About Me


Berdagang Dengan ALLAH


Diceritakan kembali oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Artikel ini enak dibaca, inspiratif dan membimbing. Artikel nampaknya sudah lama beredar di berbagai akun  facebook yang berbeda beda dan dari WA ke WA yang diteruskan oleh orang orang yang berbeda hingga tak nampak lagi siapa penulis aslinya. Saya berkali kali telah membacanya, tapi setiap membacanya seolah olah artikel baru, dan selalu dapat pencerahan.
Karena itu, artikel ini saya hadirkan kembali dalam bentuk terbitan online di portal berita harianindonesia.com. 
Terimakasih kepada penulis pertama artikel ini, semoga menjadi amal jariyah penulisnya. Selamat membaca, selamat menikmati dan selamat mengambil ibrah dari tulisan ini, semoga trinspirasi. 

Lelaki tua dengan baju lusuhnya itu masuk ke sebuah toko megah di Madinah. 
Dari bajunya, kelihatan kalau lelaki tua tersebut dari golongan dhu'afak. 
Para pengunjung di toko tersebut (yang rata-rata orang berada) melihat aneh kepada lelaki tua itu. 
Tetapi tidak dengan pemilik toko itu.
Terjadilah percakapan menarik antara pemilik toko dan lelaki tua itu

Pemilik toko: 
_''Mau cari apa pak?'',_ tanyanya ramah.

Lelaki Tua: 
_''Anu.. Saya mau beli selimut 6 helai untuk saya dan anak istri saya. Tapi.. ''_, jawabnya ragu.

Pemilik toko: 
_''Tapi kenapa pak?''_

Lelaki tua: 
_''Saya hanya punya uang 100 riyal. Apa cukup untuk membeli 6 helai selimut? Tak perlu bagus, yang penting bisa untuk melindungi tubuh dari hawa dingin'',_ ucapnya polos.

Pemilik toko: 
_''Oh cukup pak! Saya punya selimut bagus dari Turki._ 
_Harganya cuma 20 riyal saja. Kalau bapak membeli 5, saya kasih bonus 1 helai''_, jawabnya sigap.

Lega, wajah lelaki tua itu bersinar cerah. 
Ia menyodorkan uang 100 riyal, lalu membawa selimut yang dibelinya pulang.

Seorang teman pemilik toko yang sedari tadi melihat dan mendengar percakapan tersebut kemudian bertanya pada pemilik toko:

_''Tidak salah?_
_Kau bilang selimut itu yang paling bagus dan mahal yang ada di tokomu ini._
_Kemarin kau jual kepadaku 450 riyal. Sekarang kau jual kepada lelaki tua itu 20 riyal?"_, protesnya heran.

Pemilik toko: 
_''Benar. Memang harga selimut itu 450 riyal, dan aku menjualnya padamu tidak kurang dan tidak lebih._
_Tetapi kemarin aku berdagang dengan manusia. Sekarang aku berdagang dengan Allah"._

_"Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak menginginkan uangnya sedikitpun._
_Tapi aku ingin menjaga harga diri lelaki tua tersebut agar dia seolah tidak sedang menerima sedekah dariku hingga bisa membuatnya malu"._

_"Demi Allah! Aku hanya ingin lelaki tua itu dan keluarganya terhindar dari cuaca musim dingin yang sebentar lagi datang._
_Dan aku pun berharap Allah menghindarkanku dan keluargaku dari panasnya api neraka...''_

Sungguh, diperlukan sikap bijak dalam beramal dan bersedekah agar membuat orang lain tidak merasa malu atau rendah.

Bagaimana dengan Anda...???

Allah berfirman: 

ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺣَﺒَّﺔٍ ﺃَﻧْﺒَﺘَﺖْ ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻨَﺎﺑِﻞَ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺳُﻨْﺒُﻠَﺔٍ ﻣِﺎﺋَﺔُ ﺣَﺒَّﺔٍ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳُﻀَﺎﻋِﻒُ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎءُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﮦ 

_"Perumpamaan (infaq/sedekah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki._ 
_Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."_
(QS. Al-Baqarah: 261)

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳُﺘْﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣَﻨًّﺎ ﻭَﻻَ ﺃَﺫًﻯ ۙ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮُﻫُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﻻَ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻻَ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ ﮦ 

_"Orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinfaqkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."_
(QS. Al-Baqarah: 262)

Selamat berbagi dibulan yang  penuh rahmat Allah ini, saudara-daudariku tercinta...

Post a Comment

0 Comments