Suara Masjid Baitul Mahmud: Mengejar Allah


Oleh: Sudono Syueb

(Dewan Pembina Yayasan Masjid Baitul Mahmud, Sukodono, Sidoajo, Jatim)

Harianindonesiapost.com Biasanya Toni jarang sekali bangun pagi. Tapi tumben hari ini dia bangun pagi sekali. Lalu mandi, berbusana rapi dan sarapan pagi dengan tergesa gesa. 
'Mau keman Ton, kok tumben?', Tanya ibunya heran
"Ini Bu, mau ke Semarang, lihat pertandingan final sepak bola tim kesayangan saya dengan tim daerah lain'. Jawab Toni semangat sambil ketawa ketiwi.

Gambaran Toni itulah tabiat kita.
Jika berkaitan dengan dunia apakah itu pekerjaan, hiburan, kuliner atau olah raga, kita cepat cepatan hadir dan siap mengantri, rebutan, desak desakan dan kadang bentrok dengan pengantri yang lain. 
Tapi jika berkaitan dengan panggilan Allah, untuk sholat, shodakoh, zakat dan amal sholih yang lain, jarang sekali kita ngantri dan berebut. Untuk Allah selalu kita males malesan dan cendrung mengabaikannya. Padahal untuk dunia kita terdepan, kalau bisa.
Maka itu mari kita mengejar Allah untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّـهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٥٠﴾

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 50)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dibawah kalimat “dari” dan “kepada”, ada titik tolaknya dari mana dia berhijrah dan kemana dia menuju dengan hijrahnya tersebut. Dibawah dua kata ini terdapat rahasia atau hikmah yang besar yang merupakan rahasia-rahasia tauhid. Ini adalah perkara yang bisa dikatakan jarang dibahas ketika seseorang membicarakan masalah hijrah. Maka merupakan nikmat Allah ketika kita bisa membaca keterangan yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam pembahasan ini.

Berlari, kembali dengan segera kepada Allah, terkandung didalamnya pengesaan Allah dalam segala peenghambaan dirinya dan semua konsekuensi dari penghambaan diri itu berupa rasa cinta, takut, selalu kembali dan tawakal atau bersandar hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kembali kepada Allah dengan segera adalah berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang hal itu hanya bisa dilakukan dengan mendekatkan diri kepadaNya, selalu memohon kepadaNya, menyandarkan hati kepadaNya, cinta, takut dan berharap hanya kepadaNya semata. Maka disini terdapat perintah untuk memurnikan tauhid bahkan inilah hakikat tauhid yang sesungguhnya. Maka dari itu, hijrah kepada Allah subhanahu wa ta’ala asalnya adalah hijrah hati. Kalau anggota badan yang berhijrah tanpa disertai dengan keinginan dihati untuk memurnikan penghambaan dirinya kepada Allah, maka hijrah ini tidak akan bermanfaat.

 Bagi siapa saja yang tidak mau berlari munuju Allah bahkan mungkin tidak berharap berjumpa dengan Allah, maka tempat mereka di neraka. 
Allah SWT berfirman dalam QS Yunus ayat ,7-8:

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَآءَنَا وَرَضُوْا بِا لْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَا طْمَاَ نُّوْا بِهَا وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَ ۙ 

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"
(QS. Yunus 10: Ayat 7)

اُولٰٓئِكَ مَأْوٰٮهُمُ النَّا رُ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(QS. Yunus 10: Ayat 8)

Post a Comment

0 Comments