Virus Corona dan _Trigger_ Peningkatan Keimanan


Oleh : Dr. Amam Fakhrur

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Hakim Tinggi di PTA, Pontianak)

Harianindonesiapost.com Akhir-akhir ini telah terjadi gonjang-ganjing global, tatanan dunia  menjadi _ribet_ dan _ruwet_ , apalagi kalau bukan soal mewabahnya virus corona. Negara – negara di duniapun telah menjadikannya sebagai musuh bersama, bagai melawan  teroris yang  aksi-aksinya berjalan cepat dan sulit terdeteksi..

Orang yang terkena virus corona membuatnya terjangkit penyakit _pneumonia_ , infeksi yang menyerang jaringan dan kantong udara di paru-paru dan kemudian menempel di kantong pernafasan, kecepatan mutasinya sangat tinggi. Jelas,  virus itu sangat berbahaya dan bisa mematikan, terbukti telah menelan ratusan orang. Pertama kali  virus ini merebak di pusat kota Wuhan China, yang diduga berasal dari pasar _sefood_ , yang menjajakan sup kelelawar dan katak, kemudian menyebar kemana-mana.

Para dokter dan ahli kesehatan telah mencurahkan tenaga, bagaimana membuat formula obat agar penderita dapat sembuh dan sehat kembali. Langkah – langkah kebijakan oleh pemerintah sejumlah negarapun  dilakukan agar terbatasi penyebaranya. Mungkin pembaca telah mendengar bagaimana pemerintah memulangkan warga di kota yang ditengarai bermulanya penyebaran virus tersebut. Pemerintah Saudi mengambil kebijakan untuk menstop sementara masuknya para jamaah umrah dari sejumlah Negara.  Masjidil Haram dan Nabawi dibatasi jam operasionalnya. Tempat wisata dan keramaianpun diantisipasi untuk tidak menjadi lahan merajalelanya penyebaran virus itu. Tamu-tamu di sejumlah birokrasi pentingpun dideteksi terlebh dahulu tingkat kesehatannya. Dan sejumlah langkah kebijakan lain ditempuh oleh negara-negara di dunia untuk menghentikan, menangkal penyebarannya.

Tak seorangpun ingin kesehatannya menjadi terbelenggu karena suatu penyakit. Kesehatan adalah karunia Tuhan yang tak terhingga. Tetapi tak ada jaminan karunia besar itu tercerabut dan terangkat dari diri manusia. Kalau segala daya upaya dalam konteks teknis medis dan managemen penanganannya telah dilakukan, agar warga dunia tetap sehat, akan tetapi sesungguhnya pengobatan dan penanganan tidaklah boleh terbatas pada akal yang rasional, dengan bersikukuh dalam keangkuhan tanpa ada merasa terdapat campur tangan Tuhan. Lebih jauh upaya yang dilakukan seharusnya sekaligus menyandarkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT,  segala yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Segala kondisi dan keadaan manusia tidak dapat dipisahkan dengan dasar-dasar keyakinan akan ke-Tuhanan.

Mewabahnya virus corona, barangkali juga sebagai sinyal pengingat kematian, setelah  sekian lama manusia memproduksi _qaswatul_ _qulub_   ( hati yang beku ) dengan senang memelihara watak hedonisme  duniawi yang _overload_ , dan abai terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan. Tugas manusia di muka bumi, diantaranya adalah untuk memelihara, memakmurkan kehidupan bumi dengan tetap mengabdi kepada-Nya, Seluruh kejadian di muka bumi terdapat relasi antara Tuhan sebagai pencipta _( khaliq )._  Dan manusia sebagai yang diciptakan _( makhluk )._ Dalam al-Qur’an  surat an-Nahl, ayat 8, Allah SWT berfirman “ Dia mencipta apa yang kalian tidak ketahui “. Melalui ayat ini Allah SWT hendak mengingatkan manusia bahwa ada banyak makhluk yang diciptakan Allah di luar pengetahuan manusia sebelumnya, tak terkecuali virus corona.

Banyak musibah yang selanjutnya sebagai moment   untuk  menjadikan manusia introspeksi dan kemudian menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Disaat menyebarnya virus corona, sudah saatnya  menjadikan warga dunia tersadarkan untuk lebih ber-Tuhan, meningkatkan spiritualitas,  berbuat kesalihan “ tingkat dewa:”  dalam berbagai hal. Kesadaran itu hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang beriman kepadanya-Nya.

Saya kira tepat,  tragedi menyebarnya virus corona  kita jadikan _trigger_ , pemantik peningkatan  keimanan kepada Tuhan, Allah SWT. _Wallahu a’lam_ . ( Ponti, 11/3/20 ).

Post a Comment

0 Comments