Isteri Selir, Kopi Selir dan Kemerdekaan


Catatan :  Dr. Amam Fakhrur

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Hakim Tinggi PTA, Pontianak)

Harianindonesiapost.com Konon dahulu para raja atau Sultan  di tanah jawa, selain mempunyai isteri resmi yang maksimal berjumlah empat, juga mempunyai isteri selir.

Isteri resmi dan selir mempunyai kedudukan yang berbeda. Isteri resmi tentu istimewa di mata raja, dari mulai pemenuhan hak keseharian sampai soal anak hasil keturunan yang akan mewarisi tahta sang raja.

Berbeda dengan isteri resmi, Isteri selir bisa diperoleh semau raja setelah dilakukan investigasi  tengah-tengah warga.Orang tua tak bisa menolak  bila anak perempuannya diperisteri   selirkan  raja. Atau malah bangga, karena keturunan yang dilahirkan nanti  bukan sembarang keturunan,  tetapi anak raja, bangsawan yang berdarah biru. Meski anak yang dilahirkan tidak secara otomatis dapat mewarisi tahta raja  selama masih ada anak dari isteri resmi, tetap saja merupakan kebanggan. Siapa yang tak bangga ketika itu,  menjadi keluarga bangsawan.

Karakter isteri selir itu lebih totalitas, pasrah _bongkokan_  kepada raja sebagai suami. Antar selir berlomba untuk menarik pesona  raja, baik dari 
tata sosial dan daya seksual raja. Mereka tidak akan menjadi racun sosial keluaga dan tak meledakkan bom kebencian. Pokoknya soal layanan sosial dan kamar, luar biasa dech...Mereka apa adanya, asli memberi yang terbaik untuk sang raja.

Soal selir, di perkampungan-perkampungan jawa, termasuk di Banglades ( Bangsa Lamongan Ndeso), Laren, kampung saya, selir tidak hanya dinisbatkan kepada isteri, tetapi juga kepada kopi, kopi selir namanya. Secara terminologis kopi selir adalah kopi asli tanpa campuran apapun, entah berjenis Arabica atau Robusta atau jenis lainnya. Tidak seperti kopi yang banyak beredar di pasaran , telah banyak dicampur unsur-unsur lain.

Banyak kedai menawarkan sajian kopi selir. Ia menawarkan kenikmatan, kelezatan bagi pecintanya. Bahkan ngopi selir telah menjadi ideologi dan simbol ke _eligatiar_ an, tidak hanya soal nikmatnya saat _menyruputnya_ .Saya sendiri memang sering ngopi, dan merasakan nikmatnya kopi selir. Sedari kecil, telah merasakan nikmatnya kopi hasil _deplokan_ ( tumbukan ) mbok Kem ( wanita tuna netra yang ikut orang tua saya) . Juga sekarang entah di rumah atau di warung - warung.

Saya tidak dapat mengukur  keaslian totalitas isteri selir, apalagi isteri selir statusnya dinomersekiankan di antara isteri lain, tidak mutlak sebagai isteri sebagaimana tujuan perkawinan. Apakah para selir itu merdeka dan benar- benar bahagia atau semu. Yang jelas raja senang layanan isteri selir yang bertotalutas. Adapun keaslian kopi selir yang membawa kenikmatan adalah kenikmatan  yang menghasilkan kelezatan dan kesenangan bagi pecintanya.

Isteri selir dan kopi selir yang totalitas  dan asli itu telah melahirkan kenikmatan
 Tapi itu kenikmatan   dunyawi yang sesaat. Ada keaslian yang  memerdekakan dan membahagiakan diri, yaitu keaslian manusia  saat diciptkan Tuhan. Aslinya manusia adalah beriman kepada-Nya. Hanya lingkungan sosial, ambisi pribadi, berfikir jangka pendek yang membuatnya terbelenggu  oleh sesama makhluk ciptaan-Nya, sehingga  tidak merdeka.

Bagaiman dengan kita, masih menjadi manusia yang asli..? Atau   Tuhan secara perlahan telah kita sisihkan...? Yang tahu jawabnya adalah diri kita sendiri. Manusia yang tidak dalam keasliannya adalah tidak merdeka dan tidak bahagia.(Sudono Syueb/ed)
 __Wallahu a'alam.__ ( Supadio - Juanda, 7/3/20 ).

Post a Comment

0 Comments