Socialize

MUHASABAH KE-59: HAKIKAT BERIMAN KEPADA NABI & RASUL ALLAH SWT (bagian ke-12)


Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com 
بسم الله الرحمن الرحيم 

*23. Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin Dakwah*

Sebagai seorang Nabi dan Rasul Allah SWT, Nabi Muhammad SAW menjadi penyebar ajaran dan wahyu Allah SWT kepada seluruh umat manusia di dunia.  Kegiatan penyampaian wahyu dan ajakan beriman kepada Allah SWT biasanya dinamakan dakwah. Dan beliau melaksanakan fungsi dakwah ini lebih kurang selama 23 tahun. 

Para sejarahwan membagi periode dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ke dalam tiga tahapan. Dakwah tahap pertama dilakukan secara diam-diam, sembunyi-sembunyi, tertutup di lingkungan keluarga beliau sendiri, sanak famili, dan teman terdekat. Dakwah dengan cara ini berlangsung sekitar 3 sampai 4 tahun. 

Strategi dakwah seperti ini dilakukan karena Nabi Muhammad SAW sangat faham dengan karakter orang Quraisy. Mereka bersedia berperang dan mati untuk mempertahankan kayakinan dan kepercayaannya. Mereka akan menghukum dan menyerang orang-orang yang mencela kayakinan dan sesembahan mereka. Oleh karena itu, beliau memilih dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari ancaman dari masyarakat Quraisy yang dapat menggagalkan misi dakwah beliau. 

Dakwah diam-diam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama 3 tahun telah menarik belasan orang masuk Islam, seperti Siti Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mereka dikenal sebagai Penganut Islam Awal (As-Sabiqun Al-Awwalun). 

Pada tahapan dakwah kedua, memasuki tahun keempat kenabian dan kerasulannya, Nabi Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk menyampaikan Islam secara lebih terbuka. Dakwah ini dimulai dari keluarga beliau yang terdekat, sebagaimana diisyaratkan dalam QS Asy-Syu'ara' (26): 214-216

Sayangnya, dakwah terbuka ini kurang mendapatkan respon positif dari anggota keluarga besar beliau. Bahkan Abu Lahab, salah seorang paman dan besan beliau, menyatakan permusuhan secara terbuka dan menghasut anggota keluarga lain untuk menghalangi beliau menyebarkan ajaran Islam. 

Tanggapan masyarakat Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama, mereka yang langsung menyatakan beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka termasuk kelompok Muslim Awal (As-Sabiqun Al-Awwalun). Mereka ada yang berasal dari keluarga beliau, teman dekat, budak, dan lain sebagainya. 

Kelompok kedua, mereka menolak ajaran Nabi Muhammad SAW tetapi tidak melakukan aksi kekerasan, baik terhadap beliau maupun para pengikut beliau. Mereka menganggap beliau sama seperti pendeta Yahudi dan Nasrani yang mencoba mengajak para penyembah berhala untuk mengikuti ajarannya. Mereka tidak mau mengikuti beliau karena teguh memegang kepercayaan nenek-moyang mereka. 

Kelompok ketiga, mereka menolak apa pun yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Penolakan mereka disertai dengan sikap permusuhan terhadap beliau dan para pengikut beliau. Mereka juga menghasut masyarakat Makkah untuk tidak mengikuti ajaran dan ajakan beliau. Bahkan mereka juga melakukan serangkaian tindakan kekerasan yang menyakiti beliau dan para sahabat. Tokoh utama kelompok ini adalah Abu Lahab dan Abu Jahal. 

Kelompok keempat, mereka terdiri dari orang-orang yang bersikap abstain. Mereka ingin melihat perkembangan kelanjutan gerakan Nabi Muhammad SAW. Mereka bimbang, di satu sisi mereka meyakini bahwa beliau seorang yang jujur dan terpercaya (Al-Amin), tetapi di sisi lain mereka khawatir dengan keselamtan diri, keluarga, dan kaumnya. Mereka khawatir dikucilkan dan dimusuhi. Akhirnya, mereka memilih bersikap diam dan menunggu. Mereka juga tidak setuju dengan perbuatan teman-teman mereka yang melakukan kekerasan terhadap Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya, namun mereka tidak berdaya untuk menghentikannya. 

Pada tahapan dakwah ketiga, memasuki periode Madinah, Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara luas. Setelah kekuatan umat Islam mulai disegani di Jazirah Arab, dakwah Islam semakin dapat diterima.

Pada periode Madinah, Nabi Muhammad SAW mulai mengajarkan ritual keagamaan seperti shalat dan puasa, dan aturan sosial kemasyarakatan juga mulai diperkenalkan. Di periode ini ajaran Islam semakin disempurnakan. Dan sempurnanya ajaran Islam baru ditetapkan pada saat beliau sedang mengerjakan Wukuf di Arafah pada waktu Haji Wada' dengan turunnya wahyu terakhir sebagaimana terekam dalam QS Al-Maidah (5): 3.

_Wallahu a'lam_

Penulis adalah :
Wakil Ketua PCM Babat 
Anggota MPK PDM Lamongan 
Sekretaris MUI Kecamatan Babat 
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat 
Perwakilan Travel Umroh & Haji Plus PT *Tursina* _(Tur Silaturrahim Nabi)_

Senin, 21 Rajab 1441 H / 16 Maret 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel