MUHASABAH KE-46: HAKIKAT BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT _(bagian ke-8)_


Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com
بسم الله الرحمن الرحيم 

*8.5. Keaslian dan Keotentikan Al-Qur'an*

Al-Qur'an mempunyai beberapa ciri dan sifat. Antara lain adalah bahwa ia merupakan kitab yang keaslian dan keotentikannya dijamin, dijaga, dan dipelihara oleh Allah SWT. QS Al-Hijr (15): 9

Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim dan Mukmin yakin dan percaya bahwa Al-Qur'an yang dibaca dan didengarnya saat ini sama dengan dan tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca dan didengar oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya 

Dan jaminan ini juga didukung dan dikuatkan dengan bukti-bukti, baik dari Al-Qur'an sendiri maupun dari kesejarahannya 

*8.5.1. Bukti-Bukti dari Al-Qur'an Sendiri*

Dr. Mustafa Mahmud, ilmuwan Mesir, dalam bukunya Min Asrar Al-Qur'an, menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur'an sendiri ada bukti-bukti dan jaminan-jaminan terhadap keaslian dan keotentikannya. Seperti huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surat Al-Qur'an merupakan jaminan keaslian dan keotentikannya. Tidak lebih dan tidak kurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai Al-Qur'an, kesemuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf Bismillahirrahmanirrahim, misalnya:

*Huruf qaf, yang merupakan awal dari QS Qaf (50), ada sebanyak 57 = 3 x 19
*Huruf nun, yang merupakan awal dari QS Al-Qalam (68), ada sebanyak 133 = 7 x 19
*Huruf ya' dan sin, yang merupakan awal dari QS Yasin (36), ada sebanyak masing-masing 285 = 15 x 19 

Angka 19 tersebut diambil dari pernyataan Al-Qur'an sendiri yang ada di QS Al-Muddatstsir (74) yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Qur'an 

*8.5.2. Bukti-Bukti Kesejarahan*

*8.5.2.1.* Nabi Muhammad SAW berusaha menghafal ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT lewat Malaikat Jibril AS. Beliau juga menggunakan sebagian besar malamnya untuk mendekatkan diri ke hadirat Allah SWT, dengan melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur'an secara tartil. Kemudian setiap tahun pada bulan Ramadhan, Malaikat Jibril AS selalu mengunjungi Nabi Muhammad SAW untuk menyaksikan Beliau dalam bertadarrus dan menghafal Al-Qur'an. Dengan perhatian dan upaya yang sungguh-sungguh, atas bimbingan Jibril AS dan jaminan Allah SWT, sehingga Nabi Muhammad SAW benar-benar menguasai Al-Qur'an dengan sempurna 

*8.5.2.2.* Setiap Nabi Muhammad SAW selesai menerima ayat-ayat Al-Qur'an yang baru diwahyukan, Beliau langsung membacakannya kepada para sahabat dan memerintahkan mereka untuk menghafal dan kepada sahabat-sahabat tertentu diperintahkan untuk menuliskannya di sarana-sarana yang memungkinkan pada waktu itu 

*8.5.2.3.* Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, atas anjuran Umar bin Khaththab RA, Al-Qur'an dikumpulkan dalam satu Mushhaf oleh panitia tunggal, yaitu Zaid bin Tsabit RA, dengan berpedoman pada hafalan dan tulisan para sahabat 

*8.5.2.4.* Pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA, pembukuan Al-Qur'an disempurnakan dengan menyusun surat demi surat sesuai dengan ketentuan Nabi Muhammad SAW dan menuliskannya dalam satu sistem penulisan yang dapat menampung semua qira'at yang benar. Sistem penulisan ini dikenal dengan nama Ar-Rasmu Al-Utsmani dan mushhafnya dikenal dengan nama Mushhaf Utsman  

*8.5.2.5.* Pada masa berikutnya, penulisan dan pemeliharaan Al-Qur'an selalu disempurnakan para Ulama sehingga lahir berbagai macam ilmu pengetahuan yang mendukung dan memperkuat pemeliharaan keaslian dan keotentikannya, seperti Ilmu Tajwid, Nahwu Sharaf, Khath, Ilmu Al-Qur'an, Ilmu Tafsir, dan lain sebagainya 

Al-Qur'an dijamin Allah SWT keaslian dan keotentikannya karena ia memang bersifat universal, berbeda dengan Kitab-Kitab Allah SWT sebelumnya yang hanya bersifat lokal untuk umat tertentu. QS Al-Furqon (25): 1, Al-Anbiya' (21): 107, Saba' (34): 28

__Wallahu a'lam

Selasa, 8 Rajab 1441 H/3 Maret 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Post a Comment

0 Comments