About Me


DASYATNYA HASUD


Oleh: Kasdikin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ ». أَوْ قَالَ « الْعُشْبَ »

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad akan menghanguskan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar." (Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam “As-Sunan” (no. 4905), Imam Baihaqi dalam “Syu’abul Iman (no. 6333) & “Al-‘Adab (no. 115),  semuanya meriwayatkan dari jalan Sulaiman bin Bilaal dari Ibrohim bin Abi Usaid Al Barood dari Kakeknya dari Shahabat Abu Huroiroh)
Hasad menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat diartikan sebagai dengki. Sedangkan dengki menurut KBBI ialah menaruh perasaan benci yang amat sangat ketika melihat kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan berusaha menghilangkan kenikmatan itu sendiri.
Hasad berasal dari bahasa arab yaitu  حَسَدَ يَحْسِدُ وَيَحْسُدُ  (hasad-yahsudu/yahsidu). Sifat hasud merupakan kebalikan dari sifat gitbah (ikut bahagia atas nikmat yang di terima orang lain). sebagaimana firman Allah “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (Q.S Al-Falaq [113] : 5)
Memang di antara berbagai penyakit ruhani, hasad adalah salah satu yang paling berbahaya untuk kehidupan manusia.  Karena orang hasad ini selalu berupaya untuk mencari dan melakukan cara agar nikmat atau anugerah itu hilang dari orang lain dan atau berpindah kepada dirinya
Orang disebut dengki kepada seseorang apabilah dengan tanpa alasan yang jelas, serta-merta merasa tidak senang kepada segala kelebihan atau keutamaan yang dipunyainya. Kelebihan itu dapat bersifat kebendaan, seperti  kekayaan dan harta; dapat juga tidak bersifat kebendaan, seperti, kedudukan, kehormatan, atau prestise, kecakapan, dan lain-lain. 
Hasad berawal dari sikap tidak menerima nikmat yang diberikan Allah kepadanya, karena ia melihat orang lain diberi nikmat yang dianggap lebih besar. Hasad pun bisa timbul bila seseorang menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat dibanding orang lain.
Dalam Alquran disebutkan tentang sikap sebagian ahli kitab terhadap Rasulullah SAW. "Ataukah mereka hasad (dengki) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." (QS An-Nisa [4]: 54)
Orang yang menyimpan kedengkian kepada seseorang, biasanya selain membencinya juga diam-diam dalam hatinya menginginkan orang itu celaka. Dan kalau sudah begitu, besar sekali kemungkinan, secara  langsung atau tidak langsung berusaha mencelakakannya. Karena seseorang yang sudah termakan kedengkian itu dapat menggunakan berbagai cara untuk memuaskannya itu.  
Kedengkian itu biasanya tumbuh dikarenakan sifat ujub ataupun banggga diri bahkan menganggap orang lain tidak lebih baik dari dirinya, sehingga merasa orang lain tidak pantas, bahkan merasa sesak dadanya ketika orang lain dipuji. Kedengkian itu tumbuh karena cintanya kepada pangkat dan kedudukan, sehingga berusaha  semaksimal mungkin untuk menjatuhkannya. Kedengkian itu Juga bisa tumbuh karena jiwanya yang memang sangat kotor, atau memang wataknya yang sejak lahir yang selalu mendorong sikap hasud itu.
Banyak sekali cara yang dilakukan oleh orang berjiwa hasud ini untuk menjatuhkan orang lain,  diataranya adalah dengan Mengungkit dan mengumumkan kekeliruan atau kasalahan orang, sehingga dia akan bangga ketika orang lain dicela banyak orang. Selain itu dia akan membenci secara diam-diam dalam hatinya dengan menginginkan orang lain  itu celaka. Dan pada akhirnya besar sekali kemungkinan secara  langsung atau tidak langsung berusaha mencelakakannya. Dalam upaya untuk mencelakakan itu, kemungkinan akan terdorong untuk melancarkan  berita-berita buruk yang tak benar atau palsu, tentang orang tersebut dan membuat posisi orang tak berdaya dan tak mampu membela diri. Dan sementara itu si pendengki itu mengetahui, malah mungkin mengamati, tingkah laku sasaran kedengkiannya, namun sasaran itu sendiri tidak mengetahui, dan mustahil mengamati, tingkah laku si pendengki. 
Mengapa kedengkian itu disebut penyakit yang berbahaya, karena daya rusaknya itu luar biasa, bukan hanya orang lain tetapi pada dirinya sendiri. Merusak orang lain,  karena kedengkian itu adalah pertarungan sepihak, yang sering dilakukan dengan menfitnah tanpa dikehui oleh yang di dengkinya, yang mengakibatkan kehancuran bagi orang lain. 
Selain itu, kedengkian juga akan menghancurkan dirinya sendiri Menyebabkan ketidak tenangan dan kerisauan yang tidak putus-putus kerena akan selalu memikirkan bagaimana agar kebaikan itu hilang dari orang lain. Bahkan amal  kebaikannya yang ia lakukan  itu,  akan habis dimakan oleh api kebenciannya dan kedengkian itu sendiri. Itulah daya rusak dari kedengkian.
Mengapa kedengkian itu bagaikan api yang membakar dan mengahanguskan kayu bakar, yang harus kita jauhi, sebagaimana sabda Rasullullah SAW diatas,  karena di dalam rasa dengki itu dengan sendirinya tersembunyi keinginan agar orang lain celaka, maka kedengkian itu merupakan bukti yang jelas sekali bahwa sesungguhnya tidak adanya itikad baik atau ketidak tulusan kepada orang lain atau sesama. Dengan kata lain, adanya kedengkian itu merupakan bukti amat nyata bahwa perbuatan baik yang dilakukan itu adalah kepalsuan. Karena itu seluruh perbuatan baik itu pun musnah, ibarat rumah kertas yang dilahap habis oleh api kedengkian kita sendiri. Karena apa  makna segala amal kebajikan yang dilakukan, jika tidak dilandasi oleh itikad kebaikan, atau niat yang baik. Nabi saw pun menegaskan bahwa semua perbuatan tergantung kepada niatnya, yakni, dorongan batin dan itikadnya itu. Dengan demikian kebaikan-kebaikan yang dia lakukan tidak bermakna apapun, sehingga kebaikan itu bagaikan kertas dan kayu yang terbakar oleh api kedengkiaanya sendiri. 
Oleh karena itu, Nabi mengajarkan kepada kita untuk menjauhi atau berhati-hati terhadap kedengkian, yang tumbuh di hati kita, yang pada akhir akan menghacurkan diri kita dan orang lain. Wallahu a’lam.

Penulus Adalah Alumni PonPes YTP Kertosono dan Kepala KUA Rengel Palang Tuban

Post a Comment

0 Comments