About Me


PUASA DAN PEMBIASAAN BAIK


Oleh; KASDIKIN

Harianindonesiapost.com Di bulan yang suci ini, seluruh umat muslim dipacu untuk selalu berbuat kebaikan,  baik yang berhubungan dengan Allah ataupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Sebagai pemicunya, semua kebaikan yang dilakukan oleh umat muslim akan dilipat gandakan pahalanya. Ini artinya bahwa dibulan ramadlan ini Allah membimbing umat muslim agar membiasakan diri untuk berbuat baik, sehingga keluar dari bulan ini umat muslim terbiasa dan ringan untuk melakukan kebaikan. 
Kebiasaan tindakan dan perbuatan baik yang kita lakukan itu akan menuntun kejalan kemudahan untuk terus berbuat baik. Sebagaimana firman Allah SWT “Sungguh kalian mengejar tujuan yang sangat berlainan,  Adapun  orang yang biasa memberi dan bertakwa,  serta percaya kepada kebaikan, maka Kami (Allah) akan mudahkan baginya jalan kemudahan (ke arah kebaikan),” (Q 92:4-7).
Ayat ini menjelaskan bahwa kebaikan yang kita lakukan terus menerus maka dengan sendirinya akan dimudahkan oleh Allah untuk selalu melakukan kebaikan itu. Sebaliknya ketika kita membiasakan diri untuk berbuat tidak baik atau kikir, maka Allah juga akan memudahkan jalan mereka untuk berbuat tidak baik itu. Sebagaimana firman Allah. “Dan adapun orang yang kikir, dan merasa dirinya serba cukup, dan mendustakan kebaikan tertinggi (khusna) akan kami mudahkan baginya ke jalan kesukaran (sukar untuk berbuat baik)  (Q 92:4-7).
Kebiasaan apapun bentuknya, jika itu dilakukan dengan terus menerus, maka akan menjadi reflek, dan menjadi mudah dan ringan untuk dilakukan. Seberat apapun kegiatan itu jika dilakukan terus menerus,  maka akan menjadi ringan, sesulit apapun kegiatan itu jika dilakukan terus menerus maka akan menjadi mudah. Itulah pentingnya kebiasaan dan pembiasaan. Oleh karena pentingnya kebiasaan itu, islam mengapresiasi sikap istiqomah, bahkan amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah adalah amalan yang dilakukan terus menerus. 
Rasulullah mengajarkan kita untuk  berbuat baik walaupun hanya membiasakan  menyebarkan kata salam atau mengucap salam ketika bertemu dengan sesama muslim. Mungkin didalam benak kita bahwa mengucapkan salam adalah pekerjaan yang ringan dan mungkin sepeleh, tetati sesunghnya, sebagia sesuatu kebaikan ucapan salam yang kecil itu mempunya sangkut paut yang erat dengan perkara yang penting dan besar, yaitu komitmen batin  kita kepada kebaikan.
Hanya orang yang mempunyai komitmen kebaikan, dan  yang didalam jiwanya tertanam rasa cinta kasih yang tinggi,  dengan rela mengucapkan salam,  ketika bertemu dengan saudara sesama muslim, yang sejalan dengan semangat kata salam itu sendiri. Dan hanya orang yang didalam jiwanya penuh dengan komitmen batin kepada nilai-nilai kemanusian dan persaudaraan yang dengan rela mengangkat tangan sambil tersenyum dan  mengucapkan salam. 
Jika komitmen batin itu tertanam cukup kuat didalam diri, dan kebiasaan berbuat kebaikan betapa pun kecilnya, telah mengakar dalam jiwa, maka akan tumbuh tabiat  “watak” kebaikan. Baginya berbuat baik tidak lagi merupakan beban, melainkan menjadi sesuatu yang menyatu dengaamatan dirinya. Oleh karena itu ramadlan adalah  sarana untuk berlatih membangun komitmen batin untuk selalu baik dan berbuat baik, sehingga kelak dikemudian kebaikan yang kita lakukan tidak lagi menjadi beban,  tetapi telah menyatu menjadi kedirian kita, atau menjadi watak kita. Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kertosono dan Kepala KUA Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban

Post a Comment

0 Comments