Socialize

Suara Masjid Baitul Mahmud: Tiga Wasiat Rasulullah SAW


Penyusun: Sudono Syueb 


Harianindonesiapost.com Tiga wasiat Rasulullah tersebut diberikan kepada Abu Hurairah.
Seluruh umat lslam di dunia ini sudah tentu kenah siapa itu Abu Hurairah, apa lahi  bagi para pengkaji hadis, ahli hadis, ustadz dab ulama. Nama ini sangatlah tidak asing lagi. Sangat sering disebut-sebut saat membaca hadis. Bahkan saat mengingat kata hadis, fikiran kita akan tergambar kata, “an Abi Hurairata Radhiyallahu anhu.”

Nama lengkap Abu ahurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al Yamani. Ia lahir dari kabilah bani Daus, 21 tahun sebelum hijrah tepatnya pada tahun 598 M di daerah Yaman. Beliau kerap disapa dengan nama Abu Hurairah (bapak kucing kecil).

Abu Hurairah memiliki kedekatan yang sangat luar biasa dengan Rasulullah SAW. Walaupun ia baru masuk Islam empat tahun sebelum Rasulullah SAW wafat, yaitu pada tahun 7 H., namun Abu Hurairah tak pernah lepas dengan majelis bersama Rasulullah SAW. Tak ayal ia mampu menghafal dan meriwayatkan hadis sekitar 5.374 hadis.

Jumlah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ini paling banyak dibandingkan dengan sahabat-sahabat lain yang juga meriwayatkan hadis paling banyak. Aisyah misalnya, walaupun ia menjadi istri Rasul SAW, namun hadis yang diriwayatkan Aisyah tidak lebih banyak daripada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Begitu dekatnya Abu Hurairah dengan Rasulullah SAW, suatu hari Nabi berwasiat tiga hal kepada Abu Hurairah. Saat bercerita terkait wasiat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya tersebut, Abu Hurairah mengaku tidak akan pernah meninggalkan wasiat tersebut hingga meninggal.

Begitu dekatnya hubungan dengan Rasulullah, Abu Hurairah dalam hadits menyebut Rasulullah dengan “kekasih.”

Dilansir dari tarbiyah.net, Rasulullah pernah berwasiat kepada Abu Hurairah untuk senantiasa mengamalkan tiga amal yaumiyah. Tiga wasiat ini selalu dipegang oleh Abu Hurairah dan tidak pernah ia tinggalkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (Rasulullah) mewasiatkan tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga mati yakni berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari)

وْصَانِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa Ayyamul Bidh

Wasiat pertama adalah puasa tiga hari setiap bulan. Puasa ini tidak lain adalah puasa ayyamul bidh. Yakni puasa pada tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan hijriyah. Disebut ayyamul bidh karena pada tanggal-tanggal itu bulan bersinar dengan terang/putihnya.

Salah satu keutamaan puasa ayyamul bidh, siapa yang rutin mengerjakannya, ia seperti puasa sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari)

Sholat Dhuha

Wasiat kedua adalah sholat dhuha dua rakaat. Meskipun hanya dua rakaat, sholat dhuha setara dengan 360 sedekah yang merupakan hak sedekah bagi setiap sendi manusia. Dengan menunaikan sholat dhuha dua rakaat, kita telah memenuhi hak sedekah sendi-sendi tersebut.

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Sholat Witir

Wasiat ketiga adalah sholat witir sebelum tidur. Sholat witir merupakan sholat dengan bilangan rakaat ganjil dan termasuk bagian dari sholat malam. Waktunya terbentang sejak setelah isya’ hingga terbit fajar.

Sholat witir juga memiliki banyak keutamaan di antaranya dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dua hadits di atas juga menjadi dalil bahwa sholat witir boleh dikerjakan sebelum tidur. Dan bagi orang-orang yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, mengerjakan witir sebelum tidur merupakan salah satu sunnah. Sedangkan yang bisa bangun di akhir malam, mengerjakan witir di akhir malam lebih utama.

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

"Barangsiapa yang khawatir tidak akan sanggup bangun pada akhir malam, hendaknya ia berwitir pada permulaan malam. Dan barangsiapa yang merasa sanggup bangun pada akhir malam, hendaknya ia berwitir pada akhir malam itu. Sebab mengerjakan sholat pada akhir malam itu disaksikan malaikat yang demikian itu lebih utama." (HR. Muslim)

Semoga, kita juga bisa mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Abu Hurairah.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel