Suara Masjid Baitul Mahmud: Khaulah Azur, Kesatria Wanita Berkuda Hitam


Oleh: Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com Biasanya yang ikut berperang di garda depan adalah mayoritas laki laki gagah, berotot dan perkasa serta tak takut mati, apalagi berperang untuk bela masyarakat, negara dan agamanya. 
Tetapi juga tidak sedikit jumlahnya para perempuan  yang lembut dan cantik ikut berperang di garda depan dengan mempertaruhkan nyawa di medan perang.

Di masa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, banyak kaum hawa yang ikut berperang bersama pasukan Muslimin. Tak sekedar sebagai tim medis atau pembawa bahan logistik saja, di antara mereka bahkan tampil di garda terdepan untuk menghadapi gempuran pihak musuh.

Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh, cerdas, cantik dan pemberani. Salah satunya adalah Khaulah binti Azur yang terkenal dengan sebutan Kesatria Wanita Berkuda Hitam! 

Dilansir dari minanews.net, itulah sosok Khaulah binti Azur. Seorang muslimah yang kuat jiwa dan raga. Sosok tubuhnya tinggi langsing dan tegap. Sejak kecil Khaulah suka dan pandai bermain pedang serta tombak, dia terus berlatih sampai tiba waktunya menggunakan keterampilannya itu untuk membela Islam bersama para mujahidah lainnya.

Dalam salah satu peperangan melawan pasukan kafir Romawi di bawah kepemimpinan Panglima Khalid bin Walid, diriwayatkan, tiba-tiba saja muncul seorang penunggang kuda berbalut pakaian serba hitam yang dengan tangkas memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Bagai singa lapar yang siap menerkam, sosok berkuda itu mengibas-ngibaskan pedangnya dan dalam waktu singkat menumbangkan tiga orang musuh.

Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasan sosok berbaju hitam itu. Mereka bertanya-tanya siapakah pejuang tersebut yang tertutup rapat seluruh tubuhnya dan hanya terlihat kedua matanya itu.

Semangat jihad pasukan Muslimin pun terbakar kembali begitu mengetahui bahwa The Black Rider, si penunggang kuda berbaju hitam itu adalah seorang wanita. Keberanian Khaulah kembali teruji ketika dia dan beberapa mujahidah tertawan musuh dalam peperangan Sahura. Mereka dikurung dan dikawal ketat selama beberapa hari. Walaupun terasa mustahil untuk melepaskan diri, Khaulah tidak mau menyerah dan terus menyemangati sahabat-sahabatnya.

Katanya, “Kalian yang berjuang di jalan Allah, apakah kalian mau menjadi tukang pijit orang-orang Romawi? Mau menjadi budak orang-orang kafir? Di mana harga diri kalian sebagai pejuang yang ingin mendapatkan surga Allah? Dimana kehormatan kalian sebagai Muslimah? Lebih baik kita mati daripada menjadi budak orang-orang Romawi!” Demikianlah Khaulah terus membakar semangat para Muslimah sampai mereka pun bulat tekad melawan tentara musuh yang mengawal mereka. Rela mereka mati syahid jika gagal melarikan diri. “Janganlah saudari sekali-kali gentar dan takut. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, perbanyak takbir serta kuatkan hati. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat.

Dikisahkan bahwa akhirnya, karena keyakinan mereka, Khaulah dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri dari kurungan musuh.


Post a Comment

0 Comments