About Me


Catatan Kecil hari KEBANGKITAN NASIONAL: Politik dan Ekonomi sebagai Panglima, Ambyarrrrr


Oleh : In’am eL Mustofa

(Pegiat Sosial Keagamaan & Property)

Editor: Sudono Syueb

Hariandonesiapost.com Setiap tanggal 20 Mei, ingatan insan manusia Indonesia apalagi mereka yang saat ini masih aktif dalam
dunia Pergerakan dan Organisasi Masyarakat . Ingatannya segera akan terlempar pada nama-nama para
aktivis pergerakan pada waktu itu, seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Radjiman
Widiodiningkrat., Haji Samanhoedi dan juga HOS Cokroaminoto dan masih banyak lagi. Para tokoh tersebut mengharu biru jagad pergerakan dengan berbagai latar belakang, motif dan
pemikiran . Dialektika pun terjadi diantara mereka yang bermuara pada Indonesia Merdeka. Caranya
juga ada kemiripan meskipun terdiri banyak organisasi yaitu, membangun kesadaran politik dan
kesadaran berorganisasi untuk mencapai Indonesia Merdeka. Perjuangan Diplomatik dan perjuangan
bersenjata, keduanya tetap dilakukan secara bersamaan. Arah perjuangan kental akan nuansa politik, tahun 1900an hingga menjelang kemerdekaan tahun 1945 banyak sekali ormas pergerakan yang lahir
seperti Sarekat dagang Islam, Boedi Oetomo, Masyumi, PKI, Moerba, Muhammadiyah dan NU. Dua yang
terakhir ini masih hidup sampai saat ini. Kekentalan nuasa politik ini memang memberi arah baru bagi
Indonesia Merdeka yakni, Politik sebagai Panglima. Bahkan pasca kemerdekaan oleh Presiden Soekarno jargon politik sebagai panglima masih relevan untuk
menjadi garda depan dalam mengisi kemerdekaan. Kabinet silih berganti dan jatuh bangun bias disebut
sebagai tanda bahwa dinamika politik Indonesia pada waktu itu sangat dinamis dan dewasa. Dinamis
karena banyak pendapat dibangun dengan argument rasional. Dewasa karena ada rasa saling
menghormati antar mereka baik saat di dalam sidang konstituante, dalam kabinet dan di luar sidang. Banyak sekali singa podium pada masa itu. Politik menjadi Panglima , sebagai penentu arah dan
memberi kebijakan pada bidang-bidang lain sangat dominan. Ini pada tahun 1950 hingga tahun 1960an. Presiden Soekarno sangat menikmati arah Kemerdekaan yang telah dicapai. Diakui dan dihormati akan
martabatnya oleh dunia. Namun apa lacur ketika terjadi perseturuan yang memanas antar anak bangsa , buru-buru Presiden Soekarno mengangkat dirinya sebagai Panglima Revolusi. Tujuannya bagus agar
tidak terjadi perpecahan antar anak bangsa. Dan sejarah mencatat Politik sebagai Panglima pun ambyarr
dengan ditandai lengsernya Presiden Soekarno. Dan di era Presiden Soeharto, pembicaraan dan dialektika politik sedemikian rupa diminimalisir, arah
pembangunan bergeser bahwa Pembangunan Ekonomi sebagai Panglima untuk menjadi bangsa yang
bermartabat. GBHN, Repelita dan kebijakan industrialisasi dicanangkan. Parpol disederhanakan dan
membuka luas kerjasama dengan dunia internasional. Kemitraan dengan beberapa negara industry
dijalani , bahkan seorang Dahlan Iskan dalam catatanya mengatakan , bahwa di jaman Soeharto
Indonesia nyaris sukses menjadi negara industry. Namun yang didapati justru krisis dan ditandai dengan
lengsernya Presiden Soeharto juga. Sampai beberapa kali terjadi pergantian Presiden, ekonomi masih
menjadi Panglima namun tetap gagal untuk meneruskan kebijakan industrialisasi. Sudah terlanjur tekor, merugi dan tak kompetitif dengan negara-negara lain. Dan di era Joko Widodo maunya ada kebangkitan
harkat martabat dengan Nawacita namun kini berujung pada menurunya daya saing perdagangan Indonesia, ditambah dengan wabah covid 19. Indonesia justru makin terpuruk. Bahkan dengan lebel
baru sebagai negara maju, tak ubahnya hanya ejekan dan sindiran. Ke mana hendak berlabuh Kebangkitan itu??
Politik sebagai Panglima telah gagal, Ekonomi sebagai Panglima juga hanya menyuburkan kesenjangan
social, radikalnya para koruptor dan kuatnya cengkeraman kartel ekonomi (politik). Praktis keduanya tak
akan membawa pada marwah dan martabat bangsa yang tinggi, berdaulat dan ikut serta menjaga
ketertiban dunia. Keduanya sudah terbukti ambyaarrr. Lantas? Tentu menghendaki adanya Panglima baru. Panglima yang sesuai dengan Pembukaan UUD 1945
yakni sebuah arah baru pembangunan Indonesia berdasar pada keinginan ( nilai ) luhur dan kesadaran
penuh sebagai insan religious . Keduanya ssungguhnya sudah berkelindan lama sebelum masa pra
kemerdekaan namun itu kemudian diabaikan oleh para politisi dan pemimpin negri. Pembukaan UUD
1945 yang sarat akan nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara serta kental dengan budaya yang hidup
di Nusantara hingga ikut serta menjaga ketertiban dunia bukanlah hanya pajangan. Namun sebenarnya
adalah arah sekaligus panglima dalam membangun Republik Indonesia. Petanya juga sudah jelas, untuk
memajukan kesejahteraan umum diperlukan kecerdasan dalam merespon jaman. Artinya manusia harus
didudukkan sebagai subjek , pelaku perubahan dan bukan bagian dari proses produksi. Salah memahami
atau pembelokkan maksud Preambul menjadikan pendidikan dalam sector apapun, tidak hanya institusi
pendidikan berakhir pada manusia sebagai tenaga kerja. Bagian dari kegiatan ekonomi. Tidak lebih tidak
kurang. Maka wajar jika inovasi dan gagasan baru tidak ada selama periode politik dan ekonomi sebagai
Panglima. Jika ada justru malah tidak dipakai.
Indonesia menjadi tidak focus pada kekayaan dan budaya yang dimiliki bahkan cenderung mengabaikan
nilai-nilai luhur dan religious. Kegotong Royongan, tepo seliro, andhap ashor dan keimanan pada Tuhan
Yang Esa hilang dalam setiap episode pembangunan yang muncul dan bersifat dominan justru pada
untung rugi dan angka-angka. Pada sisi lain kecerdasan dalam mendayagunakan alam semesta juga tidak
fair dan menyalahi sunatullah. Jika cerdas agar Indonesia bangkit tentu akan mengambil arah berlabuh
sebagai bangsa Agraris dan maritim—sayang pilihanya adalah negara industry, dan terbukti ambyarrrr. Maka abai terhadap budaya yang dimiliki bangsa sudah saatnya diakhiri. Cita-cita luhur para pejuang
negri ini sangat agung, merugi jika diabaikan. Mungkinkah budaya sebagai Panglima akan menjadi
pijakan Indonesia akan datang. Waktu yang akan bicara, dan musim pun akan segera berganti.

Post a Comment

0 Comments