About Me


Al Wala': Ahli Waris Budak adalah Yang Memerdekakan Budak Itu


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Dulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus Allah jadi Nabi dan Rasul-Nya, kaum laki laki memperlakukan wanita semaunya. Mereka tangkap dan atau culik wanita di mana saja, lalu dirampas hak haknya, termasuk sebagai pelampiasan nafsu seksnya. Perempuan itu lalu jadi budaknya. Setelah puas, beberapa tahun kemudian dicampakkan begitu saja dan atau dijual. Setelah dijual pun, majikannya merasa masih memiliki hak waris (al Wala') si budak itu. 
Hal itu terjadi pada seorang budak perempuan hitam dari Ethiopia bernama Barirah.

Rasulullah membawa kabar gembira, yaitu menjunjung tinggi harkat perempuan. Pria tidak bisa lagi sewenang-wenang mendapatkan perempuan, melainkan harus meminang lebih dahulu, memberi mahar, dan menikah secara sah.

Penghargaan terhadap perempuan berlaku untuk semua Muslimah. Bahkan terhadap budak belian pun, Rasulullah membelanya seperti diriwayatkan pada kisah Barirah. Dia seorang budak berkulit hitam asal Ethiopia. Majikannya, Utbah bin Abu Lahab, menikahkan Barirah dengan budak kulit hitam bernama Mughits milik Bani Al-Mughirah.

Sebagai budak, Barirah tidak bisa menolak keinginan majikannya. Padahal hati kecilnya tidak ikhlas menikah dengan Mughits. Jalan keluarnya, Barirah berniat memerdekakan diri dengan perjanjian menyicil sejumlah uang sebagai ganti harga dirinya kepada majikan.

Dia menemui istri Rasulullah, Aisyah RA, untuk meminta bantuan. Aisyah berkata, “  

إن أحب أهلك أن أعد لهم ويكون ولاؤك لي فعلت
 Artinya: "Jika tuanmu bersedia, aku akan membayarnya kepada mereka (secara kontan) sehingga ahli warismu ( wala'-mu) adalah aku, maka lakukanlah!"

Demi mendapati kesanggupan dari Siti 'Âisyah radliyallâhu 'anha ini, pulanglah Barîrah kepada majikannya dan melaporkan kesanggupan Aisyah, istri Nabi itu. Mendengar penjelasan Barîrah soal wala' (hak waris yang diterima seseorang karena memerdekakan budak), sang majikan menolak. Ia mengatakan bahwa Siti Aisyah radliyallahu 'anha bisa membelinya lalu memerdekakannya, akan tetapi disyaratkan bahwa hak waris wala' adalah tetap milik sang majikan. Lalu laporlah ia kepada 'Aisyah radliyallahu 'anha dan berkata:

إني قد عرضت ذلك عليهم فأبوا إلا أن يكون الولاء لهم

Artinya: "Aku sudah menyampaikan kepada Bani Hilal. Mereka menolak, kecuali jika wala' tetap menjadi hak mereka."

 Gelisahlah keduanya, sehingga kegelisahan itu sampai ke telinga Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Siti Aisyah radliyallahu 'anha pun menjelaskan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau bersabda:

خذيها واشترطي لهم الولاء فإنما الولاء لمن أعتق

Artinya: "Ambil dia dan syaratkan ke mereka (Bani Hilal) akan hak wala' itu. Sesungguhnya wala' adalah hak bagi orang yang memerdekakan."

Demi mendengar hal itu, Aisyah radliyallahu anha bersegera bersedia melakukannya. Lalu Rasulillah berdiri di hadapan para sahabat yang lain, lantas memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu beliau bersabda:

أما بعد ما بال رجال يشترطون شروطا ليست في كتاب الله، ما كان من شرط ليس في كتاب الله فهو باطل وإن كان مائة شرط، قضاء الله أحق وشرط الله أوثق، وإنما الولاء لمن أعتق

Artinya: "Amma ba'du. Tertolak bagi seseorang menetapkan syarat yang tiada dibenarkan oleh kitab Allah. Karena syarat apa pun yang tiada ditentukan dalam Kitabullah maka syarat itu adalah bathil (tidak sah). Kendati syarat itu sebanyak 100, akan tetapi ketetapan Allah subhanahu wata’ala adalah yang lebih haq dan syarat Allah adalah lebih teguh. Sesungguhnya hak wala’ adalah bagi orang yang memerdekakan."

Dalam bulan ramadhan ini, mari kita sucikan batin kita dari kepemilikan yang bukan hak kita. Termasuk hak waris itu. Kalau memang bukan hak kita janganlah kita kuasai. Berikan pada yang berhak. In syaa Allah berkah.

Post a Comment

0 Comments