About Me


PUASA DAN JALAN TERPENDEK MENUJU SURGA


OLEH: KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Diriwayatkan dari Az-Zuhriy dari Anas bin Malik, dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW  tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki calon penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi SAW  bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki calon penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki yang sama dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya. Dan esok harinya lagi Rasulullah SAW bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki calon penghuni Surga!!’ dan tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu, Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash ra mengikuti lelaki tersebut hingga kerumahnya, lalu ia Abdullah Bin Amr Bin Ash ra berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku habis bertengkar dengan orang tuaku. Aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’ Dan Dia lelaki itu menjawab, ‘Silahkan!’
Anas berkata bahwa Ibnu Amr bin Ash setelah menginap tiga hari, tiga malam, di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang  qiyamullail (sholat malam). Hanya saja, tiap kali terjaga dari tidurnya, ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu. Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik.’
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada kemarahan dan boikot antara aku dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Oleh karena itu saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti dan mencontoh  amalan yang kamu lakukan. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’  Kemudian lelaki itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai dendam kepada seorang diantara kaum muslimin atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’ Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah– dalam Az-Zuhd wa Ar-Roqo’iq (hal. 241-242), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah,   dengan sanadnya sampai kepada Az-Zuhriy dari Anas bin Malik. Cerita ini juga ditulis dalam Kitab Hayat al Shahabat jilid II hal 530-532. 
Cerita tersebut Memberikan isnpirasi bahwa ada jalan terpendek menuju Surga, yaitu jalan sunyi yang tidak diketahui oleh siapapun walaupun orang terdekat dan paling dekat sekalipun, yaitu dengan membersikan hati dari dendam, iri, dengki dan hasud.
Dalam menjalankan ibadah puasa, kita dilarang untuk melakukan hal-hal yang bersifat batini yang berdampak pada batalnya puasa secara spiritual. Seperti, hasud, iri dan dengki,. Sekali saja dalam hati terbesit untuk dendam dan dengki apalagi hasud, maka puasa kita akan mendapatkan dahaga dan lapar saja.
Kita dalam beribadah tidak mungkin bisa menyamai apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat nabi sekaliber Abdullah Bin Amr Bin Ash, tetapi kita bisa mencontoh prilaku spiritual yang dilakukan oleh sahabat dari anshar tersebut, yang memang mereka bukanlah orang yang istimewa sehingga namanya pun tidak dikenal di kalangan sahabat, sehingga  didalam cerita itupun tidak disebutkan namanya. 
Puasa mendidik dan membimbing  kita  menuju jalan terpendek menuju surga.  Oleh karena itu mari kita manfaat puasa ini untuk meraih ridha Allah, dengan menghapus dendam, membersihkan hati dan meluruskan niat. Wallahu a’lam

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Arroudlotul Ilmiyah Kertosono dan kepala KUA kec. Rengel Kab Tuban

Post a Comment

0 Comments