel tentang sholat jum'at, LIPI berpendapat bahwa pada hari jum'at tidak ada sholat dhuhur karena pada hari jum'at semuanya terpanggil untuk menunaikan sholat jum'at dengan BERJAMA'AH. Dalam hadits Thoriq diterangkan hanya empat golongan yang boleh tidak  berjama'ah, artinya pada hari jum'at tetap sholat jum'ah  bukan sholat dhuhur. Kalau di rumah dilakukan dengan berjama'ah dan ada khutbah bila ada makmumnya.

Para ulama' yang lain membolehkan bahkan menganjurkan sholat jum'ah  diganti dengan sholat dhuhur di rumah termasuk orang yang berhalangan syar'i seperti tertidur, tertinggal sholat jum'at atau musyafir yang sulit mencari masjid untuk melaksanakannya.

Kemudian bagaimana hukum wajib sholat jum'at dalam kondisi covid 19 ini ? Tentunya kita tidak boleh dengan seenaknya, atau sembarangan dalam mengambil hukum agar masyarakat tidak bingung. Untuk itu sebagai muballigh harus secara rinci dan jelas dalam menyampaikan keputusan atau kesimpulan dalam masalah ini.

Memang Islam sangat toleran dan memberi kelonggaran bagi pemeluknya, tapi ada ketentuan dan rincian, tidak bagi semua pemeluknya .  Hanya bagi orang orang yang telah ditentukan oleh islam. 

Dalam situasi covid 19 ini, merujuk pada hadits di atas yang kita bahas adalah orang yang sakit termasuk sakit karena terpapar covid 19. Tentunya yang sehat tidak termasuk pengecualian, artinya tetap wajib jum'atan berjama'ah. 
Kemudian yang dimaksud sakit itu, apa  untuk semua orang sakit ? tentunya hanya orang sakit yang apabila berpuasa semakin memperparah sakitnya apalagi sudah dilarang oleh ahlinya (dokter). Orang sakit yang menurut ahlinya harus istirahat, termasuk orang  sakit yang dinyatakan dokter positif terpapar covid 19. Jadi tidak berlaku bagi semua yang sakit tentunya.

Ada muballigh yang membandingkan lebih bahaya mana dampak covid 19 ini dengan dampak hujan yang membolehkan untuk meninggalkan sholat berjama'ah termasuk sholat jum'at berjama'ah.  Katanya menurut para ahli covid 19 sangat berbahaya, sangat mudah tertular dan mudah menularkan jika masyakat bergerombol atau berkerumun termasuk di masjid untuk melaksanakan sholat berjama'ah sehingga boleh sholat di rumah bahkan ada yang jelas jelas melarangnya dan masjid harus ditutup.

Memang para ahli telah menjelaskan betapa bahayanya corona, tetapi para 
ahli juga sudah memberikan  cara untuk menghindar dan menjauhi tertularnya covid 19 dengan mengikuti protokol kesehatan yang mana masyarakat sudah sangat faham.
Mengapa kita tetap membolehkan tidak berjama'ah bahkan melarang berjama'ah di masjid karena hanya khawatir dan takut terpapar corona. 

MUI membolehkan bahkan tetap menghukumi wajib melaksanakan jum'atan selama dalam zona yang masih bisa dikendalikan dan aman (hijau) . Putusan fatwa MUI no. 14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah covid 19 poin 3b dan nomor 5. juga fatwa NU. 

Kita berangkat ke masjid  dalam kondisi bersih dan suci juga dalam kondisi sehat, pulang insyaa Alloh masih bersih dan suci, juga melaksanakan arahan protokol kesehatan,ke masjid waktu yang dibutuhkan paling lama 30 menit, bisa 15 menit bahkan bisa 5 menit bagi yang terlambat atau sengaja memperlambat. Tetapi ke pasar dan yang serupa waktu yang dibutuhkan tak terbatas, banyak orang orang yang bergerombol, banyak kotoran, banyak yang tidak mentaati protokol kesehatan, sedikit rasa takut tidak ada dalam hati kita.

Apakah muballigh yang membolehkan apalagi yang melarang dan memerintahkan menutup masjid dan ada pula pimpinan yang menghimbau muballighnya mundur dari khotib sholat idul fithri (waktu itu), mempunyai rasa suudhon dan sengaja menuduh masjid itu tempat penyakit dan tempat tertular dan menularkan penyakit ?ini sama dengan suudhon dan menuduh Alloh swt.

Seorang muballigh membandingkan dengan hujan yang dampaknya tidak sedahsyat corona saja boleh sholat di rumah . Hal ini jelas sangat berbeda . Hujan sesuatu yang jelas sedangkan corona sesuatu yang masih ghoib (tidak atau belum jelas).
Mengenai hujan ,yang dimaksud hujan  yang bagaimana ? Kita tahu rintik rintik itu juga hujan, gerimis itu juga hujan. Ada hujan deras dan deras sekali. Ada hujan tanpa angin dan ada hujan disertai angin kencang ( puting beliung). Banyak yang memahami karena kekhawatiran dampak hujan itu akibatnya mencelakan orang karena licin dan becek, itu benar karena kendaraannya waktu itu onta tidak ada tutupnya. Kira kira belum ada mantel (jas hujan)dan payung. Jalan jalan masih berupa tanah saja. Rumah jauh dengan masjid. Apakah kondisi seperti itu bisa diqiyaskan dengan kondisi sekarang ? Tentunya tidak bisa karena sudah jauh berbeda. Kendaraan jaman sekarang itu mobil beratap, banyak mantel (jas hujan) payung, jalan jalan diaspal ( dipaving). Rumah rumah sudah berdekatan dengan masjid kecuali yang memang malas atau tidak mau ke masjid.

Jadi hukum kondisi dulu tidak bisa merubah hukum atau disamakan pada saat ini karena ILLATnya berbeda, dan yang dhohir tidak bisa disamakan dengan yang ghoib (tidak atau belum ada kepastian).

Kemudian seorang muballigh membawakan dalil ushulul fiqh seperti di atas tadi. 
Yang namanya rukhshoh bagi yang dalam kondisi masyaqoh dalam bab ini adalah orang sakit, apakah berlaku bagi semua muslimin yang sehat ?

Umpama ada kebakaran, apakah semua orang boleh, harus meninggalkan jum'atan dengan alasan mendahulukan untuk menghindari dan mencegah kerusakan (kemadlorotan) ? Tentunya hanya korban dan orang orang yang bertugas, paling luas hanya orang orang di sekitar (sekampung) tempat kejadian yang membantu, tidak semua orang tidak semua kampung.

Begitu juga bagi orang sakit, hanya dirinya, petugas yang menjaga dan yang merawatnya, tidak bagi semua orang. Kalau seandainya satu kampung yang sakit, ya sekampung itu saja yang mendapat kelonggaran atau rukhshoh tidak berlaku bagi lainnya apalagi berjauhan.

Kesimpulan  : 
A. Dalam situasi aman, masih terkendali hukumnya  jum'atan tidak berubah.
B. Hanya orang yang sakit, yg menjaga dan yang merawatnya yang mendapat kelonggaran tidak untuk semua orang.
C. Yang dhohir tidak bisa diqiyaskan dengan yang ghoib.
D. Cara melaksanakan sholat tidak bisa disamakan atau mengikuti  kesatuan wilayah. 
E. Di wilayah aman dan bisa dikendalikan hukum jum'atan tetap wajib dengan mengikuti dan melaksanakan protokol kesehatan.
F. IKUTI fatwa Ulama. Dalam hal ini MUI .
H. Laksanakan protokol di mana saja kita berada.
I. Harus harus bisa mempetakan dan membedakan wilayah wilayah yang masuk zona merah, kuning dan hijau sehingga  masyakat bisa jelas.
J. Yang merasa sakit jangan ke masjid.

Demikian, bila ada kata dan susunan bahasa yang kurang enak dibaca mohon maaf.
Mari kita bersama sama berdoa mudah mudah ibadah kita selama romadlon ini khususnya diterima Alloh dan dipertemukan di romadlon berikutnya dan semoga situasi dan kondisi seperti ini tidak terulang lagi. Aamiiiin.(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments