About Me


Cerita Ringan: Antara Borneo dan Banua


Oleh: Bukhori at Tunisi

(Orang Jawa yang merantau ke Borneo)

Harianindonesiapost.com Kalau Borneo, saya belum mendalami betul, tahu nama Borneo, saya dapat dari peta lama di sekolah SD Muhammadiyah Ciro, Balong Bendo, tak terawat, tapi antik. Sekarang ada atau tidak, wallahu a'lam.

Orang sekampung ada yang dibawa Belanda ke Burneh (b. Madura), nama lain Borneo. Tapi saya dengar cerita itu, masih kecil, saya belum sekolah dan masih pakai celana pendek doang.

Alkisah, ada seorang istri muda nan cantik  yang suaminya dibawa Belanda ke Burneh (Borneo), hingga sekarang. Karena kelamaan menumggu sang suami ga nongol nongol, akhirnya ibu muda tersebut menikah lagi dengan seorang pemuda, namanya Kasman (ga pake Singodimejo). Dia kaya banyak ladang dan sapinya banyak, sayang tidak dikaruniai keturunan. Kasman ini nantinya pergi haji. Waktu kecil orang sekampungan ikut ngantar ke Juanda. Saya pun ikut, Karena saya tahu, bapak saya ikut mobil oplet sewaan dari Soerabaja. Asalnya gak diajak, karena saya lihat bapak naik mobil, saya nangis sejadi-jadinya, keras sekali. 😃😃😃
Waktu pulang haji, orang-orang menyebut beliau: Bek Kajih Kasman.

Saat tahu di peta, saya langsung teringat cerita perempuan yang ditinggal pergi suaminya dibawa Londo.

Oooo, ternyata Burneo itu masih di Indonesia, bukan di Amerika Latin, Guyana Prancis, atau Suraname. Bukan, ternyata di Bumi Dayak.

Tapi saat saya merantau ke Kalimantan, orang Kalimantan tidak pernah menyebutkan kata-kata Borneo juga, aneh. Walaupun mereka mengaku bahwa Borneo itu Bumi Kalimantan. Jare Orang Banjar, Borneo itu nama pemberian Walanda, walau diambil dari kosakata bahasa Kalimantan.

Karena itu, bila orang jawa terpelajar menyebut kata Borneo, mereka adem ayem saja, tidak merasuk, karena tidak satu jiwa.

Lain jalnya dengan sebutan BANUA, maka kata itu merupakan sebutan "magic", karena ampuh bagai Ajian Serat Jiwanya Kakek Astagina. Orang lumpuh bisa berdiri bila diajak perang dengan pekik "Perang Banua". Semua orang akan tergerak, jika disebutkan kata "Banua"

"Banua Lima" adalah sebutan untuk Lima Kabupatin di Wilayah Banjar, karena dianggap sebagai asal muasal keberadaan Orang Borneo (Banjar). Dari Hulu Sungai (Utara, Tengah, Selatan) cikal bakal kebudayaan Banjar terbentuk.

"Banua" artinya: "Kampung", "desa", "wilayah" "negara" (nagari: Minangkabau). Jadi kalau disebut "Saya orang Banua", artinya, "Saya orang asli Kalimantan". Bukan pendatang, juga bukan perantauan.

Sejak Reformasi, belum ada gubernur Kalimantan Selatan dimenangkan selain orang Banua. Padahal ada suku lain yang mendiami Pulau Kalimantan, yaitu Dayak, Bugis, Jawa, dan sebagian kecil dari transmigran.

Kenapa, kareba bukan "Orang Banua"

Jadi masih kuat jalinan tali persaudaraan seetnis di Kalimantan.

Ada positifnya, karena Banjar identik dengan Islam. Jadi kalau ada orang Banjar bukan muslim, dianggap bukan Banjar. Ibarat sebutan "Melayu", maka jika orang Melayu Nusantara (Asean) tidak beragama Islam, dianggap bukan Melayu. Sama dengan orang Madura. Agama di Madura Islam (NU), jika orang Madura kok ikut MD, maka dia bukan Islam. Itu doeloe. Sekarang???

Post a Comment

0 Comments