MUHASABAH KE-56: HAKIKAT BERIMAN KEPADA NABI & RASUL ALLAH SWT (bagian ke-9)


Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com
بسم الله الرحمن الرحيم 


20. Sikap Allah SWT Terhadap Nabi Muhammad SAW

Menurut Al-Qur'an, Allah SWT memanggil para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan nama-nama mereka, seperti Ya Adam, Ya Musa, Ya Isa, dan lain sebagainya. 

Tetapi, terhadap Nabi Muhammad SAW, Allah SWT sering memanggil beliau dengan panggilan kesayangan dan kemuliaan, seperti Ya Ayyuhan Nabi (Wahai Nabi), Ya Ayyuhar Rasul (Wahai Rasul), atau dengan panggilan mesra, seperti Ya Ayyuhal Muddatstsir (Wahai Orang Yang Berkemul), Ya Ayyuhal Muzzammil (Wahai Orang Yang Berselimut). Meskipun ada ayat yang menyebut nama beliau, akan tetapi penyebutan nama tersebut disertai dengan gelar kehormatan beliau, seperti dalam QS Ali 'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fath (48): 29, dan Ash-Shaff (61): 6

Oleh karena itu, Al-Qur'an berpesan, "Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain." QS An-Nur (24): 63

Sikap Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW juga dapat dilihat dengan membandingkan sikapNya terhadap Nabi Musa AS. 

Nabi Musa AS bermohon agar Allah SWT menganugerahkan kepadanya kelapangan dada dan memudahkan segala persoalannya dengan berdoa, "Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku untukku." QS Thaha (20): 25-26 

Tetapi, Nabi Muhammad SAW memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa mengajukan permohonan. Allah SWT berfirman, "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?" QS Al-Insyirah (94): 1

Hal ini dapat disimpulkan bahwa orang yang diberi tanpa bermohon tentunya lebih dicintai dan dikasihi daripada orang yang bermohon.

Permohonan Nabi Musa AS adalah supaya urusannya dimudahkan oleh Allah SWT, sedangkan Nabi Muhammad SAW bukan saja sekedar urusan beliau dimudahkan olehNya, akan tetapi beliau sendiri yang dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulit dan rumitnya persoalan yang dihadapi beliau, dengan pertolongan dan bantuan Allah SWT, beliau akan dapat menyelesaikan dan mengatasinya. 

Karena Allah SWT sendiri yang menjamin dan menyatakannya kepada Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur'an, "Dan Kami mudahkan engkau ke jalan yang mudah." QS Al-A'la (87): 8

Mungkin saja suatu urusan telah mudah, namun karena satu dan lain sebab, seseorang tidak mampu menghadapinya. Tetapi, apabila seseorang telah mendapatkan kemudahan, meskipun sulit dan rumitnya urusan tersebut tetap akan terselesaikan dan tertuntaskan. 

Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di situ saja. Tetapi juga beliau sudah dijamin bahwa jalan yang beliau tempuh selalu dimudahkan oleh Allah SWT. 

Dari sini jelas bahwa apa pun saja yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW melebihi apa yang didapatkan oleh Nabi Musa AS. Karena beliau tanpa bermohon pun selalu memperoleh kemudahan berganda, sedangkan Nabi Musa AS baru mendapatkan anugerah kemudahan urusan setelah mengajukan permohonannya.

_Wallahu a'lam_

Penulis adalah :
Wakil Ketua PCM Babat 
Anggota MPK PDM Lamongan 
Sekretaris MUI Kecamatan Babat 
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat 
Perwakilan Travel Umroh & Haji Plus PT *Tursina* _(Tur Silaturrahim Nabi)_

Jumat, 18 Rajab 1441 H / 13 Maret 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Post a Comment

0 Comments