About Me


PUASA DAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN


OLEH: KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Telah beredar khabar,  bahwa ada orang yang sangat dirundung kemelaratan.  Dalam  hal materi, dia tidak memiliki apa-apa, dalam hal fisik dia sangat   lema dan  ringkih, sehingga karena kondisi yang begitu amat sangat melarat dan lemahnya, sampai-sampai orang menyebutnya atau mengibaratkannya  seperti anak burung,  atau seperti ayam bugil,  ayam yang tidak punya bulu. Itulah istilah dan tamsil yang dipakai masyarakat arab ketika menggambarkan orang yang sangat melarat itu. 
Ketika khabar itu sampai kepada Rasullullah,  maka segeralah beliau menjenguknya,  lalu Rasullullah bertanya pada orang tersebut,  hai fulan kenapa kamu sampai  bisa begini?, doa apa yang kamu panjatkan kepada Allah sehingga kamu sampai begini? Tanya Rasullullah,  kemudian dia menjawab,  iya wahai Nabi,  saya  selalu mengucapkan doa  kepada Allah “Ya Allah,  jika Engkau menetapkan siksaan kepadaku di akhirat, maka timpakan saja kepadaku lebih awal di dunia ini”.’ Maka Rasulullah terpernjat dan bersabda: ‘Subhanallah, engkau tidak akan kuat atau tidak akan sanggup menerimanya. Lalu Rasullullah bertanya lagi, maukah kamu aku tunjukkan kepadamu doa yang lebih baik dari itu? Yaitu, Rabbana atina fi addunya khasanah Wa fi al-akhirati Khasanah Waqina adzaba  al-nnar ‘Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari adzab api neraka.’ Maka ia pun mengikuti apa yang disampaikan Rasullullah dengan memanjatkan doa tersebut kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya.’ (Hadits ini hanya disebutkan oleh Muslim dengan ia meriwayatkannya dari Ibnu Abi Adi), 
Terkadang sebagian kaum muslimin ada yang beranggapan,  bahwa semakin menderita atau semakin susah seseorang dalam melaksanakan suatu ritual atau ibadah,  maka semakin lebih besar pahalanya yang ia dapatkan.   Anggapan semacam itu tidaklah selamanya benar, karena islam sangat menghargai nilai nilai kemanusian, Perintah Allah dalam hal ibadah  puasa misalnya, yang dari dimensi lahiriah adalah latihan tidak makan, minum dan  hubungan biologis, tidaklah  dimaksudkan sebagai upaya untuk menyengsarakan terhadap manusia dan menafikan  nilai-nilai kemanusiaaan, tetapi  untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia itu sendiri, hal ini bisa dicarikan berbagai bukti penelitian secara ilmiah  betapa puasa itu sangat bermanfaat bagi manusia. 
Oleh karena penghargaan  terhadap nilai-nilai kemanusiaan itulah dalam hal ibadah puasa,  islam mengajarkan agar mempercepat berbuka puasa,  dalam istilah bahasa Arab disebut ta’jîl al- futhûr, dan orang yang mempercepat berbuka kemudian diapresiasi sebagai hamba yang terkasih,  sebagaimana sabda Rasullullah dalam hadits qudsi “Hamba-hamba-Ku  yang paling Aku cintai adalah mereka yang mempercepat berbuka puasa”. Selain itu Juga menganjurkan  agar mengakhirkan saur,  dan kemudian yang mengakhirkan saur itu di janjikan keberkahan sebagaimana sabda Rasullullah“Bersahurlah karena dalam sahur terdapat keberkahan”.
Mempercepat berbuka puasa, yang disunahkan oleh  Rasulullah  dengan minum minuman atau makan makanan yang mengandung zat gula seperti kurma atau buah buahan, adalah bertujuan agar kondisi fisik segera dapat pulih kembali. Begitu pula anjuran mengakhirkan sahur, diharapkan agar beban ibadah  puasa yang kita lakukan tidak  memberatkan kerja fisik karena ada persiapan atau bekal dalam menjalankanya. Hal ini menggambarkan betapa islam itu sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu di tengan kondisi penuh keprihatinan pandemi wabah covid 19 ini, marilah kita tetap menjalankan ibadah dengan tenang, tanpa kecemasan, dan tetap mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan. Wallahu a’lam


*Penulis Adalah Alumni PONPES YTP Kertosono Tahun 1991, dan kepala KUA Kecamatan Rengel, Tuban.

Post a Comment

0 Comments