MUHASABAH KE-58: HAKIKAT BERIMAN KEPADA NABI & RASUL ALLAH SWT (bagian ke-11)


Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com
بسم الله الرحمن الرحيم 

*22. Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin Keluarga Yang Harmonis*

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah struktur bangunan masyarakat. Ia dianggap pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat. Jika keluarga baik, maka masyarakat akan menjadi baik. Tetapi, apabila dalam suatu masyarakat banyak keluarga yang rusak, maka masyarakat juga akan menjadi rusak.

Keberhasilan seseorang dalam memimpin keluarga sering dijadikan patokan kesuksesan kepemimpinan. Dia belum dianggap sukses apabila keluarganya masih berantakan. Karena banyak sekali pemimpin yang sukses dalam karir dan bisnis, tetapi mereka gagal dalam memimpin dan membina rumah tangganya. 

Nabi Muhammad SAW merupakan uswah hasanah, teladan yang baik, rule model, dalam kepemimpinan keluarga. Beliau dikenal sebagai seorang ayah yang penuh perhatian kepada anak-anaknya, meskipun mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Misalnya, ketika Nabi Muhammad SAW akan berangkat Perang Badar, beliau berpesan kepada Utsman bin Affan agar tidak ikut berperang dan diminta menjaga istrinya, Ruqayyah, putri Nabi Muhammad SAW, yang sedang sakit yang kemudian meninggal dunia. Ketika beliau kembali dari Perang Badar, yang pertama kali beliau lakukan adalah pergi ke pusara putrinya tersebut bersama Siti Fathimah Az-Zahrah, putri bungsunya yang ketika itu berumur 20 tahun. 

Nabi Muhammad SAW juga seorang mertua yang pengertian. Satu pekan setelah beliau pulang dari Perang Badar, beliau mendorong Ali bin Abi Thalib untuk melamar Siti Fathimah secara resmi. Pada awalnya Ali bin Abi Thalib ragu karena dia merasa dirinya miskin. Tetapi, karena mengingat permintaan tersebut datang dari Nabi Muhammad SAW, akhirnya Ali bin Abi Thalib menyatakan kesediaannya. Beberapa bulan kemudian, Nabi Muhammad SAW juga meminta Utsman bin Affan untuk menikahi Ummu Kultsum, adik Ruqayyah. Utsman juga menerima permintaan beliau. 

Nabi Muhammad SAW juga seorang kakek penyayang. Beliau sering membawa kedua cucunya Hasan dan Husein ke masjid dengan menggendong di atas bahu. Ketika beliau berdiri dan membaca ayat-ayat dalam shalat, sang cucu tetap dalam gendongannya. Dan ketika beliau akan melakukan rukuk dan sujud, sang cucu diturunkan dan digendong kembali ketika beliau akan berdiri untuk rakaat berikutnya. 

Nabi Muhammad SAW juga seorang suami teladan. Seorang suami sangat terpuji apabila dia bersedia membukakan pintu rumah dan mobil untuk istrinya. Ini merupakan akhlak mulia yang dapat menumbuhkan sikap sayang dan perhatian dari seorang suami terhadap istrinya yang pada akhirnya akan dibalas dengan sikap hormat dan taat seorang istri terhadap suaminya.

Dalam sebuah Al-Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menceritakan hubungan harmonis Nabi Muhammad SAW dengan istrinya, Shafiyah binti Hayyi bin Akhtab, ketika naik unta. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, "Bahwasanya Nabi SAW duduk di sisi unta beliau. Kemudian beliau meletakkan lutut beliau, lantas istri beliau Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut Nabi SAW hingga dia naik ke atas unta."

Ini hanya contoh kecil bagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin Keluarga yang Harmonis. Masih banyak contoh lagi yang menunjukkan betapa harmonisnya kehidupan rumah tangga beliau bersama dengan anak, cucu, menantu, mertua, dan istri beliau.

_Wallahu a'lam_

Penulis adalah :
Wakil Ketua PCM Babat 
Anggota MPK PDM Lamongan 
Sekretaris MUI Kecamatan Babat 
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat 
Perwakilan Travel Umroh & Haji Plus PT *Tursina* _(Tur Silaturrahim Nabi)_

Ahad, 20 Rajab 1441 H / 15 Maret 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Post a Comment

0 Comments