Socialize

PERBAHARUI BAHTERAMU


Oleh: MASYKUR SARMIAN

Harianindonesiapost.com
 بسم الله الرحمن الرحيم

*يا ابا ذر، جدد السفينة فان البحر عميق، وخذ الزاد كاملا فان السفر بعيد، وخفف الحمل فان العقبة كؤد، واخلص العمل فان الناقد بصير*
             
*_Wahai Abu Dzar, perbaharui bahteramu karena lautan itu dalam, bawalah bekal yang cukup karena perjalananmu jauh, dan ringankanlah beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah dalam setiap amal karena Yang Maha Mengintai ( Alloh ) sangat teliti._* 

                         ( Al-Hadits )


1. Abu Dzar Al-Ghiffari adalah seorang Muallaf yang dimuliakan oleh Alloh SWT lewat Islam dan menjadi sahabat kepercayaan Rasululloh SAW. Jundub bin Junadah adalah nama aslinya, beliau berasal dari suku Ghifar dari keturunan bani Kinanah.

Abu Dzar adalah sahabat yang sangat Istiqomah dan dikenal pribadi tangguh yang memiliki kematangan akal dan pemikiran yang jauh ke depan. Beliau sangat keras pendiriannya pada apa yang beliau yakini benar. Beliau juga dikenal sangat menonjol keikhlasannya dalam berjuang, pecinta dan penuh kasih sayang kepada kaum lemah. Beliau ini sangat tegas dalam amar ma'ruf nahi munkar. Ketegasan sikapnya inilah yang membuat beliau makin dihargai oleh pecintanya juga ditakuti oleh pembencinya.


2. Walau sebagai orang dekat Rasululloh SAW, bahkan boleh disebut masuk ring satu, yang tentu saja kualitas keimanan dan amalnya tidak perlu diragukan lagi. Namun tak menghalangi Rasululloh untuk memberikan peringatan yang mengandung pelajaran hidup yang sangat luar biasa ini. Karena memang dalam kehidupan ini tak seorang pun ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa Istiqamah selama-lamanya dalam mempertahankan nilai-nilai kehidupan.

3. *Wahai Abu Dzar...*
 *Perbaharui Perahumu, karena sesungguhnya lautan itu dalam*. Ungkapan Rasululloh kepada Abu Dzar, sejatinya bukan semata-mata untuk Abu Dzar saja, tapi untuk seluruh Umat Islam lintas generasi. Termasuk kita, karena setiap generasi pasti ada  tantangan kehidupannya. Dan tentu saja tantangan tiap generasi berbeda-beda bobot dan masalahnya.

Kepada Abu Dzar Al Ghiffari Rasululloh menggunakan bahasa kiasan  جدد السفينة 
Perbaharui bahteramu atau perbaharui *Imanmu*, bahtera dapat diartikan dengan Iman karena dalam kesempatan lain Rasululloh bersabda  جددوا ايمانكم 
Perbaharui Imanmu. Mengingat Iman itu sifatnya *_yazidu wa yanqush_* kadang bertambah dan kadang berkurang. Iman pada seseorang itu fluktuatif. Diperlukan sesering mungkin untuk dilakukan pembaharuan agar ia kembali stabil dan kokoh. 

Kokohnya keimanan, membuat seseorang memiliki daya imunitas terhadap berbagai macam godaan dunia yang sangat menggiurkan. Tak dapat dipungkiri pengaruh godaan dunia sering mendegradasi Iman seseorang. Tak jarang idealisme seseorang bisa terbang melayang diterjang oleh kuatnya arus materialisme dunia. Orang bisa pindah keyakinan karena harta dan kekayaan. Dapat pula disebabkan kedudukan dan syahwat wanita, orang berani bertindak tak terpuji hingga berani menghalalkan seluruh cara asal tujuan tercapai.

3.1. Cara memperbaharui Iman sangatlah sederhana, cukup dengan mengucapkan kalimat  لااله الا الله 

Baginda Rasululloh bersabda, yang artinya :

"Perbaharui Iman kalian", lalu ditanyakan kepada Beliau, Bagaimana caranya memperbaharui Iman kami ? Beliau lantas menjawab, " Perbanyaklah ucapan Laa ilaha illa Alloh".

( HR Ahmad dan Hakim )

3.2. Telah banyak orang mengucapkan Kalimat Tahlil ini, akan tetapi tak mampu menjadikan  keimanannya menggelora dalam hidupnya. Hal tersebut bisa jadi karena ia tak mampu menjadikan Iman itu merasuk dalam kalbunya.

3.3. Seharusnya seorang mukmin yang telah mengucapkan Laa ilaha ilaa Alloh merasakan bahwa :

3.3.1. Tiada yang mampu memberikan rizki kecuali hanya Alloh semata, lalu kenapa masih menggantungkan harapan kepada manusia ?

3.3.2. Tiada yang mampu mencipta alam semesta beserta isinya ini kecuali Alloh SWT, Lantas mengapa masih percaya dengan tukang sihir ?

3.3.3. Tiada yang mampu memberi manfaat dan mudharat kecuali hanya Alloh SWT, lalu kenapa masih percaya dengan klenik ?

3.3.4. Tiada yang mampu memberikan pertolongan kecuali Alloh, tetapi mengapa manusia datang ke dukun untuk meminta minta sesuatu ?

3.3.5. Tiada Penguasa sejati kecuali hanya Alloh SWT, lalu kenapa manusia ada yang mendapatkan kekuasaan dengan cara bathil ?

3.3.6. Tiada yang layak disembah selain Alloh, tapi kenapa manusia banyak yang mensekutukan-Nya ?

3.3.7. Tiada tujuan akhir ( kehidupannya ) kecuali Alloh, lalu kenapa sebagian besar orang menjadi gelap mata dalam memburu harta,kekuasaan dan wanita ?

Bila pembaharuan keimanan telah benar, dan bisa menyatukan bahasa qolbu, bahasa lisan dan bahasa tubuh dalam satu komando amal produktif,   maka dengannya mampu menghadirkan sebuah  kesadaran  Spiritual yang mendalam pada setiap mukmin, insya akan dapat diandalkan untuk mengatasi berbagai godaan Dunia sebesar apapun.

*Kesadaran spiritual ini diharapkan bisa mengatasi  besarnya tantangan dunia berupa harta tahta dan wanita yang menggejala pada bilik hati setiap mukmin*.

4. Berikutnya Rasululloh SAW melanjutkan : 

*وخذ الزاد كاملا فان السفر بعيد*

*Bawa bekal yang cukup karena perjalanannya amat jauh*.

Sebuah perjalanan menuju akhirat tidaklah sesingkat dan semudah yang kita fikirkan. Bayangkan saat seseorang telah wafat, ketika  dipisahkan ruh dari jasadnya lalu disemayamkan dalam rumah ukuran satu kali dua, ia tinggal seorang diri dalam pekatnya malam tanpa pelita dalam kubur, binatang pun dapat datang sekonyong  - konyong, belum lagi kemudian muncul Malaikat mungkar nakir yang memberondong berbagai pertanyaan berat, sebuah episode awal dalam mempertanggung jawabkan amal perbuatan kita selama hidup di dunia. Siapa kira - kira yang akan kita andalkan untuk dapat menyelamatkan kita ? Siapa dan siapa... Jawabannya tidak ada yang bisa kita harapkan lagi. Hanya kesedihan dan  penyesalanlah yg di alami setiap diri saat itu termasuk kita. Perjalanan menuju Alloh sungguhlah penuh dengan lika - liku, karena perjalanan tersebut benar - benar panjang dan jauh. Karena itu hanya orang yang di dunia telah mempersiapkan, merencanakan dan memiliki bekal yang cukuplah yang akan merasa aman-aman saja.

 Kira-kira bekal apakah yang bisa diandalkan untuk membantu menyelamatkan kita nanti ?

Tentu saja andalan  dalam membantu menyelamatkan kita kelak adalah Iman, Ketaqwaan dan Seluruh   Amal Kebaikan kita.

4.1. Orang yang benar - benar cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan berusaha menyiapkan bekal untuk modal akhiratnya. Karenanya sekecil apapun kebaikan jangan diremehkan, mengingat semuanya akan mendapatkan balasan dari Alloh SWT.

Syaikh Khalid Abu Shalih
dalam bukunya Az-Zairul Akhir telah mengkompilasi beberapa amalan unggulan untuk kita jadikan bekal terbaik menuju akhirat kelak.
Kata beliau sebagai berikut : 

Saudaraku, berikut ini adalah amalan sebagai bekal bagi kita untuk menemani alam akhirat. Tentu saja dengan bekal ini diharapakan perjalanan panjang menuju akhirat menjadi bebas hambatan. Mudah - mudahan Alloh SWT memberikan kemudahan kepada kitandalam melintasi alam barzakh, mahsyar, hisab dan perhitungan, mizan dan melintasi Jembatan Sirathal Mustaqiim.

Adapun bekal - bekal tersebut antara lain :

4.1.1. Iman kepada Alloh, Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul-Nya, Hari Akhir, Qodho dan Qodar-Nya. ( Rukun Iman )

4.1.2. Setelah bersyahadat menjaga Sholat Fardlu 5 Waktu, diutamakan berjamaah di Masjid, dilaksanakan dengan penuh khusyu' dan memahami setiap.makna bacaannya. Sedang wanita sholat di rumah adalah lebih afdhol.

4.1.3.menunaikan zakat tepat pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifat yang telah disyari'atkan.

4.1.4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dsn mengjarspkan pahala dari Alloh SWT.

4.1.5. Melakukan Haji yang Mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali Surga, dan berumrah di Bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi SAW.

4.1.6. Mengerjakan hal-hal yang disunnahkan, diluar sholat 5 waktu, zakat,puasa dan haji. Sebagaimana dalam hadits qudsi Alloh SWT berfirman, artinya, " Dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan hal - hsl yang sunnah hingga Aku mencintainya."

    ( HR Bukhari dan Ahmad )

4.1.7. Segera bertaubat yang sebenar-benarnya dari segala perbuatan maksiyat dan munkar serta bertekad untuk.memanfaatkan waktu-waktu yang kosong dengan.memperbanyak Istighfar,Zikir, dan Ketaatan lainnya.

4.1.8. Ikhlas dan beramal, semata-mata hanya mencari ridlo Alloh SWT dan berusaha meninggalkan riya' dalam semua urusan.

4.1.9. Mencintai.Alloh SWT dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengsn mengikuti Baginda Nabi Muhammad SAW.

4.1.10. Cinta dan benci karena Alloh SWT. Loyal dan Memusuhi juga karena Alloh SWT. Konsekwensinya adalah mencintainkaum Muslimin sekalipun mereka jauh dan sebaliknya.

4.1.11. Takut kepada Alloh SWT. Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian ( saat kematian ). Inilah hakekat Taqwa.

4.1.12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur saat mendapat kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Alloh SWT dalam setiap kondisi serta berharap dari karunia-Nya.

4.1.13. Bertawakal dengan baik kepada Alloh SWT.

4.1.14. Menuntut Ilmu yang bermanfaat dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya.

4.1.15. Mengagungkan Al-Qur'an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan- batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya.

 *خيركم من تعلم القران وعلمه*

*Sebaik-baik kamu, orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya*.
                    ( HR Bukhari )

4.1.16. Berjihad di jalan Alloh, menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan, menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan menjauhi perbuatan dosa lainnya.

4.1.17. Wara', berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahim, mengunjungi teman, sabar dll.

5. Lalu Rasululloh SAW melanjutkan : 

*وخفف الحمل فان العقبة كؤد*

*Peringan beban bawaan, karena lereng bukit sulit dilalui*

Perjalanan menuju Alloh bukan sembarang perjalanan, hanya orang-orang yang mampu meninggalkan bawaan yang dapat memberati perjalanan, yg akan dapat sampai kepada-Nya. Karena itu kurangi beban berat dengan berusaha meninggalkan dosa dan maksiyat, jauhi perbuatan yang dapat mengundang kemurkaan Alloh dan Rasul-Nya. Hindari teman yang dapat menggelincirkan kita dari jalan kebaikan. Jauhi makanan yang tidak halal.

5.1.Teruslah beristighfar mohon ampun kepada Alloh Sang Kekasih Abadi, bertaubatlah dengan taubatan nasuha atas segenap dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat baik di sengaja atau tidak.

Akhiri petualangan kehidupan yang didasari oleh dorongan nafsu untuk memburu kesenangan dunia dan syahwatiyah wanita.

Perbanyak sujud dan merendahkan diri dihadapan-Nya. Di dalam sujud tersebut perbanyaklah istighfar, mohon maaf kepada-Nya. Menangislah kepada-Nya berharaplah apa saja kepada Alloh. Karena semua kita tak tahu kapan hidup ini berakhir. 

Sekali lagi mohonlah kepada Alloh agar Dia melepaskan kita dari para pendosa yang dapat merusak moral kita. Mohon agar Alloh tidak menghukum kita atas kebodohan dan kejahilan kita, kalau perlu sungkurkan tubuh ini dihadapan-Nya.

5.2.Sayyidina Ali bin Abi Tholib mengatakan, " Pakailah wewangian Istighfar, supaya Alloh tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian," Dini hari di sepertiga malam saat yang tepat kita konsentrasikan harapan dan taubat kita kepada Sang Khalik.

Selanjutnya baca ayat ini dan renungi maknanya lalu, lewat ini berdoalah dan mohonlah kepada Alloh dengan sepenuh jiwa, maka hatimu akan lapang, cobalah :

Allah SWT berfirman:

 *رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ* 

 (Mereka berdoa), *Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidakyang sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir*."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)

5.3. Ketahuilah bahwa pada hari Kiamat nanti akan datang manusia dari Kaum Muslimin yang membawa dosa sebesar Gunung Uhud

Diantara dosa-dosa itu ada yang terkait dengan hati, seoerti meyakini bahwa selain Alloh ada yang memberikan manfaat atau madharat. Ada pula yg terkait dengan ucapan, misalnya berdoa kepada selain Alloh dan ada juga yang berhubungan dengan perbuatan seperti Thawaf di atas Kuburan dan lain sebagainya.

Berbahagialah bagi kaum Muslimin, sekalipun dosa manusia itu menumpuk sangat banyak tapi Rahmat dan Kasih Sayang Alloh SWT sangat luas untuk hamba-Nya, bisa saja lewat Rahmat itu dosa dan kesalahan hamba akan mendapat ampunan sepanjang dipenuhi syarat-syaratnya. Terus dalam ketaatan dan jangan sekali-sekali menyekutukan Alloh dengan yang lain.

Rasululloh bersabda :

*من لقيني بقراب الارض خطيءة لا يشرك بي شياء لقيته بمثلها مغفرة*
( رواه مسلم )

*Barang siapa menjumpai- Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi sedangkan dia tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan sepenuh bumi*.
                   ( HR Muslim )

5.4. Itulah dahsyatnya Tauhid. Tauhid mempunyai pengaruh dan peran yang sangat penting dalam penghapusan dosa-dosa, bagi tiap orang yang merealisasikannya dengan benar. Juga bagi orang yang bisa menjaga dirinya dari perbuatan syirik. Sangat terbuka kesempatan dan peluang untuk meraih ampunan dari Alloh SWT.

Shalat dan semua rangakaian amal perbuatan manusia yang dijalaninya secara rutin dan Istiqomah juga bisa menjadi sarana penghapus dosa yang sangat-sangat efektif. Demikian juga Adzan yg dikumandangkan oleh muadzin, membuat dosanya diampuni oleh Alloh Azza wa Jalla. Juga buat yang mendengarnya dan menjawabnya.

Semua ini harus dilakukan agar beban berat dosa dapat dieliminir dan dengan kesungguhan taubat kepada Alloh SWT. Semoga Rahmat-Nya turun lalu Alloh menghapus dosa hamba-Nya. Semoga dengannya mampu meringankan beban untuk mencapai tujuan kebahagiaan ( Akhirat).

6. Diujung nasehatnya, Rasululloh SAW mengatakan :

*واخلص العمل فان الناقد بصير*

  *Dan ikhlaskan amal perbuatan, karena Yang Maha Mengintai sangat teliti*

Akhirnya Rasululloh SAW menutup nasehatnya dengan menstressing  pentingnya menjaga setiap amal perbuatan tetap dalam koridor Ikhlas  ( اخلاص العمل )
Karena ikhlas itu menentukan diterima atau tidaknya amal. 

6.1.Agar antara teori dan amalan praktis tentang Ikhlas tidak menimbulkan salah paham, berikut ini disampaikan beberapa  Pengertian tentang IKHLAS.

6.1.1. Ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT.

6.1.2. Ikhlas adalah mengesakan Alloh dalam neribadah kepada-Nya.

6.1.3. Ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk

6.1.4.Menurut *Al-Harawi* bahwa Ikhlas adalah membersihkan amal dari setiap noda

6.1.5. Menurut *Abu 'Utsman* bahwa Ikhlas ialah melupakan pandangan makhluk dengan selalu melihat Khalik ( Alloh ).

6.1.6 *Abu 'Ali Fudhail bin 'Iyadh* mengatakan :

 Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan Ikhlas adalah bila Alloh menyelamatkan kamu dari keduanya.

Dengan demikian IKHLAS adalah menghendaki keridhaan Alloh dalam suatu amal. Membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Alloh dan demi hari akhirat. Tiada noda yang  mencampuri suatu amal, seperti kecendrungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

6.1.7.Ketahuilah landasan niyat yang Ikhlas adalah memurnikan niyat karena Alloh semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurnian amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas maka tindakan dan perilakunya berorientasi pada sifat tersebut. Sehingga Ibadah yang ia lakukan tak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah, mengajar dan lain sebagainya.

6.1.8. Dengan demikian makna Ikhlas karena Alloh adalah apabila seseorang melaksanakan Ibadah yang tujuannya untuk Taqarrub kepada Alloh dan mencapai tempat kemulian-Nya.
( *Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin*)

6.1.9. Akhirnya bila kita menginginkan amal kita dalam koridor keikhlasan dan terjaga dari noda yang merusaknya maka hilangkan pertimbangan pribadi, enyahkan rakus dunia dan jauhkan dari pengaruh nafsu dan lain sebagainya. 

Dan sekali lagi, mantapkan keikhlasan tersebut benar-benar muncul dari lubuk hati yang paling dalam tanpa embel - embel, hanya karena Alloh... pastikan tidak karena yang lain,
*Karena sejatinya kita tak mungkin dapat bersembunyi dari pantauan CCTV-Nya*.

Wallohu a'lam bish_showaab

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel