MUHASABAH KE-40: HAKIKAT BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT (bagian ke-2)


Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com 
بسم الله الرحمن الرحيم 

*4. Cara Wahyu Allah SWT Turun Kepada Malaikat*

*4.1.* Allah SWT berbicara kepada para Malaikat tanpa perantara dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para Malaikat. Ini berarti wahyu Allah SWT turun secara langsung kepada Malaikat, tanpa perantara siapa pun saja. QS Al-Baqarah (2): 30, Al-Anfal (8): 12 

Hal ini diperkuat oleh sebuah Hadits dari Nawas bin Sam'an RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika Allah SWT ingin memberikan wahyu mengenai suatu perkara, Dia berbicara dengan wahyu. Lantas langit bergetar dengan getaran, atau goncangan, yang dahsyat karena takut kepada Allah SWT. Jika penghuni langit mendengar hal itu, maka mereka pingsan dan jatuh bersujud kepada Allah. Kemudian yang pertama kali mengangkat mukanya adalah Jibril. Lantas Allah membicarakan wahyu itu kepadanya menurut apa yang dikehendaki-Nya. Lalu Jibril berjalan melintasi para Malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka Malaikat langit itu bertanya kepadanya, "Apa yang dikatakan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Dia mengatakan yang hak dan Dialah Yang Maha Tinggi Maha Besar." Kemudian semua Malaikat mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jibril. Lantas Jibril menyampaikan wahyu itu sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT." HR Thabrani

*4.2.* Al-Qur'an telah ditulis di Lauhul Mahfudh. QS Al-Buruj (85): 21-22 

Kemudian Al-Qur'an diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfudh ke Baitul 'Izzah yang berada di langit dunia pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, sebelum diturunkan ke Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun, yaitu 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. QS Al-Qadar (97): 1, Ad-Dukhan (44): 3, Al-Baqarah (2): 185, Al-Isra' (17): 106 

Ibnu 'Abbas RA berkata, "Al-Qur'an telah dipisahkan dari Adz-Dzikr,  kemudian diletakkan di Baitul 'Izzah di langit dunia, lantas Jibril menurunkannya kepada Nabi SAW." HR Hakim dan Ibnu Abi Syaibah

*4.3.* Al-Qur'an harus dinisbatkan kepada Allah SWT. QS An-Naml (27): 6, At-Taubah (9): 6, Yunus (10): 15 

Al-Qur'an adalah kalam Allah SWT dengan lafadhnya, bukan kalam Jibril atau kalam Nabi Muhammad SAW. 

Berbeda dengan Al-Hadits, yaitu kalam Allah SWT, tetapi lafadhnya dari Nabi Muhammad SAW. QS An-Najm (53): 3-4

Oleh karena itu, diperbolehkan meriwayatkan Al-Hadits menurut maknanya saja, sedangkan lafadhnya bisa dari beberapa riwayat, seperti ada satu Al-Hadits yang kandungan maknanya sama tetapi dari berbagai macam riwayat yang lafadhnya berbeda. 

Tetapi Al-Qur'an harus diriwayatkan sama antara makna dan lafadhnya sekaligus, tidak boleh diubah meskipun hanya satu kata atau satu huruf, seperti alif lam mim, tidak boleh diganti menjadi alif lam jim.


_Nasrun Minallah_

Penulis adalah :
1) Wakil Ketua PCM Babat, Anggota MPK PDM Lamongan, 
2) Sekretaris MUI Kecamatan Babat, 
3) Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat dan 
4) Perwakilan Travel Umroh & Haji Plus PT Tursina]_

Rabu, 2 Rajab 1441 H/ 26 Februari 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Post a Comment

0 Comments