Socialize

MUHASABAH KE-26: HAKIKAT BERIMAN KEPADA ALLAH SWT (bagian ke-11)



Oleh: Amrozi Mufida

Harianindonesiapost.com 
بسم الله الرحمن الرحيم 


*9.3. Konsep Kebenaran Ilmu*

9.3.1. Ayat-ayat Qauliyah, yaitu wahyu Allah SWT yang ada di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, mempunyai nilai kebenaran yang sangat mutlak karena langsung berasal dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. QS Al-Baqarah (2): 147, An-Najm (53): 3-4

9.3.2. Akan tetapi pemahaman terhadap wahyu yang dilakukan oleh manusia, yang memungkinkan ada beberapa alternatif pemahaman, bukan bersifat mutlak kebenarannya karena ilmu manusia bersifat terbatas. QS Al-Kahfi (18): 109, Luqman (31): 27

9.3.3. Demikian juga, pemahaman manusia terhadap ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang tersebar di alam raya ini, memiliki nilai kebenaran yang nisbi, semu, relatif, dan eksperimentatif. 
Karena hasil penemuan ilmu pada masa lalu bisa berbeda dengan hasil penemuan ilmu pada saat berikutnya, seperti tentang teori pusat peredaran alam raya ini.

9.3.4. Pada masa lalu, para ahli astronomi yang dipelopori oleh Ptolemy, seorang ilmuwan Yunani, mengira bahwa bumi merupakan pusat tata surya, pusat alam raya, yaitu bahwa semua benda langit, seperti matahari, bulan, bintang, dan semua planet, bergerak mengitari bumi. Pandangan ini dikenal dengan Teori Geosentris. 

Tetapi, setelah Teori Geosentris bertahan selama 1.500 tahun, ternyata pendapat ini keliru. Dan pada tahun 1543 M, seorang astronom Polandia yang bernama Nicolaus Copernicus, lewat bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestium, berpendapat bahwa semua benda langit, seperti bumi, bulan, bintang, dan semua planet, bergerak mengitari matahari. Teori ini dikenal dengan Teori Heliosentris. 

9.3.5. Sehingga kebenaran mutlak yang harus dijadikan alat bukti untuk mengukur kebenaran nisbi dan eksperimentatif. Bukan sebaliknya, yaitu justru kebenaran mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang bersifat relatif dan eksperimentatif. Karena sejarah ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa suatu teori yang dianggap benar pada satu masa digugurkan kebenarannya oleh teori lain pada masa berikutnya. 

9.3.6. Oleh karena itu, apabila terjadi pertentangan antara kesimpulan yang dihasilkan oleh manusia dari ayat-ayat kauniyah yang ada di jagad raya dengan ayat-ayat qauliyah yang ada di Al-Qur'an dan Al-Hadits, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan dan teori tersebut, menguji kembali pemahaman dan hasil eksperimen manusia terhadap wahyu. 

_Pendek kata, mustahil terjadi pertentangan antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah, karena kedua-duanya sama-sama berasal dari Allah SWT, Yang Maha Benar._


_Wallaahu a'lam bishshawab 

Penulis adalah :
1) Wakil Ketua PCM Babat, Anggota MPK PDM Lamongan, 
2) Sekretaris MUI Kecamatan Babat, 
3) Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat dan 
4) Perwakilan Travel Umroh & Haji Plus PT Sakinah]_(Sudono Syueb/ed)

Rabu, 18 Jumadats Tsaniyah 1441 H/ 12 Februari 2020 M

http://t.me/kajianAmrozi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel