About Me


PUASA DAN KEIHLASAN


Oleh: Kasdikin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Puasa adalah salah satu ibadah wajib bagi setiap Muslim baik pria maupun wanita yang sudah mukallaf (dewasa). Kewajiban puasa sama derajatnya dengan kewajiban shalat, zakat, dan haji, karena sama-sama termasuk rukun Islam yang lima. Hanya, kalau shalat itu kewajibannya bersifat harian, yakni lima waktu dalam sehari semalam, sedangkan puasa kewajibannya setahun sekali, yakni pada bulan Ramadlan. Walaupun  demikian ibada puasa adalah ibadah yang paling istimewa dibading ibadah yang lain karena ibadah puasa itu sangat bersifat mempribadi “private”

Sebagai ibadah mahdhah puasa memiliki beberapa persyaratan. Di antaranya,  harus dilakuan oleh orang yang beragama Islam. Pelakunya sudah cukup umur dan dijalankan dalam bulan Ramadlan. Orang yang puasa juga harus menahan diri dari makan, minum, dan hubungan biologis suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa  juga harus dijalankan oleh orang yang tidak dalam keadaan terlarang untuk puasa misalnya, wanita yang datang bulan. Apabila persyaratan ini terpenuhi, puasanya sudah sah sebagai ibadah dan dosa meninggalkan rukun Islam menjadi gugur.

Supaya puasanya diterima dan tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban, maka perlu  mengikutsertakan pikiran, hati, dan semua anggota badannya seperti lidah, mata, telinga, tangan, dan kaki untuk berpuasa dari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Kalau tidak, dia tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dari puasanya kecuali rasa haus dan lapar saja. “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Selain itu agar puasa berdampak positif secara spiritual dan tercapai tujuan puasa yaitu terampuninya dosa-dosa dimasa lalu, maka diperlukan ihtisaban atau intropeksi diri atau koreksi diri (self-examination,) sebagaimana hadits Rasulullah  SAW yang menganjurkan orang berpuasa agar banyak melakukan kegiatan introspeksi diri atau mawas diri sebagai syarat mencapai tujuan ibadat puasa — berarti ampunan. Hadis tersebut berbunyi, “Barang siapa  berpuasa  penuh  dengan keimanan dan Ihtisaban atau  introspeksi diri, maka diampuni segala dosa yang telah lalu,”  (HR Bukhari-Muslim).

Melakukan koreksi diri adalah tindakan yang sangat tidak mudah  dilakukan, karena dibutuhkan kejujuran  dan sikap rendah hati.  Sebaliknya  orang akan lebih mudah untuk melakukan tindakan kritik dan menilai kesalahan orang lain daripada mengoreksi dirinya. Oleh karena itu walaupun melakukan koreksi atau kritik terhadap kesalahan diri adalah pekerjaan yang amat sulit. Akan tetapi, inilah hakikat akhlak mulia sebagaimana yang dimaksudkan oleh hadits Nabi di atas tadi, dan disitulah pentingnya amalan puasa yang harus diikuti oleh tindakan ihtis├ób agar orang beriman dapat memiliki akhlak mulia. 

Jika kita tidak mampu melakukan koreksi diri dan kritik diri, yang di dalamnya dibutuhkan ketulusan dan kejujuran dan kerendahan hati itu,  maka yang akan terjadi adalah munculnya sikap sombong, selalu merasa dirinya benar, atau, bahkan paling fatal, menganggap dirinya paling benar. Oleh karena itu roh dari ibadah puasa adalah keihlasan yaitu yang semata-mata dijalankan karena Allah SWT saja, tidak ada motivasi lain kecuali mencari ridha-Nya. 

Sikap teguh untuk melakukan koreksi diri adalah bagian dari proses diri untuk menjadi insan yang bertaqwa, yang membutuhkan kejujuran dan niat serta ketulusan, sebagaiman disampaikan oleh Ibnu athoillah dalam kitab “alhikam” bahwa amal perbuatan adalah bentuk lahiriyah yang tampak mata dan ruhnya ialah adanya “rahasia keihlasan” yang amat “privat” didalamnya.  Wallahu a'lam. 

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Araudlatul Ilmiyah (YTP) Kertosono dan Kepala KUA kecamatan Rengel Kab. Tuban

Post a Comment

0 Comments