Antara Ice Man dan Ashabul Kahfi


Catatan : Dr. Amam Fakhrur

(Alumni Ponpes YTP dan Hakim Tinggi PTA, Pontianak)

Harianindonesiapost.com Ki  tergambar sebagai sosok yang  sudah teruji dengan skill dan ketrampilan perangnya, ia sukses sebagai salah seorang tim pengaman raja. Seperti biasanya, ketika suatu dalam perjalanan raja , Ki dengan lahir  batin mengamankan raja , dari segala gangguan dan keamanan. Di tengah perjalanan ada Sao yang bermaksud membunuh raja. Ki tidak tinggal diam, ia harus  tarung dan duel dengan Sao.

" _Tyang,..tyang,.tyang..“_ 
terdengar bunyi nyaring tumbukan pedang keduanya. Tumbukan pedang keduanya juga sampai  memercikkan kilatan  api. Sesekali Ki terdesak, tersudut dan bahkan tertindih ke bawah,namun ia berhasil membalikkan keadaan, kemudian  giliran Sao yang tertekan dan tersudutkan. Saling menyerang silih berganti, Di sengitnya duel antara Kim dan Sao dan  belum jelas siapa yang memenangkan pertarungan itu, turun badai salju yang membuat keduanya tertimbun dan terkubur dalam salju. Setelah 400 tahun tertimbun salju, dan setelah salju mencair,  aneh bin ajaib, Kim dan Sao bangun dan bangkit. Keduanya bangun dan bangkit dari timbunan salju, di tengah perabadan yang sangat jauh berbeda. Ia sempat melanjutkan pertarungan yang 400 tahun silam terhenti.

Itulah  film  berdurasi 90 menit yang saya nonton di tahun 80 an, di sebuah layar lebar gedung bioskop. Ceritera  di salah satu  dinasti Cina,  era 5000 tahun silam. Sungguh saya benar-benar _mentelengi_ layar bioskop, seolah terhipnotis  alur cerita dari awal sampai akhir, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Memang di tahun 1980 an saya sering  turut _grudak gruduk_ diajak  rekan yang lain ,  keluar masuk gedung bioskop.Mungkin karena tidak terlalu  hobby, seringkali saat nonton film di gedung bioskop, saya tertidur pulas, lucunya baru terbangun setelah dibangunkan salah seorang rekan, di saat pemutaran film sudah usai. Hal itu tidak satu atau dua kali terjadi, tetapi seringkali.

Selain karena _action_ aktor yang apik dan penyajian nuansa komedi, mungkin  karena saat nonton pikiranku berselancar tentang kisah Ashabul Kahfi yang termuat dalam al-Qur’an lah yang membuat saya fokus ke alur cerita film itu.  

Dikisahkan Dalam al-Qur’an surat al-Kahfi, ayat 9 – 26, terdapat  7 kisah senada dengan kisah tersebut di atas. Dikisahkan dahulu ada raja yang bernama Decius, semula rakyatnya yang beriman kepada Allah SWT,  kemudian ia memaksa  rakyatnya untuk tidak beriman kepada-Nya, dengan berbagai cara Decius memaksakan kehendaknya, ancaman dan kekerasanpun dilakukan. 

Nyaris semua rakyat mengikuti kehendak Decius, namun ada tujuh pemuda yang bersikukuh dengan keyakinannya. Dengan cara apapun Decius tak mampu melulihkan keimanannya. Tujuh pemuda bahkan saat dipanggil ke istana untuk mendialogkan tentang keyakinannya, mereka justeru _berhujjah_ ( berargumen ) yang mematahkan kehendak sang raja, Karena raja tetap memaksa, maka tujuh pemuda mengambil keputusan bagaimana tetap dalam keimanan, namun terhindar dari ancaman dan siksa. Meraka rela mengasingkan diri dan bersembunyi di dalam suatu gua sampai akhirnya tertidur di dalam gua selama 309 tahun. Mereka  terbangun, mereka menuju ke kota dan terkejut dengan peradaban yang dirasa asing dari lingkungannya 309 tahun lalu. Dan mereka mendapati raja yang berkuasa ketika itu sudah beriman kepada Allah SWT.

Memang Ice Man hanyalah sebuah film yang fiktif yang diproduksi oleh seoang  produser, sedangkan kisah Ashabul Kahfi adalah kisah yang dinarasikan oleh Tuhan sebagai wahyu yang tertulis dalam kitab suci al-Qur’an, namun saya kira di kisah keduanya terdapat nilai - nilai yang luhur.

Ki adalah cermin sosok yang setia dengan tugas mulia sebagai pengawal seorang raja, dalam situasi dan kondisi apapun ia telah berkomitmen untuk menjaga kemanan dan keselamatan sang raja, meski harus nyawa yang dipertaruhkan, ia jauh dari sosok yang oportunis yang baru berada di garda depan saat menguntungkan diri sendiri. Terbangun tidur di timbunan selama 400 tahunpun, ia lanjutkan pertarungan menghadapi lawan yang bermaksud membunu raja yang dikawalnya.
Demikian pula tujuh pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi, mereka tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan. Kepercayaan kepada Allah SWT, tetap mereka pegang teguh, tak takut ancaman, siksaan raja. Dalam situasi dan kondisi apapun keimanan tak boleh tercerabut dari diri. Meski harus meninggalkan lingkungan sosial dan terasing, iman harus tetap melekat. 

Pada narasi film Ice Man dan kisah Ashabul Kahfi, keduanya menggambarkan sosok -sosok manusia yang beritegritas. Maksud  berintegritas di sini adalah manusia yang konsisten dan teguh dengan kebenaran, ia tidak tergoyahkan serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.

Dalam kehidupan di era  ini  tak sedikit bermunculan prilaku yang tidak beritegritas. Tidak konsisten dan tidak amanah terhadap tugas yang diembannya, baru bersungguh-sungguh ketika dipantau atasan. Madzhab yang dianut, madzhab “kepentingan”, serba kalkulasi untung rugi dalam segala hal. Kebenaranpun  dicampakkan demi jabatan dan kekuasaan  yang menggiurkan. Penganut filosofi _Isuk Dhele  Sore  Tempe_ (mudah berubah pendirian,  plin plan tak idealis ). Hanya demi kedunyaan,  demi sebungkus supermi, demi cinta buta kepada lain jenis yang beda kepercayaan, rela menanggalkan ketauhidan. 

Bagaimana dengan kita ? Belajarlah tentang idealisme dan integritas kepada Ki dalam film Ice Man dan Ashabul Kahfi yang dikisahkan  dalam al-Qur’an. _Wallahu a’lam._ ( Ponti, 5 Maret 2020 ).(Sudono Syue/ed)

Post a Comment

0 Comments