Socialize

Nyai Dasima: Balada Istri Selir


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ternyata dalam sejarah, tidak hanya para Raja, Kaisar, Presiden dan Adipati saja yang punya istri simpanan, lebih dari satu. Para tuan tanah, para pengusaha dan para Bule Kaya yang tinggal di Nusantara ini juga punya istri simpanan.
Istri simpanan itu ada yang mengatakan budak, gundik atau dikenal juga dengan istilah lstri Selir. Ciri ciri perempuan yang bisa jadi istri selir itu antara lain masih muda, umur belasan tahun, cantik, lemah gemulai, masih perawan, kadang juga bahenol, dari kalangan rakyat biasa, dari desa dll.
Salah satu wanita lndonesia yang cantik, muda dan bahenol yang jadi istri selirnya Bule dari Inggris yang tinggal di Nusantara bernama Edward   adalah Nyai Dasimah, nama yang legendaris dan fenomenal. Nama yang banyak menginspirasi karya karya seni budaya, teramsuk perfilman.

Ketika jadi istri selirnya tuan Edward itu, nyai Dasima jadi orang kaya raya, hartanya melimpah. Hidup mewah bergelimang emas permata pemberian tuan Edward. 
Banyak yang terpesona dengan kekayaanya. Tapi banyak juga yang mengincar dan mau merampok hartanya.

Tetapi walaupun Nyai Dasimah tajir melintir selama jadi selirnya tuan Edward tapi jiwanya gelisah, bingung, gak tentram dan nyaris gila. Dia alami gegar budaya. Karena di kalangan orang orang Eropa dia tidak diterima karena pribumi totok. Dan di kalangan keluarganya, dia dianggap telah murtadz dan kafir karena telah kawin dengan orang kafir.
Kisah Nyai Dasimah ini jadi Legenda Selir yang memilukan.

Dilansir dari Wikipedia, Njai Dasima merujuk pada nama tokoh novel Tjerita Njai Dasima karya G. Francis tahun 1896. Seorang nyai Belanda yang kisah tragisnya sangat legendaris di Batavia. Ia berasal dari Bogor, hidup antara tahun 1805-1830. Perempuan cantik ini merupakan nyai (atau istri peliharaan) Tuan Edward, orang Inggris yang tinggal di Pejambon. Hubungan mereka membuat Dasima putus hubungan dengan pihak keluarganya, yang menganggap Dasima telah kafir karena kawin dengan Edward. Keluarga dan bangsanya menganggapnya amoral, tidak bermartabat.

Sebaliknya di kalangan Eropa tidak sepenuhnya mau menerimanya dan membuatnya sebagai bahan hinaan, apalagi Edward temyata hanya membutuhkan tubuhnya saja. Kedua keadaan ini telah membuat Dasima kehilangan pegangan hidup, kemudian datanglah Samiun sang juru selamat hidupnya. Pemuda Kwitang ini akhirnya berhasil menggaet Dasima. Ternyata Samiun datang hanya untuk menguasai harta Dasima, menguasainya untuk membayar utangnya yang menumpuk di tukang gadai. Dasima yang lari dari tuan Edward ke pelukan Samiun untuk mencari perlindungan dan cinta, temyata justru tertipu dan mendapat kemalangan. Ujung hidup Nyai Dasima berakhir tragis dan mati di Kali Cempaka Putih, dirampok suaminya sendiri dengan dibantu jawara Tanah Tinggi, Bang Puasa. Kisah tragis ini kemudian dibukukan oleh penulis belanda, G. Francis.

Nama ini juga dijadikan judul

Balada Nyai Dasima juga tela diangkat ke layar lebar beberapa kali seperti:

Njai Dasima (film 1929), adaptasi novel yang disutradarai Lie Tek Swie

Njai Dasima (film 1932), adaptasi novel yang disutradarai Bachtiar Effendi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel