JANGAN JADI YANG KELIMA, ENGKAU AKAN CELAKA


Oleh: MASYKUR SARMIAN

Harianindonesiapost.com
بسم الله الرحمن الرحيم

*كن عالما او متعلما او مستمعا او محبا ولا تكن خامسا فتهلك*
رواه بيهقى

Nabi SAW bersabda :
*"Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka*."
                ( HR. BAIHAQI )

  *كن عالما*

1. *Jadilah engkau orang yang berilmu*, Jadilah orang 'Alim, Jadilah Ulama, Jadilah Ustadz-Ustadzah, Jadilah Dosen, Jadilah Guru, Jadilah Dokter- Insinyur - Ekonom - Politisi - Pejabat Sipil - Militer - Orang Karier, Profesional - Jadilah Imuwan, Jadilah Cendekiawan, Jadilah Penegak Hukum, Jadilah Motivator, Jadilah Inovator, Jadilah Kreator, Jadilah Sejarawan, Jadilah Budayawan dll. Singkatnya jadilah orang yang memiliki Ilmu Pengetahuan. 

*Subhanalloh...Sebuah motivasi yang luar biasa dari sang Motivator sejati yaitu Baginda Rasululloh SAW. Bukan sekedar motivasi biasa, tapi sebuah seruan yang mendidik kita mengambil peran utama dalam kehidupan ini. Menjadi pioner sejati, menjadi orang yang benar-benar bisa dipetik manfaatnya, memancarkan sinar dalam gelap gulita, menjadi suluh dalam keremang-remangan, menjadi corong dalam keheningan, menjadi penghibur dalan kesedihan, menjadi pengarah dalam dalam kebingungan, meringankan beban saat masalah menumpuk, menjadi penolong saat dibutuhkan --) semua ini hanya dapat dilakukan secara sungguh-sungguh oleh orang yang berilmu.*

 Kata pepatah arab *Faqidu syai la yu'thiy* ( orang yang tidak mempunyai apa-apa, tak akan dapat memberi ), bagaimana kita dapat berkontribusi maksimal dalam hidup menjadi orang yang bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain, bila kita tidak memiliki Ilmu, kita tidak atau kurang bisa secara optimal menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama. 

Bila tak memiliki ilmu tidak mungkin bisa melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Padahal kita sama-sama tahu, bila peran amar ma'ruf nahi munkar kita jalankan, itulah tiket untuk meraih kemenangan.


Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104)

*1.1. FADHILAH ORANG YANG BERILMU*

1.1.1. Orang yang berilmu akan ditempatkan dalam deretan Malaikat yang diagungkan-Nya, setelah Alloh SWT menyandarkan pernyataan-Nya kepada Dzat-Nya sendiri.

Allah SWT berfirman:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢا لْقِسْطِ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۗ 

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 18)

1.1.2. Orang berilmu sebagai tempat bertanya dan berhak menyampaikan pesan-pesan dan peringatan Alloh SWT. 

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَا لًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 7)

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَـكُمْ ثَوَا بُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَا لِحًـا ۚ وَلَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ

"Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 80)

1.1.3. Tidak sama antara orang berilmu ( derajatnya ) dengan orang yg tak memiliki Ilmu

Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَا لَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ

" Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 9)

1.1.4. Sebagaimana orang beriman, maka orang yang berilmu akan diangkat ( derajatnya ) oleh Alloh SWT.

Allah SWT berfirman:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

" Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

1.1.5. Orang berilmu tidak takut kepada siapapun kecuali hanya kepada Alloh semata

Allah SWT berfirman :

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ ا

" Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama."
(QS. Fatir 35: Ayat 28)

1.1.6. Orang berilmu memiliki kedudukan 700 derajat di atas orang beriman biasa, sebab keunggulan mereka salah satunya karena karena takutnya kepada Alloh SWT tersebut.

1.1.7. Orang berilmu akan dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi, termasuk para Malaikat. Ada pula hadits lain yang mengatakan, " Siapa saja yang dikehendaki Alloh menjadi orang baik, maka ia mulai diberi pemahaman  dalam urusan Agama (ilmu).

1.1.8. Orang berilmu bila wafat, pasti duka mendalam akan sangat terasa terutama di kalangan orang yang telah mendapatkan pengaruh dari Ilmunya, bahkan akan menjadi pertanda akan makin dekatnya hari kiamat.
Sabda Nabi : " *Di antara pertanda Kiamat ialah hilangnya ilmu."*                    
                  ( HR Abu Dawud )


1.1.9. Orang berilmu walau sudah di alam kubur akan digaransi terus dapat kiriman pahala yang mengalir  karena kebaikan dan kesungguhannya selama hidup di dunia.

Sabda Nabi : *" Jika seorang insan wafat, terputuslah semua amalnya kecuali 3 hal, Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang terus mendoakan orang tuanya"*

                 ( HR. Tirmidzi )


1.2. Dari beberapa ayat dan hadits  di atas terkonfirmasi betapa tinggi derajat orang berilmu pengetahuan tersebut.

1.2.1. Pertanyaannya adalah Ilmu pengetahuan seperti apakah yang menjadikan pemiliknya akan diangkat derajatnya setinggi itu di hadapan Alloh SWT ?

1.2.2. Adapun Ilmu yang dapat meninggikan derajat hamba di sisi Alloh adalah *Ilmu yang membuat pemiliknya merasa takut hanya kepada Alloh. Lewat ilmunya makin mantap Ketauhidannya. Dengan Ilmunya makin menguatkan Ibadah kepada Alloh SWT, secara benar. Dengan Ilmunya dapat memahami perintah dan larangan-Nya. Juga  menopang upaya memperbaiki kualitas spritual, mental dan intelektualnya serta memperbaiki pesona Akhlaq lewat teladan Baginda Rasulullah SAW*.

1.2.3.Tak terkecuali ilmu Keduniaan ( pandangan umumnya orang ) yang berguna dan memberi manfaat bagi sesama makhluk dan tak merugikan lainnya. Misalnya Ilmu Kedokteran, Ilmu Kesehatan, Ilmu Bumi, Ilmu Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Sejarah, Budaya, Hukum dan lain-lain. Yang digunakan secara benar sesuai dengan ketentuan Alloh dan membuat pemiliknya makin dekat dengan-Nya serta dekat dan menebar manfaat kepada sesama.

1.2.4. Jadi jelas mengapa Beliau tekankan umatnya harus berilmu, karena orang yang berilmu lalu mendedikasikan Ilmunya untuk kemashlahatan umat, maka ilmu itu akan menjadi cahaya yang menerangi sekelilingnya. Tanpa cahaya manusia akan hidup dalam kegelapan, tidak tahu kemana arah tujuan kehidupannya.

1.2.5.Ilmu ini akan menyinari tidak saja bagi manusia saja tapi untuk semua makhluk. Benar bahwa *_al-ilmu nuurun_* (ilmu adalah cahaya). Ilmu adalah cahaya yang menerangi semesta. Ia menjadi fondasi dasar kehidupan manusia. Karena dengan ilmu lahir kebijaksanaan dan lewat ilmu kita dapat berbuat apa saja dengan panduan yang jelas, sehingga dengan ilmunya bisa berhati-hati tidak sembarangan, semua ada perhitungannya, bahkan untuk melakukan sesuatu perlu dibuat perencanaan, perkiraan dan forcasting.

 Tentu akan sangat berbeda hasil suatu pekerjaan yg dikerjakan dengan ilmu dan perencanaan dengan pekerjaan sporadis yang cenderung serampangan. Sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan perencanaan yang matang tentu akan memuaskan hasilnya.

1.2.6.Itulah sebabnya Baginda Rasululloh jauh-jauh hari menyuruh Umatnya untuk mencari Ilmu kemanapun, walau harus ke negeri China. 
Kenapa ke China, karena saat itu memang China dikenal sebagai pusat Ilmu, ilmu kebijaksanaan tentunya.

1.2.7.Ilmu Pengetahuan juga menjadi sumber kebahagiaan hidup manusia di seluruh jagad raya ini. Sebab itu pandanglah orang yang lebih tinggi ilmunya dari pada kita, pelajarilah dan teladani hidupnya agar jalan yg kita lewati dalam hidup ini mampu menghantar kita menuju sukses lahir batin.

1.2.8. Orang yang berilmu akan diperhitungkan oleh orang lain dan akan dihormatinya, terlebih-lebih bila ia bisa membawa dirinya dengan akhlaq terpuji dan budi yang mulia. Orang berilmu yang punya kapasitas dan sabar perangainya insya Alloh tak pernah sengsara hidupnya, Alloh akan jamin rizkinya  terus mengalir, bighoiri hisab.

*٢. او متعلما*

*Atau jadilah orang yang menuntut Ilmu.* 

2. Jadilah Mahasiswa, Jadilah Pelajar, jadilah orang yang belajar. Jadilah Santri, Jadilah Murid. 

2.1. Pada bagian kedua dari sabda Rasululloh ini adalah seruan agar kita menjadi muta'alliman, orang yang belajar jika belum mampu.menjadi orang berilmu.

Memang prioritas pertama adalah seruan menjadi orang 'alim. Bila tidak mungkin menjadi orang alim karena secara keilmuan masih terbatas dan belum luas. Maka menjadilah orang yang belajar / muta'allim. Mengapa  ini distressing oleh Rasululloh, karena posisi orang yang belajar ( muta'allim ), menempati posisi yang strategis dan satu langkah lagi akan menjadi 'alim asal tekun belajar dan sabar.

*2.2. KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU*

*Ibnu Rajab Al-Hambali dalam bukunya, Jami'ul Ulum wal Hikam* menulis berbagai keutamaan para penuntut ilmu antara lain sebagai berikut :

2.2.1 Orang yang menuntut Ilmu sedang membuka jalan menuju surga.

Sabda Nabi SAW :

*من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا الى الجنة*

*Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.*
                           HR. Muslim

Adapun yang dimaksud Alloh akan memudahkan jalan menuju surga adalah

*Pertama*, dengan menempuh jalan untuk mencari ilmu, Alloh akan memudahkannya masuk surga

*Kedua*, menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Lewat hidayah inilah yang mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga.

*Ketiga*, menujtut sesuatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengannya akan mengantarkan pada surga.

Seperti kata sebagian Ulama ketika suatu ilmu diamalkan,

*من عمل بما علم اورثه الله علما ما لم يعلم*

*Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Alloh akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui*

Allah SWT berfirman:

وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ 

"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk."
(QS. Maryam 19: Ayat 76)

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَا دَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰٮهُمْ تَقْوٰٮهُمْ

"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka."
(QS. Muhammad 47: 17)

*Keempat* : Dengan ilmu.Alloh akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati Shirotol mustaqiim.

Ibnu Rojab menyimpulkan, *Menuntut ilmu itu jalan paling ringkas menuju Surga.*

2.2.2. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya buat penuntut Ilmu.

Rasululloh SAW bersabda :

*"Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayap mereka kepada para Pencari Ilmu, sebagai pertanda  ridha dengan usaha orang-orang itu."*
HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim

2.2.3. Orang yang belajar adalah orang yang lebih baik dari dunia dan seperangkat isinya.

Rasululloh SAW bersabda :

*"Seseorang yang mempelajari satu Bab dari suatu Ilmu masih jauh lebih baik nilainya daripada dunia dan isinya"*
               ( HR. Ibnu Hibban )

2.2.4. Orang yang belajar akan mendapat pahala.

Rasululloh bersabda :

*"Ilmu itu laksana sebuah gudang, dan kuncinya pembukanya adalah bertanya. Sesungguhnya ada pahala bagi 4 golongan manusia, yaitu orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengar dan orang yang suka dengan kondisi mereka bertiga."*
                  ( HR Abu Nu'aim )

2.2.5. Orang yang menuntut ilmu lebih baik dari sholat sunnah seratus rakaat.

Dari Ibnu Abdul Birri, Rasululloh SAW bersabda :
Sesungguhnya orsng yang pergi mempelajari satu Bab dari.Ilmu, ia lebih baik dari orang yang melakukan sholat sebanyak seratus rakaat.  AL-HADITS

2.2.6. Orang yang menuntut Ilmu sama nilainya dengan berjihad.

Karena menuntut ilmu adalah upaya memberantas kebodohan, inilah salah satu alasan mengapa orang yang berilmu dianggap sama dengan berjihad di jalan-Nya, karena belajar dianggap sebagai langkah berperang melawan kebodohan

*٣. او مستمعا*

*Atau jadilah orang yang mendengarkan Ilmu*

3.1.Pada bagian ketiga ini Baginda Rasululloh katakan,
Kalau Engaku tidak bisa menjadi orang Alim dan  menjadi orang yang aktif menuntut ilmu hendaklah engkau menjadi orang yang mau mendengarkan saat ilmu disampaikan. 

Menjadi mustami' itu selain mendapatkan pahala juga akan mendapatkan ketentraman hidup yang luar biasa.

Menjadi mustami', pendengar yang baik bukan ketrampilan yang sederhana, ini gampang - gampang susah, membutuhkan mental yang prima dan siap. Ketrampilan mendengar perlu dipelajari sebagaimana kemampuan berbicara yang baik. 

Bila ada pelatihan Public speaking yang biasanya diikuti oleh peserta yang membludak,mestinya juga diikuti hearing skill training untuk menopang suksesnya  Public speaking ini. 

Mengingat suksesnya orang dapat berbicara di depan publik karena terdapat orang yang menjadi pendengar yang baik pula.

3.2. Seorang pakar komunikasi mengatakan bahwa mendengar merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Bahwa jika seseorang ingin menjadi pembicara yang hebat maka dia harus menguasai cara mendengar yang hebat juga karena itu satu paket.

*Mengapa* ? Karena aktivitas mendengar itu bukanlah suatu kegiatan biasa yang tidak perlu dipelajari, justeru sebaliknya, seseorang mesti bersungguh-sungguh mempelajarinya dan memiliki sikap mendengar sebagai bagian dari skill dan keahlian seseorang.

Selain skill dibutuhkan agar menjadi pendengar yang baik juga tidak kalah pentingnya adalah punya mental yang baik, kesabaran dan perhatian yang fokus. Bahkan memiliki mental sebagai pendengar mestinya melekat menjadi kepribadian seseorang, terutama  mereka yang mengambil profesi sebagai Pembicara Public, Ulama, Ustadz, Pejabat, Dosen, Guru, Instruktur, Trainner, Pelatih, Sales, Dokter, Costumer Service dan lain - lain.

3.3. Karena sejatinya mendengar  itu berarti memberi kesempatan orang lain untuk mengungkapkan isi hatinya, kemampuannya untuk berpendapat di suatu forum komunikasi. Menyimak dengan baik ketika orang lain berbicara maka akan tercipta suasana lingkungan yang dinamis dan kolaboratif sehingga muncul potensi yang terpendam secara individu. Dan suasana seperti itu juga kita butuhkan saat kita menjadi pembicaranya.

 Insya Alloh pendengar yang baik itu akan dikesan orang dan membuat kita makin dihargai orang lain. Karena pembicara atau minimal lawan bicara merasa kita hargai. Jadi jelas ada hubungan benang merah antara ketrampilan mendengar dan rasa hormat saling berkaitan dalam proses sosial.

*Skill mendengar ini sungguh sangat efektif kita pelajari bila mau secara khusus menceburkan diri dalam majelis-majelis ilmu, selain ilmu akan di dapat juga ketenangan dan kedamaian hati, kita akan perolehnya, Subhanalloh*.

3.4. Salah satunya cara mengasah ketrampilan menjadi pendengar yang baik yang otomatis mendapat kedamaian hati adalah mengikuti Majelis Ilmu, ketika Al-Qur'an ditilawahkan. Saat Hadits Rasululloh diajarkan. Akan kita rasakan kenikmatan dan kedamaian hati yang dahsyat dibanding kita berada dalam keramaian lainnya.

Rasululloh SAW bersabda :

*وما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم الا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملاءكة وذكر هم الله فيمن عنده*
 رواه مسلم

*"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh, yang membaca Kitabullah dan saling mengajarkan sesamanya, melainkan akan turun kepadanya sakinah ( ketenangan ). Akan di naungi rahmat, akan dikelilingi para Malaikat dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya."*

3.5. *Keutamaan menjadi Pembaca dan mustami' atau pendengar ( Al-Qur'an ) yang baik, menjadi sebab turunnya rahmah, kasih sayang dan hadirnya Malaikat.*

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا قُرِئَ الْقُرْاٰ نُ فَا سْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَ نْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 204)

3.6. Ketahuilah Baginda Rasululloh adalah seorang pendengar yang baik sekali, bahkan suatu ketika memanggil Ibnu Mas'ud untuk beliau dengar alunan Al-Qur'an indahnya. Kata Baginda Nabi,  *"Wahai Ibnu Mas'ud, silahkan bacakan Al-Qur'an untukku."* lalu Ibnu Mas'ud mengatakan :

*يا رسول الله ، اقرء عليك  ، وعليك انزل ؟*

*Ya Rasululloh, saya membaca Al-Qur'an di depan Engkau, padahal Al-Qur'an diturunkan kepada Engkau ?*

Nabi SAW menjawab :

*فاءنى احب ان اسمعه من غيري*

*Sungguh aku senang mendengar Al-Qur'an dari selainku*

Dan apalagi suara Ibnu Mas'ud sangat merdu.

Lantas Ibnu Mas'ud membacakan Surat Annisa hingga sampai ayat 41, dan didapati Baginda Nabi menangis terseduh dipenghujung ayat tersebut.
( HR. Bukhori )

*٤. او محبا*

*Atau jadilah orang yang mencintai Ilmu*

4.1.Bila seseorang tidak ditaqdirkan menjadi orang yang berilmu, juga bukan penuntut Ilmu dan bukan pula pendengar Ilmu. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor kesempatan dan peluang yang tidak ada, adakalanya dulu sejak kecil sudah tertarik ikut orang bekerja dan kebetulan tidak dibiasaan belajar, juga mendengarkan Ilmu. 
Masih terdapat peluang untuk tetap dalam kebaikan. 

Kata Baginda Rasululloh, jadilah orang yang mencintai Ilmu. Caranya, banyak sekali mengekspresikan kecintaan pada Ilmu ini, antara lain menjadi donatur sumber-sumber dan pusat keilmuan. Misalnya membantu Masjid,  Yayasan- Yayasan, Lembaga Pendidikan Formal, Pondok Pesantren, Majelis-Majelis kajian Keilmuan, Panti Asuhan dan lain sebagainya.

4.2. Para pecinta Ilmu memiliki ciri-ciri antara lain :

4.2.1. Mencintai sumber-sumber Ilmu seperti Ulama, Habaib,Kiyai, Dosen, Guru, Ustadz, Cendekiawan, Intelektual dan lain-lain.

4.2.2. Mencintai Pusat - pusat Ilmu Pengetahuan. Seperti Pesantren, Kampus, Sekolah, Masjid, Lembaga Kursus, Majelis Ta'lim dan lain-lain.

4.2.3. Mengarahkan anak cucunya untuk dapat sekolah dan nyantri di Pondok Pesantren atau lembaga-lembaga yang memiliki orientasi masa depan yang jelas, yang menjamin teraihnya kebahagiaan dunia dan akhirat.

4.2.4. Membangun hubungan dan gemar silaturrahim dengan Shohibul Ilmi antara lain Ulama, Kiyai, Ustadz, Habaib, Dosen, Guru, Intelektual, Cendekiawan dan lain-lain.

4.2.5. Gemar menyampaikan wasiat keilmuan kepada anak cucunya. Seperti yang dilakukan oleh Mush'ab bin Zubair RA ketika  bertausyiah kepada anaknya sebagai berikut :

*"Wahai anakku, tuntutlah Ilmu karena Ilmu akan menjadi keindahan jika kamu memiliki harta, dan ilmu akan menjadi harta jika kamu tidak memiliki harta."*

4.2.6. Menanamkan visi keilmuan kepada anak cucunya. Seperti yang dilakukan oleh *Ali bin Abi Tholib kepada generasi, sebagaimana dalan kutipan Abu Bakar Jabir Al-Jazairi*, 

 " *Ilmu lebih utama daripada harta, karena 7 alasan."*

A. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan dari Fira'un ( Qorun )

B. Ilmu tak akan berkurang bila dibagi kepada orang lain, sedangkan harta akan berkurang bila dinafkahkannya.

C. Harta perlu dijaga, sedangkan ilmu akan menjaga pemiliknya.

D. Jika seseorang meninggal dunia hartanya pasti ditinggalkan, sedangkan ilmu akan melekat dan dibawa terus oleh si mayat.

E. Harta akan dapat dicapai oleh mukmin dan kafir, sedangkan ilmu hanya dicapai oleh orang mukmin.

F. Semua orang memerlukan seorang yang berilmu yang mengetahui urusan agama, sedangkan mereka tak.selalu memerlukan si pemilik harta.

G. Ilmu akan menguatkan seseorang dalam menyeberangi shirothol mustaqim, sedangkn harta akan menghalanginya

*٥.ولا تكن خمسا فتهلك*

*Dan janganlah menjadi yang kelima, maka kalian akan celaka*.

5. Subhanalloh, betapa indahnya kepribadian Rasululloh SAW, hingga tidak mau menjelaskan Laqob ( sebutan ) yang kelima ini.
Padahal ini adalah kunci dari pembahasan kali ini.

Beliau mewanti-wanti jangan menjadi yang kelima, lalu yang kelima itu ( menjadi ) apa ? Rasululloh tidak menjelaskannya, kitalah yang mesti berfikir secara mendalam.

*Yang pasti beliau tidak memperkenankan kita jadi yang  ke lima (5) ini*, 

berilmu tidak, pemburu ilmu juga bukan, pendengar ilmu juga apalagi, mencintai juga tidak. 

Dengan kata lain seakan-akan Baginda Rasululloh mengatakan janganlah menjadi orang yang bodoh ( maaf ), sudah bodoh, tidak juga mau belajar, enggan menjadi mustami', tergolong ga suka dengan ilmu dan orang berilmu.

Sekali lagi :
*Janganlah menjadi orang yang kelima, sudah tidak berilmu, belajar malas, mendengar tidak mau, mencintai Ilmu dan orang berilmu oga...* ini benar-benar celaka dua belas.

Yang ada justeru, hari-hari kerjaannya menepuk dada, membully Ulama, Ustadz, Dosen, Guru, Intelektual, Cendekiawan dan bahkan ada sekelompok oknum yang kerjaannya mencari-cari kesalahan orang lain dan  menghalang - halanginya  dari jalan kebenaran, Naudzubillah.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَآءَ النَّا سِ وَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 47)

5.1. *Ancaman bagi orang yang menghalangi Dakwah*

5.1.1.  Sungguh dahsyat ancaman bagi orang yang menjadi penghalang Dakwah, akan disiksa dengan azab yang pedih

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَا لْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّا سِ سَوَآءً ٭لْعَا كِفُ فِيْهِ وَا لْبَا دِ ۗ وَمَنْ يُّرِدْ فِيْهِ بِاِ لْحَـادٍ بِۢظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَا بٍ اَ لِيْمٍ

"Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan dari Masjidilharam yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 25)



وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًا  ۗ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَا بٌ مُّهِيْنٌ

"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan."
(QS. Luqman 31: Ayat 6)


اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ صَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ قَدْ ضَلُّوْا ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang -halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 167)

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَظَلَمُوْا لَمْ يَكُنِ اللّٰهُ لِيَـغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَـهْدِيَهُمْ طَرِيْقًا ۙ 

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus),"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 168)

اِلَّا طَرِيْقَ جَهَـنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ وَكَا نَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا

"Kecuali jalan ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan hal itu (sangat) mudah bagi Allah."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 169)

5.1.2. Sekali lagi jangan jadi yang kelima apalagi harus menjadi penghalang Dakwah dan Kebenaran dalam hidup ini. Karena makin dihalangi Dakwah dan Kebenaran makin eksis dan terus berlangsung hingga akhir hayat nanti. Alloh akan selalu menjaga dan terus menolongnya sampai kemenangan Islam dan kemulyaan hanya milik-Nya semata.(Sudono Syueb/ed)

Wallohu a'lam bish-showaab

Post a Comment

0 Comments