About Me


PUASA DAN KEISTIMEWAAN AMAL


Oleh: KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Puasa adalah ibadah yang amat sangat istimewa dibanding dengan amalan ibadah yang lain.  Jika amalan ibadah yang lain semua pahalanya akan dikembalikan untuk manusia, serta kebaikannya akan dilipatgandakan hingga lebih dari sepuluh kali lipat, tetapi ibadah puasa tidaklah demikian. Amalan ibadah puasa itu adalah “hak Allah semata”. Sebagaimana hadits Qudtsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151) Begitu istimewanya ibadah puasa itu hingga takaran pahala kebaikannya akan dibalas khusus oleh Allah, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa puasa  begitu istimewa dihadapan Allah? 
Puasa adalah ibadah yang sangat mempribadi “private”, karena puasa itu tujuan akhirnya adalah, membentuk manusia yang bertaqwa yaitu manusia yang selalu sadar bahwa Allah adalah Maha hadir (The Message of the Quran Muhammad Asad). Karena yang mengetahui apakah seseorang itu puasa atau tidak hanya Allah dan pribadi orang yang berpuasa itu sendiri, berbeda dengan ibadah yang lainnya yang terkadang memerlukan kesaksian orang dan keterlibatan orang lain, seperti shalat, zakat dan haji misalnya.
Ibadah shalat misalnya, dalam menjalankanya  itu di utamakan dengan berjamaah, sehingga Allah akan meningkatkan 27 derajad bagi yang melaksanakan berjamaah, dan hanya 1 derajad bagi yang tidak berjamaah.  Dalam pelaksanaannya salat jamaah ini,  ada keterlibatan orang lain untuk mngerjakan bersama, maka disitu ada kesaksian orang lain. Begitu pulah ibadah zakat, tentu saja zakat itu adalah ibadah pribadi tetapi pelaksanaannya ada keterlibatan orang lain,  baik melalui LAZIS ataupun langsung diberikan kepada mustahiknya. 
Ibadah haji pun demikian, justru memerlukan keterlibatan berbagai macam pihak, mulai dari kementerian Agama, Kementerian kesehatan, kemenkumham, kementerian perhubungan, kejaksaan dan lain sebagainya, bahkan pelaksanakannya dilakukan secara masal dengan ribuan jamaah, dan tidak hanya itu, ketika berangkat juga diringi oleh banyak keluarga, bahkan ada seremonial khusus didesa dan didaerah masing-masing, sehingga semua orang mengerti bahwa haji telah ditunaikan.
Puasa adalah ibadah yang sangat mempribadi, karena pelaksanaannya hanya melibatkan dirinya dan Allah SWT,  boleh jadi ada orang yang secara dhahiriyah kondisi fisiknya lemas seperti orang yang sedang berpuasa, tetapi siapa tau dia didalam kamar minum atau makan, tentu kita tidak tau dan hanya Allah yang tau. Dan  sebaliknya ada orang yang secara dhahir fisiknya tetap kuat, bekerja keras  seperti orang yang tidak puasa,  tetapi siapa yang tau kalau di itu sedang berpuasa,  hanya dirinya dan Allahlah yang tau. 
Mengapa orang rela lapar dan haus, meskipun jika dia makan dan minum tidak ada orang yang melihat, karena mereka adalah orang yang mempunyai kesadaran bahwa Allah Mahahadir, sebagaimana tujuan puasa itu dicanangkan, yaitu membentuk orang yang bertawa,  yaitu orang yang selalu sadar bahwa Allah Mahahadir. Oleh karena itu ibadah puasa adalah sangat istimewa, sehingga puasa hanya milik Allah. Wallahu a’lam


*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Arraudlatul Ilmiyah Kertosono Tahun 1991 dan Kepala KUA kecamatan Rengel Kab. Tuban

Post a Comment

0 Comments