About Me


PUASA DAN SYUKUR


Oleh; KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Suatu Ketika Khalifah Umar Ibn Khattab RA melakukan thawaf di Masjidil Haram, tiba-tiba beliau mendengar seorang laki-laki Arab yang sedang berdoa, didepan pintu ka’bah (multazam), “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang yang sedikit (minoritas).” Mendengar doa itu,  Umar RA terkejut  dan memerintah ajudanya, “Bawa laki-laki itu ke hadapanku.” Maka laki-laki Arab itu dihadirkan di hadapan Umar, lalu Umar bertanya, “Wahai saudaraku, sungguh doa yang kamu panjatkan tadi belum pernah aku dengar sebelumnya. Apa makna doamu itu?” Laki-laki Arab itu berkata, “Orang sekaliber Tuan pasti hafal (maksud) doa tersebut, wahai Amirul Mukminin.” Pernyataan tersebut justru menambah keheranan Umar, lalu Umar RA bertanya kembali dengan heran, “Bagaimana mungkin saya menghafalnya?” Laki-laki itu berkata, “Bukankah Tuan membaca Firman Allah subhanahu wata’ala dalam kitab-Nya, “Dan sangat sedikit hamba-Ku yang pandai bersyukur (QS Saba’ 31 : 34 ). Saya memohon kepada Allah supaya saya dijadikannya orang yang bersyukur.” Kemudian Umar berkata, “Saudara benar, saudara boleh kembali ke tempat. 
Dari kisah di atas kita bisa mengambil satu pelajaran penting bahwa  sedikit sekali dari hamba Allah yang pandai bersyukur. Serta minimnya kecerdasan manusia dalam mensikapi dan mengaktualisasi nikmat yang diberikan oleh Allah, sehingga Allah mengabadikannya dalam Al-Quran. 
Kata syukur pada mulanya mempunyai beberapa makna, yaitu membuka, atau menampakkan. Kata syukur juga digunakan untuk menunjuk pohon  yang dikasi air  sedikit, pohon itu  menjadi berkembang lebat, atau menunjuk binatang yang dikasi air minum sedikit, binatang itu menjadi gemuk. Dari pengertian agama syukur adalah menampakkan nikmat yang dianugerahkan oleh Allah, kemudian diamalkan sebagaimana fungsi nikmat itu.
Jika engkau mendapatkan nikmat,  maka tampakkanlah nikmat Allah itu dengan melaui tiga sarana. Pertama  dengan hati, yaitu menyadari bahwa nikmat yang diperoleh itu adalah bersumber dari Allah,  dengan demikian akan muncul kesadaran bahwa kesuksesan adalah diperoleh bukan karena usahanya semata, tetapi juga bantuan kepada Allah SWT.
kedua adalah dengan lidah. Setelah hati yang dengan kesadaran yang penuh untuk bersyukur itu, maka akan mendorong lidah untuk bersyukur dengan memuji Allah dengan mengucap Alhamdulillah.  Ucapan dan pujian kepada Allah itu adalah bagian dari sikap rendah hati, tidak sombong yang dapat menjerumuskan dirinya. Sebab hanya Allah lah yang patut mendapat pujian.
Kemudian yang Ketiga adalah dengan fisik. Setelah hati menyadari kemudian lidah berucap maka kemampuan fisik akan  melakukan dan melaksanakan  tujuan Allah menanugrahkan  nikmat tersebut. Dan pada akhirnya gerakan fisik yang mengfungsikan nikmat Allah sebagaimana mestinya itu akan melahirkan produktifitas. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran , Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan “ jika kamu bersyukur, Aku akan memberi tambahan (karunia) kepadamu, tetapi jika kamu tidak bersyukur, sungguh adzab-Ku dasyat sekali” (Q;14:7)
Allah menganugerakan nikmat kepada manusia itu mempunyai tujuan, tatkala Allah menganugerahkan  lautan kita perlu mensyukurinya. Menurut al-Quran lautan diciptakan  agar kapal-kapal berlayar dilautan itu,  agar manusia memperoleh dari lautan itu ikan yang segar untuk dimakannya. Atau hiasan dan  permata yang ada didalamnya. Tidaklah manusia atau  bangsa itu bersyukur tatkala mereka tidak mampu memanfaat lautan yang merupakan nikmat Allah sebagaimana mestinya. 
Allah SWT tatkala memerintahkan kepada kita puasa, itu adalah bagian dari nikmat yang dianugerahkan kepada manusia. Dengan berpuasa Allah mengajarkan betapa besar dan banyaknya  nikmat Allah yang selama ini diberikan.  Dengan berpuasa manusi diajarkan untuk merasakan betapa penderitaaan orang lain yang tidak mampu membeli makan, dan diharapkan mampu tumbu empati, rasa solidaritas sosial pada diri kita. Dengan berpuasa Allah mengajarkan kita untuk bersyukur. Semoga kita pandai bersyukur atas anugrah Allha kepada kita. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Arraudlatul Ilmiyah Kertosono dan Kepala KUA Kecamatan Rengel Kab. Tuban.

Post a Comment

0 Comments