About Me


KIAT HIDUP MENGHADAPI PANDEMI COVID19 YG BERKEPANJANGAN


Oleh: dr. Fuad Amsyari, Ph.D

(Dosen Unair, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Dari banyaknya kematian yg datang bertubi-tubi oleh covid19 tanpa pandang bulu apa status sosial-politik & profesinya, termasuk pd profesi kesehatan yg diperkirakan paling faham ttg sehat, sakit, dan mati, maka sptnya sekarang ini saat yg pas untuk EVALUASI DIRI (Pola Pikir, Perilaku, Status-Kondisi). 

Setiap profesi memang memiliki resiko tersendiri dan jelas di saat ini  profesi kesehatan khususnya kedokteran klinis yg pekerjaannya  merawat individu sakit tampak paling nyata mendpt tantangan tertular covid19 dg resiko sakit & mati. Menghadapi resiko tertular covid19 ditengah badai pandemi itu marilah dihadapi tantangan tersebut dg 2 bentuk pendekatan keimanan & keilmuan yg benar secara simultan.

1. PENDEKATAN SUNNATULLAH EMPIRIS. 

Kita terapkan semua teori sain-teknologi kedokteran, kesehatan masyarakat, sosial, politik, dll unt melindungi diri & masyarakat dari tertular covi19. 

a. Sebagai individu penduduk perlu  upaya menguatkan perlindungan fisik serta  imunitas diri dg gizi yg cukup, olah raga ringan tapi rutin-teratur, hati yg tenang-sabar tdk bergejolak dipenuhi  keluhan, kekhawatiran. 

b. Sebsgai pengemban profesi kedokteran klinik yg berada di garda terdepan merawat penderita covud19 sangat mutlak diperlukan disiplin memakai APD & SOP sesuai tata laksana perawatan covid19,  disamping mengatur shift kerja yg memungkinkan bisa istirahat cukup mengembalikan kebugaran setelah kerja berat. 

c. Sebagai Pengemban Kebijakan Publik perlu membuat kebijakan berbasis menerapkan teori2 Kesehatan Masyarakat & Sosial-politik terkait wabah, seperti Herd Immunity, Upaya pengadaan vaksin & obat covid19,  Prevalence-Incidence Rate untuk mengukur resiko penularan dan kecepatan penularan penyakit, Perbaikan Kesehatan Lingkungan agar lingkungan bersih dari virus corona 19, Karantina & Social Distancing penduduk,  Keamanan masyarakat, Penyediaan kebutuhan hidup primer secara cukup bagi penduduk. 

2. PENDEKATAN SUNNATULLAH NON-EMPIRIS / GHOIB. 

Di luar penerapan saintek kedokteran-kesehatan masyarakat-sosial-politik dll perlu ada keyskinan & pemahaman mendalam bhw  selain keberadaan  dunia empiris itu di sekitar kita ada dunia ghoib yg berinteraksi dg dunia empuris kita. Bahkan dalam diri kita masing2 ada bagian ghoibnya yi RUH yg justru menjadi pengendali bagian biologis empiris manusia spt jantung, paru, otak   dll. Maka mari kita ajak Ruh kita untuk teguh beriman pd Allah SWT, Sang Pencipta Semesta dg CARA BERIMAN YG BENAR yi berserah diri TAKLUK SEPENUH HATI PADANYA (totally surrender) dan TAAT SETAAT-TAATNYA  melaksanakan SEMUA TUNTUNAN HIDUP (obedience completely) yg diajarkanNya melalui Nabi (tidak mengarang sendiri) dlm semua aspek kehidupan, yakni dalam: 

a. Ritual, seperti shalat, berdoa, puasa dll. 

b. Ahlaq-Budaya seperti amanah, kejujuran, bicara  santun, makan-minum yg halal,  berbusana sopan, hidup sederhana tdk glamor, peduli mereka yg lemah tdk egois, biass beramal sosial

c. Sosial-Politik seperti membangun pertemanan  & berorganisasi untuk kebaikan bukan untuk kejahatan, memiliki  Kepemimpinan oleh figur yg  beriman-bertaqwa dg benar, bukan oleh munafiq, dholim, jahil. Mengembangkan Kebijakan publik yg diridhoi Allah SWT sehingga mendatangkan berkah bagi seluruh  
Penduduk. 

d.  Syiar perjuangan mengajak-mengingatkan manusia ttg cara berpikir-berperilaku yg benar. Hidup ini tidak sebatas bisa nyaman di dunia empiris fana ini saja shg habis2an mencari 'kenikmatan-kenyamanan  (yg ternyata sangat SEMU singkat melintas sesaat-sesaat belaka di antara kegelisahan2 berkepanjangan) melalui mengumpulkan harta sebanyak bisa dg pola pikir bhw dg harta banyak maka hidup akan bahagia. 

Ringkasnya mari kita, apapun profesi & tanggung jawab sosial-politik masing2 di tengah pandemi covid19 ini teguh BERISLAM dg BENAR shg membawa manfaat bagi diri dan bisa membangun  Tatanan Sosial plural yg dirasakan adil-sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.Sudono&Tom Mas'udi/ed)

Surabaya, 22 April 2020

Post a Comment

0 Comments