About Me


CORONA SANG PEMBENAR


Oleh Murib Ilham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Harianindonesiapost.com Corona datang, cara Allah memberi pelajaran agar setiap perbedaan disikapi oleh umat islam dengan lapang dada dan tidak dengan bermusuhan, sebuah hikmah yang melegakan semua golongan, beribadahlah sesuai dengan kiyakinan masing masing tetapi tetap bersatu bersama menegakkan islam.

Sebab, ternyata berbeda pandang dan perbuatan, berbeda pendapat dan sikap ada kebenaranya masing masing sebagai berikut:

Ustadz : bersiturrahim itu harus secara fisik saling bekunjung, tidak digantikan HP. 
bermaaf maafan lewat HP
mengucapkan selamat lewat HP
mengucapkan bela sungkawa lewat HP
kirim salam lewat HP
kirim makananpun lewat HP, fotonya doang.
itu tidak islami

Netizen : kita hidup di era IT tadz, hidup serba praktis, kita manfaatkan kemudahanya yang penting tercapai tujuanya.

Corona datang, orang takut berjabatan tangan, orang takut bersilaturrahim....komonikasi, bersilaturrahim jadinya dilakukan lewat HP, benar kan kata netizen? Tidak apa apa lewat HP yang penting dilakukan dengan tulus.
Corona sang pembenar.

Salafi : wanita muslimah harus memakai cadar agar dapat dikenali identitasnya sebagai muslimah, tidak menimbulkan fitnah, dan dapat menjaga kehormatan diri dari godaan laki laki

Pendapat ini ditentang  keras dan dicemooh oleh sebagian umat islam bahwa cadar merupakan budaya bangsa Arab yang masuk ke Indonesi dan bukan bagian dari keislaman, oleh karenanya jika ingin membudayan cadar keluar saja dari Indonesia pindah ke Arab sana

Corona datang, semua pake cadar tanpa diperintah, malah keblabasan laki laki ikut bercadar.
Corona sang pembenar.

Muhammadiyah : seusai sholat berjamaah tidak perlu jabat tangan, tidak ada contoh dari Rasululloh, dihawatirkan salaman itu dianggap rangkaian dari sholat.

Inipun tidak lepas dari nyinyir, salaman kok dilarang, padahal salaman ajaran Rasululloh, bisa menghilangkan dendam kusumat di hati dan merontokkan dosa

Kini corona datang, tidak ada yang mau berjabatan tangan, takut... bener toh  Muhammadiyah,  ngono biyen maido, saiki dilakoni.
Corona sang pembenar.

NU : Sholat berjamaah ndak usah rapat rapat amat sampai nginjak nginjak kaki temanya, kita bersyukur syetan ikut sholat di celah celah shof kita.

Orang yang tidak setuju menggrutu, kyai nyleneh, ulama gak beneh, bukankah merapatkan shof bagian dari kesempurnaan sholat berjamaah, lagian sholat digoda syetan malah bersyukur

Kini corona datang, shofnya direnggangkan hingga 1 meter, bener juga kyai NU, mulo ojo ngosok disik, nek wis ngeniki piye?
Corona sang pembenar

LDII/DARUL HADITS : Bubaran sholat jum'at masjidnya dipel lagi, dukhawatirkan ada jamaah lain yang ikut sholat jum'at, sebab jamaah lain hukumnya najis (QS. 9 : 28)

Jamaah lain tentu tersinggung, marah dan menggunjing, dirinya dianggap anjing, kepet tidak pernah bersuci secara syar'i (menurut mereka)

Kini corona datang semua masjid bubaran jum'antan dipel lagi malah disemprot barang nganggo desinfektan, tiba e bener yo LDII selama ini ngepel masjide bola bali.
Corona sang pembenar

Peristiwa tersebut,  memberikan  i'tibar buat kita, seolah olah  Allah mengisaratkan bahwa setiap golongan, pendapat ada manfaat dan kebenaran masing masing yang tidak perlu dipertentangkan sebab akan berakibat pada saling curiga, permusuhan dan perpecahan yang akan merugikan islam dan umat islam, tetaplah berjalan di kaki sendiri tetapi bergandengan tangan untuk menggapai kemenangan.(Sudono Syueb/ed)


Probolinggo, 21 April 2020

Post a Comment

0 Comments