About Me


ISLAM PERLU MENJADI PENGENDALI TATANAN SOSIAL PLURAL UNTUK MENGHADIRKAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM


Oleh: dr. Fuad Amsyari, Ph.D.

Editor: Sudono & Tom Mas'udi

Harianindonesiapost.com
Saya menulis artikel ini karena tersentak membaca posting seorang Ustad senior di media sosial berikut ini :  

"Umat ini harus di tarbiyah (dididik) untuk menjadi mujahid (pejuang) bukan jadi "penguasa". 

Kekuasaan itu adalah buah.  Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh akan memberikan "kekuasaan" di muka bumi. 

Jikalau yang berkuasa itu aktifis ormas,  mahasiswa,  partai islam, tapi jika spiritnya bukan iman,  maka kekuasaan itu tidak memberikan manfaat kepada islam dan umat islam.  Sebagaimana yang kita saksikan di negeri ini..."

Jelas pandangan diatas  tidak berdasar fakta di Indonesia saat ini. Kurang banyak apa jumlah PEJUANG ISLAM  DI NGRI INI. Apa ada yg menafikan bahwa ustad2, mubaligh2 di pelosok2 negeri itu bukan Pejuang Islam? Astaghfirullah. 

Untuk bisa berkuasa memimpin tatanan sosial plural itu PERLU PROSES POLITIK SESUAI SUNNATULLAH SOSIAL-POLITIK, tidak otomatis tiba2 menjadi pemimpin. Sunnatullahnya adalah ADANYA HIZBULLAH / PARTAI ISLAM IDEOLOGIS YG BESAR & KUAT untuk menang bersaing dari Partai Sekuler dukungan kaafirin-munafiqin-dholimin-jaahilin. Tidak ada yang otomatis dlm pertarungan di dunia plural. 

Posting berikutnya dari ustad itu membuka jawaban mengapa pendapatnya seperti yang diuraikan sebelumnya. Ustad  tersebut menulis :  

"Coba lihat dalam sirah nabawi (sejarah Nabi)... Sewaktu di Mekah,  meskipun Rasulullah tidak berkuasa,  tapi pengikut Rasulullah di Mekah terus bertambah...  Begitupun keimanan para sahabat terus meningkat... 

Coba renungkan dengan baik... Sewaktu di Mekkah,  Rasulullah di tawari kekuasan oleh kafir Quraisy Mekah,  tapi Rasulullah menolak.  Kalau mengikuti pemikiran logika politik  seharusnya Rasulullah menerima tawaran kekuasaan itu, karena dengan berkuasa,  maka Rasulullah akan bisa melakukan apa saja.  *Faktanya Rasullullah menolak tawaran tersebut.*

Pandangan tersebut jelas menunjukkan bahwa yang bersangkutan hanya melihat sepotong perjuangan Nabi saat di fase Meksh saja, padahal Nabi sesudah berjuang di Mekah lalu melanjutkan perjuangan beliau di Madinah. Saya luruskan pendpt tersebut sebagai berikut: 

Sewaktu fase Mekah yg 13 th, wahyu2 yang turun adalah terkait Syariat Syahshiyah/Personal, seperti tauhid, ritual, ahlaq, amal sosial, syiar Islam. Umat Islam dituntun tentang ajaran tersebut dalam berislamnya. Umumnya mereka taat melaksanakannya. Namun mari kini  dievaluasi apa yang terjadi/dialami umat Islam  semasa di Mekah tsb.  Umat Islam memang bertambah (dari seorang menjadi max sekitar 300 orang dalam periode 13 tahun itu), dg kualitas keislamannya katakan  bagus/prima karena dipandu Nabi sendiri langsung. Tentu masalah kualitas keislaman harus dikaitkan ketaatan pada isi wahyu yg sudah turun saja di masa itu yang substansinya masih terkait Syariat Syhshiyah/personal. Selanjutnya mari diperiksa apa yang terjadi pd umat Islam di Mekah tersebut & bagamana kualitas Tatanan sosial plural di sana? Umat Islam kondisinya terhinakan, terpuruk hidupnya, bahkan banyak yang murtad. Baganana pula dengan tata kehidupan masy plural Mekah? Tetap rusak bukan? Kejahatan, kesewenangan, eksploitasi ekonomi, kesenjangan sosial, dan tetap kerdil menjadi serpihan kelompok sosial di tengah adikuasa Romawi & Persia. Itu nyata kondisi Islam & umat di fase Mekah.

Lalu bagaimana kondisi itu bisa berubah, dari terbelakang-tertindas menjadi umat yang dihormati sesama manusia, dan mampu membuat tatanan sosial pluralnya menjadi teradilkan-tersejahterakan? Di sanalah berperan  sunnatullah yang di tunjukkan oleh Allah SWT  melalui rentetan wahyu2 Madaniyah. Isi ajaran Islam tidak lagi hanya berkutat dalam syariat syahshiyah/personal tapi wahyu Allah lalu mengajarkan agar umat Islam membangun  HIZBULLAH/Kekuatan Politik yang akan BERTARUNG DG HIZBUSYAITON, yang ujungnya menang dalam pertarungan dan  mengambil Kekuasaan Formal Negara Madinah yg plural. Maka selanjutnya Nabi mencontohkan bahwa sebagai Pemimpin Formal ngri lalu mengelola sesuai syariat Allah dalam bidang kenegaraan  poleksosbudkumhankam. Dari pengelolaan ngri secara BENAR/SYAR'I itulah lalu terjadi perubahan kondisi  tatanan sosial plural Madinah-Mekah, menjadi tatanan negara yabg unggul dalam segala hal sampai2 membuat Romawi & Persia berada dalam kendalinya. Dan jangan lupa dicatat bhw dg penerapan tuntunan ISLAM POLITIK maka hanya perlu 10 tahun dakwah-perjuangan Nabi bisa menyelamatkan umat manusia dg menjadi muslim di seluruh jasirah Arab dan sekitarnya. Diteruskan oleh kepemimpinan 4 sahabat beliau, Khulafaur Rasyidin, maka Islam dipeluk oleh manusia2  dari seantero benua.

Ringkasnya, baru dengan penerapan syariat Siyasiyah/ Islam Politik maka Islam menjadi jaya, umat Islam berkembang pesat & terhormat, dan  tatanan sosial plural  berkeadilan & tersejahterakan.

Bagaimana kita sekarang ini, di fase Mekah atau Madinah? Jangan lupa bahwa kita kini tidak lagi di fase Mekah yang isi wahyu2 masih aspek syahshiyah/personal. Al Qur'an sdh utuh di dalamnya berisikan wahyu Makiyah & Madaniyah. Wajib bagi umat Islam untuk melaksanakan SEMUA ISI WAHYU tidak hanya yang syariat syshshiah/personal saja namun juga WAJIB melaksanakan syariat siyasiyah/politik. Ajaran ISLAM POLITIK itu intinya  meliputi 3 hal, yakni bhw umat Islam wajib syar'i:

1. MEMBENTUK- BERGABUNG-MENGUATKAN HIZBULLAH/PARTAI ISLAM IDEOLOGIS, haram bergabung pada Partai Sekuler dukungan kafirin-munafiqin-dholimin-jahilin

2. MENGUSUNG & MEMILIH MUKMIN PEJUANG ISLAM YANG CERDAS INTELEKTUAL dari kalangan Hizbullah  sebagai Pemimpin Formal dlm Tatanan Sosial pluralnya. Haram mengusung & memilih Pemimpin Formal yang bukan Mukmin walau sepertinya cerdas-intelek dari Partai Sekuler.

3. PENGELOLAAN TATANAN SOSIAL PLURAL HARUS SESUAI SYARIAT ALLAH SWT TERKAIT POLEKSOSBUDKUMHANKAM. Haram hukumnya mengelola ngri tidak berbasis syariat. 

Kesimpulannya, umat Islam di msnapun & kapanpun wajib melaksanakan syariat syahshiyah/personal & siasiyah/politik secara simultan. Dan hanya jika mau  melaksanakan ISLAM POLITIK di atas selain umat ini berislam personal maka Islam & umat akan jaya, tidak terpuruk dihinakan orang, dan mampu mewujudkan Rahmat bagi semesta yang plural. 

Hal terakhir terkait mengapa Nabi menolak saat ditawari sebagai Penguasa di Mekah, saya ingatkan khusus sebab2 ideologisnya: 

1. NABI MENOLAK MENJADI PENGUASA SAAT DI MEKAH KARENA DISYARATKAN SEHARI MENYEMBAH ALLAH SWT, SEHARI MENYEMBAH BERHALA. NABI MAU MEREKA UNTUK DIJADIKAN PEMIMPIN BONEKA. 

2. NABI BERSEDIA MENJADI PENGUASA MADINAH KARENA TIDAK ADA  SYARAT TSB,  DAN BEBAS MEMBUAT KEBIJAKAN SENDIRI YANG LALU DIKAITKAN DENGAN TUNTUNAN/ SYARIAT ALLAH SWT TERKAIT PENGELOLAAN NEGARA. 

Surabaya, 13 Ramadhan 1441H

Post a Comment

0 Comments