About Me


Musibah Itu Ketetapan Allah Sebagai Sego Jangan Kehidupan


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Hari hari ini umat manusia sedunia sedang dilanda pandemi covid 19, termasuk lndonesia. Suda puluhan ribu yang terpapar dan juga yang meninggal.
Sebagai orang beriman kepada Allah Ta'ala, kita harus meyakini bahwa apa yang terjadi di langit (awan, hujan, petir, angin  topan dll) dan di bumi (banjir, gempa, tanah longsor, wabah dll) adalah karena ketetapan Allah Ta'ala. Allah Subahanhu Ta’ala berfirman  dalam Al Quran Surah Al Hadid ayat 22-23 sebagai berikut;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23

Artinya:“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (23).

Ayat tersebut merupakan resep yang sangat jitu dan mujarab yang diberikan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana kepada hambaNya sebagai bekal  dalam mengarungi  kehidupan di dunia hingga akhirat kelak. Resep tersebut hanya akan bermanfaat bagi hamba Allah yang beruntung mendapatkan keimanan, yakni setiap mukmin yang mampu menyikapi setiap nikmat, karunia hingga musibah yang menimpa dirinya disikapi dengan berkhusnudzan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta mampu menangkap hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Orang orang yang aqidahnya kuat dan lurus selalu meyakini bahwa musibah merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia apalagi bagi orang yang beriman, musibah merupakan satu keniscayaan untuk melihat potensi keimanan yang ada pada dirinya. Sebagaimana dalam Al-Qur’am surat Al Ankabut : 1-3, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الم (١)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)

“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”.

Melalui ayat ini Allah Ta’ala tegaskan, ujian merupakan kepastian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengukur kejujuran hamba-Nya, apakah hamba ini benar-benar memiliki keimanan yang paripurna atau hanya mengaku-ngaku saja, dan Allah pasti mengetahuinya.

Macam-macam Ujian

Ujian yang Allah turunkan pada setiap manusia berbagai macam bentuknya, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda dan jiwa serta buah buahan, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah: 155).

Bahkan macam-macam ujian itu tidak hanya terkait berbagai hal yang menyulitkan dan yang dibenci oleh manusia, tetapi boleh jadi Allah memberikan kenikmatan yang banyak bagi manusia itu juga sebagai bentuk ujian yang lain. Seperti halnya harta yang diperoleh, ilmu yang dimiliki, pangkat dan jabatan yang disandang juga berbagai kenikmatan lainnya. Hal itu Allah Ta’ala terangkan dalam firman-Nya;

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiya : 35).

Cara menghadapi musibah.

Kita harus tenang dan  sabar. Seperti dalam penghujung ayat 155 dalam surat Al Baqarah berikut ini,  Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Orang orang yang sabar itu jika mendapat musibah selalu mengembalikan pada Allah SWT, seperti  firmanNya:

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَا لُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ 

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 156)

 Orang orang yang bisa kendalikan dirinya dengan sabar maka Allah SWT akan memberikan rahmat dan petunjukNya padanya, seperti firmanNya:

اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

"Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 157)

Di samping sabar, sudah barang tentu kita harus berikhtiyar maksimal secara lahiriyah seperti secara medis kalau wabah, dengan harta benda jika ekonomi, secara budaya dan agama jika berhubungan dengan sosial dan akhlak dll.

Post a Comment

0 Comments