TENTUKAN KEBAHAGIAANMU


0leh: MASYKUR SARMIAN

Harianindonesiapost.com 
بسم الله الرحمن الرحيم

*أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ . ( رواه الديلمى )*

“ *Empat faktor dari kebahagiaan seseorang*, *yaitu : pasangan hidup  yang sholihah, anak–anak  yang baik dan berbakti,* *pergaulannya dengan orang –orang yang sholeh dan rizkinya di negerinya sendiri."    (HR Dailami)*


1- Kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia di seluruh dunia, tak terkecuali kita. Setiap melakukan aktifitasnya manusia selalu ingin merasakan bahagia. Besar atau kecil, tua atau muda,laki atau perempuan, kaya atau miskin, pejabat atau konglomerat, pemimpin atau rakyat semua antri untuk mendapatkan kebahagiaan.

Untuk dapat bahagia orang rela melakukan apa saja, asal happy. Sebagaimana kita maklumi sebagian manusia akan melakukan berbagai cara untuk mengejar kebahagiaannya. Misalnya dengan bekerja keras dalam mencari harta guna mendapatkan uang, mendapatkan wanita dambaan hati, menuntut Ilmu setinggi-tingginya agar dapat hidup layak dan mengejar kedudukan agar dapat hidup terhormat,semua itu dilakukan karena ingin hidup bahagia.

Pertanyaannya ialah adakah setelah semua itu di dapat lantas secara otomatis kebahagiaan itu dapat diraih.  Tentu jawabannya relatif dan belum tentu, mengingat banyak sekali orang kaya namun hidupnya jauh dari rasa bahagia, ada pula yang sudah dikarunia istri yang sangat cantik tapi hidupnya penuh was-was cemas, takut istrinya direbut orang, kita jumpai juga ada orang punya gelar sederet pendidikannya tinggi tapi hidupnya sedih murung durja, ada pula yang punya kedudukan dan kekuasaan tapi hidup jauh dari rasa bahagia, walau tidak semuanya. 

Dengan demikian Harta, Tahta, Wanita, Gelar dan Kehormatan bukan ukuran sebuah kebahagiaan.

Untuk mendapatkan kebahagiaan tidak mesti harus punya uang banyak, Kedudukan yang tinggi, istri yang cantik, jabatan yang wah, pendidikan yang tinggi. Semua itu ideal tapi tidak harus. Dan semua orang berhak bahagia, asal tahu caranya. Karena itu setiap orang berhak menentukan kebahagiaannya. Desain kebahagiaanmu lewat sarana yang ada dan hal tersebut dapat dijumpai disekitar lingkunganmu.

*Desain kebahagianmu lewat 4 ( empat ) faktor ini* :

*2. _Pertama, Istri yang shalihah_*.

Faktor kebahagiaan yang pertama dan utama adalah mempunyai Istri yang shalihah. Istri yang shalihah ini bukan saja penting tapi sangat utama dan prioritas sekali. 

Karena itu lelaki yang hebat bukanlah lelaki yang pintar memilih istri yang memiliki paras yang cantik saja, tanpa memperdulikan aspek lain terutama agama dan akhlaknya. Memang sih kebanyakan lelaki menentukan calon pasangan hidupnya, mengedepankan Cantiknya, Kekayaannya, Keturunannya dan baru Agamanya.

Rasululloh SAW sendiri melihat fenomena tersebut menggejala di kalangan umat sejak dahulu kala, apalagi sekarang. 

Tetapi sebagai bukti perhatian dan cintanya Rasululloh kepada Umatnya, pilihan karena Agama dan Akhlak harus diarus utamakan, bila ingin bahagia menjalani kehidupan.

Rasululloh SAW bersabda yang artinya :
Wanita ( biasanya ) dinikahi karena 4 faktor : Karena Cantiknya, karena Hartanya, karena keturunannya. Maka pilihlah karena Agamanya...

Bila ternyata dulu saat menikah tidak memprioritaskan pilihan berdasarkan Akhlak dan Agamanya, tidaklah berarti kita tidak lagi punya peluang memiliki istri yang Shalihah. Semua sangat tergantung bagaimana suami mampu mendesain kehidupan rumah tangganya. Seorang istri sebenarnya tergantung suaminya, karena suami adalah pemimpin rumah tangga. Semua terpulang pada kewibawaan suami di hadapan istri. Juga yang tidak kalah penting, mampu kah suami menjadi teladan terbaik dalam rumah tangganya. Karena hal tersebut faktor yang sangat menentukan kebahagiaan itu akan mengalir dalam kehidupannya. Seorang suami belum terlambat dan akan bisa memiliki istri shalihah, bila ia seorang yang shaleh yang dapat memuliakan istrinya. Setidak-tidaknya ia bisa memantaskan dirinya layak memiliki istri yang shalihah.

*2.1. Mengapa Istri Shalihah itu penting sekali ?*

Istri Shalihah sangat penting karena ia adalah seindah-indah  kesenangan dunia.

Baginda Rasululloh SAW pernah bersabda :

*الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المراءة الصالحة* (رواه مسلم )

Sesungguhnya dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.
( HR Muslim )

*2.2. Siapakah Istri yang Shalihah itu ?*

Istri shalihah adalah istri yang memenuhi kriteria antara lain sebagai berikut :

2.2.1. Taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, Memenuhi Rukun Iman dan Islam, taat pada suami, Ikhlas, penyabar, pandai bersyukur, menjaga diri dan menutup aurat

2.2.2. Apabila dipandang dapat menyenangkan suami, diperintah mentaatinya dan bila suami pergi ia akan menjaga kehormatan dirinya.

2.2.3. Tidak boros dan berusaha menjaga harta benda suaminya dengan sebaik-baiknya

2.2.4. Istri yang penuh kasih sayang, tidak kasar baik kepada suami juga kepada anak-anaknya.

2.2.5. Istri yang selalu menghormati suaminya dalam situasi apapun. Tidak mengobral keburukan suaminya kepada orang lain apalagi kepada orang yang tidak tepat.

2.2.6. Jika suaminya marah ia akan sangat gelisah, karena ia hawatir suami tak ridho kepadanya. Padahal ridho suami itu sangat penting bagi seorang Istri. Faktor keridhoan suami di buruh karena rasa takutnya kepada Alloh SWT. Wanita seperti inilah yang akan mengalirkan energi bahagia kepada suami.


*_3. Kedua, Punya anak-anak yang berbakti_*

Faktor kebahagiaan berikutnya adalah memiliki anak-anak yang baik dan berbakti. Anak-anak yang baik dan berbakti tidak saja memberi dampak kebaikan kepada dirinya namun juga dapat menghadirkan kedamaian dan ketentraman kepada kedua orang tuanya dan sekaligus hiburan berharga bagi mereka yang otomatis sumber kebahagiaannya.

*3.1. Kisah Uwais Al-Qorni*

Di.Yaman terdapatlah seorang Pemuda yang dikenal bernama Uwais Al Qorni, tubuhnya belang-belang akibat penyakit sopak. Walau ia pemuda yang kurang sempurna tapi dia adalah anak yang shaleh dan penuh bakti kepada Ibunya. 

Ibunya telah rentah dan lumpuh. Alhamdulillah pemuda Uwais ini dengan penuh kelembutan dan kesabaran merawat juga berusaha memenuhi semua permintaan Bundanya.

Suatu kali Bundanya berkata,  " Wahai Anakku, mungkin tak lama lagi kita akan berpisah, sebelum itu usahakan agar Ibu dapat menunaikan Ibadah haji, "Ini satu permohonan Ibunya dengan penuh harap". Uwais tercengang dan berpikir panjang. Mengingat perjalanan ke Makkah jauh dan perlu ongkos besar, padahal dia tergolong pemuda miskin dan tak punya kemampuan untuk itu. Hanya ini permintaan Ibunya yang ia rasa sangat berat. Apalagi jika ditempuh dengan jalan kaki, ia harus lintasi padang pasir yang tandus dan panas.

Namun Uwais terus berpikir keras, agar bagaimana dia dapat mengabulkan permintaan Ibunya yang berat tapi mulia itu. Akhirnya Uwais menemukan jalan keluarnya. Lantas belilah dia seekor anak lembu. Untuk apakah gerangan anak lembu ini dibeli oleh Uwais.
Uwais mulai berfikir yang tidak difikirkan orang banyak, sehingga pantas aja orang berfikir miring tentang Uwais. Apalagi saat dia bikinkan kandang di atas bukit, tambah lagi komen negatif orang kepadanya. Uwais tak pernah memperdulikan orang lagi, "Silahkan komen apa aja." Pikir Uwais.

Setiap pagi Uwais menggendong anak lembu itu bolak balik naik turun bukit dan itu diulang-ulang. "Kelakuan Uwais memang makin menjadi-jadi." Begitulah komen orang. Hehehe.

Dengan demikian hampir tiada hari yang terlewatkan bagi Uwais menggendong anak lembu bolak balik naik turun bukit. Hingga tak terasa, anak lembu itu sudah makin besar dan tentu saja makin pula dibutuhkan tenaga ekstra.untuk mengangkatnya. Tapi hikmah sebuah latihan tiap hari, tiap pagi dan berulang-ulang lagi, Uwais pun tak merasa berat lagi mengangkat anak lembu yang sudah beranjak menjadi lembu tersebut.

Seperti kata pepatah,

 *_Untuk membayangkan hal yang tak terbayangkan dibutuhkan imajinasi yang luar biasa_*

Kira-kira 8 bulan berlalu, musim haji tiba, otot Uwais pun telah terbentuk seiring naiknya bobot Lembu yang telah mencapai 100 kg. Mulailah orang memahami apa maksud Uwais tiap pagi menggendong lembu turun naik bukit bolak balik tersebut. Ternyata itu latihan untuk menggendong ibunya guna mengabulkan niyatnya yang mulia, agar dapat menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci.

Akhirnya benar-benar Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah. Mau tau berapa jaraknya ? 1.119 KM dari Yaman ke Makkah. Maha Suci Alloh, Uwais telah buktikan cinta dan pengorbanannya buat Ibunya demi merebut cinta Alloh SWT. Uwais terus berjalan tegap menggendong Ibunya hingga sampai di Makkah Al-Mukarromah. Tidak cukup itu, Selama  rangakaian pelaksanakan Haji ia dengan setia menggendong Ibunya termasuk Thowaf dan sya'inya. Ibunya tak dapat membendung air matanya saking terharunya menyaksikan BAITULLAH langsung. Di hadapan Ka'bah Uwais dan Ibunya berdoa dan berharap kepada Alloh kiranya mendapatkan pengampunan dari-Nya. Dan Uwais pun berharap kiranya dia mendapatkan ridho Ibunya sebagai kunci mendapatkan Ridho-Nya.

Demikianlah cinta yang tulus dari seorang Uwais, juga bentuk Birrul Walidain yang nyata dan kebaktian yang sempurna, Alloh menganugerahkan Uwais kontan saat itu, *yaitu disembuhkannya dari penyakit sopak dan belang-belang*. Kecuali bulatan putih ditengkuknya yang masih tersisa. Dan bulatan putih itu salah satu hikmahnya adalah sebagai tanda pengenal untuk dua sahabat Rasululloh di kemudian hari. Yaitu Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Tholib.

Kedua sahabat utama Rasululloh ini secara sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Baginda Rasululloh SAW pernah berpesan kepada keduanya  " Di zamanmu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat maqbul. Hendaknyalah kalian berdua benar-benar mencarinya. Orang tersebut arahnya berasal dari Yaman, dibesarkan di Yaman dan akan muncul di zaman kamu, carilah dia dan kalau berjumpa dengannya, mintalah tolong agar mendoakan kamu berdua."

Sabda Rasululloh SAW :

Sesungguhnya Alloh mengharamkan atas kamu durhaka pada Ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya, membunuh anak ( yang tak berdosa ) dan Alloh membenci orang yang banyak omong kosong, banyak bertanya serta bersikap boros ( menghambur-hamburkan harta ).
( HR Bukhari Muslim )

3.2. Mempunyai anak yang Baik dan berbakti ini dahsyat sekali, mereka menjadi oase kabahagian keluarga terutama bagi Ayah Bundanya, tidak mesti tinggi-tinggi dan jauh-jauh pendidikannya, syukur dan ideal sekali bila pendidikannya tinggi, Taqwa kepada Alloh dan Rasul-Nya, Akhlaknya Bagus, kebaktian kepada kedua orang tuanya sangat membanggakan. Yang demikian ini kebanggaan bagi kedua orang tuanya kelak.

*_4. Ketiga. Pergaulannya adalah dengan orang-orang yang sholeh_.*

Memilih pergaulan dengan orang-orang yang baik adalah sangat penting sekali. Selain mampu menjamin akhlak, insya Alloh perilaku kita juga akan terjaga. Di luar itu, akan dapat menghindarkan kita dari fitnah dan menjauhkan  kita dari prasangka buruk orang lain. Bayangkan bila kita bergaul dengan orang yang berambut gimbal, anak pank, lalu apa kata dunia.

4.1. Harus disadari bahwa manusia itu sesungguhnya adalah makhluk sosial, sebagaimana mereka diciptakan oleh Alloh SWT. Yang dimaksud makhluk sosial adalah makhluk yang hidupnya membutuhkan bantuan orang lain. Tidsk akan bisa manusia hidup sendiri tanpa yang lain. Karena itu mustahil manusia hidup tanpa teman. Kita pun juga memerlukan teman.

Untuk memilih teman, mesti diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Karena lingkungan pergaulan yang kita pilih sangat menentukan perkembangan diri kita. Dapat dikatakan lingkungan yang baik akan membuat kita baik dan lingkungan yang buruk akan membuat kita buruk juga. Paling tidak akan terkena imbasnya.

4.2. Adalah sangat mendesak bagi kita memilih dan mencari teman yang baik. Ketahuilah bahwa mempunyai teman yang baik bukan sekedar penting, tapi bahkan bisa menjadi obat hati yang menentramkan.

Dalam lagu *Tomboh Ati* Emha Ainun Najib dan Opick mengatakan :

Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
*_Kaping telu wong kang sholeh kumpulono_* dst.


*_4.3. Ciri-ciri teman yang baik_* :

4.3.1. Dapat menutup aib teman

4.3.2. Selalu berbaik sangka

4.3.3. Selalu ada saat diperlukan dan berusaha menolong saat dibutuhkan

4.3.4. Selalu mengingatkan kepada kebaikan.

4.3.5. Berperilaku jujur, amanah, transparan

4.3.6. Tidak memanfaatkan teman

4.3.7. Tidak.menggelincirkan teman

4.3.8. Susah sama susah dan senang sama senang.

4.3.9. Dan lain-lain

*Betapa bahagianya* bila memiliki teman yang dapat seia sekata dalam pergaulan dalam kebaikan, yang se- Iman dan Islam selalu senasib dan sepenanggungan dalam segala hal.

5. *_Keempat, Dan rizkinya di dalam negerinya_*

Bila mengadu nasib, bekerja dan mendapat rizki di negeri sendiri itu sangat menggairahkan, berapa pun yang di dapat, bila disyukuri dan ikhlas menerimanya insya Alloh, Alloh akan tambahkan rizkinya. Dibanding bekerja di Negeri orang, berapapun hasilnya.

Seorang pepatah mengatakan :

  *_Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri_*

Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Maksud  pernyataan Baginda Nabi dan  Pepatah  tersebut baru penulis fahami secara mendalam setelah mendengar curhat dari seorang kawan yang telah beranak pinak dan bekerja di Belanda selama qurun waktu 20 tahun. Memang sih gaji mencapai kira-kira 60 Juta, tapi biaya hidup sangat tinggi dan tingkat stress apalagi, belum lagi bila ada berita2 negatif yang muncul lewat media soal issue SARA, sering-sering memberi pengaruh dan ancaman bagi keselamatannya.

*5.1. Ada banyak alasan betapa membahagiakannya bekerja dalam negeri sendiri*

5.1.1 Mengerti dan mahami bahasa, adat istiadatnya sendiri. Teman yang bekerja di negeri orang jangan harap bisa seenak kita yang bekerja di dalam negeri, mereka harus cermat. Contoh membaca papan pengumuman, peraturan tata tertib dan lain-lain. Ga boleh salah-salah. Karena faktor salah faham bisa fatal akibatnya. Contoh lagi teman di India, walau disana ada bahasa Nasionalnya yaitu Bahasa Hindi, tapi tak semuanya mereka mau gunakan bahasa Hindi. Mereka maunya pakai bahasa Tamil, Malayam atau Bengali. Kondisi ini akan menghambat komunikasi dan ada potensi munculnya disharmoni. Bandingkan bila kita bekerja di Indonesia dimanapun cukup saja dengan Bahasa Indonesia sebagai alat Komunikasi.

5.1.2. Makanan minuman di negeri sendiri sangat murah dan tidak takut tertipu

5.1.3. Di negeri sendiri segala sesuatu tidak serba uang

5.1.4. Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong relatif mudah diketemukan di negeri sendiri.

5.1.5. Di negeri sendiri ada kebebasan berinovasi dan berekspresi

5.1.6. Keaneka ragaman budaya dan kekayaan pemandangan alam menjadi sarana refreshing 

5.1.7. Musimnya sesuai dengan kebutuhan fisik kita.

5.2. Perhatikan juga kasus kerusuhan di Papua beberapa saat yg silam, Pak Parnadi yg berumur 46 Tahun dan sudah selama 30 tahun bekerja mengadu nasib  disana menetap, tapi masih juga diincar dan menjadi korban penghancuran dengan kerugian sekitar 200 Juta. Belum lagi nasib pedagang makanan yang lain. menyadarkan kita bahwa betapa benar sabda Baginda Rasululloh SAW, bahwa bekerja mendapatkan rizki di negeri sendiri termasuk faktor kebahagiaan seseorang.

Wallohu a'lam bish-showaab(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments