Mantan Aktivis Mahasiswa Kritis Era '80, Apa Kabamu?



Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Fisipol UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Kritis dan pemberani memang sudah jadi tabiat mahasiswa sejak zaman ayam makan jagung, sobo deso, sampai ayam makan pizza, sobo kampus. Jika ada kebijakan pemerintah yang, menurut mereka, kurang pro rakyat kecil, kontan mereka gelar duskusi bermalam malam dan demo di kampus dan di tuang publik, public sphare, berjilid jilid. Saya sering ikut diskusinya, dan kadang kadang ikut demo karena "dipaksa" ikut hehehe...
Suatu saat sy ikut diskusi mahasiswa "new left" di sebuah ruang kecil di gedung Arena Mahasiswa PT X. Para aktivis mahasiswa itu bicara berapi api tentang nasib rakyat pinggiran  yang karib dengan kemiskinan struktural. Sementara itu di pihak lain, ada sedikit orang yang terlalu kaya raya. Ibaratnya makan pagi di Asia, makan siang di Eropa dan makan malam di Timur Tengah. Mereka ingin warga bangsa ini setara, tanpa kelas. Mereka bicara berapi api sambil menghisap rokok Dji Sam Soe dan makan gudek ayam wutuh. Mahasiswa merokok dji sam se dan makn gudek ayam wutuh, zaman jadul segitu, kalo bukan anaknya org kaya ga bakalan. Mahasiswa biasa bisa makan gudek ayam suwir sebulan sekali saja sudah bersyukur.
      *****
Diskusi mahasiswa "kritis" yang terjadi berulang ulang itu sy tulis di sebuah harian di Yogyakarta. Setelah dimuat di koran itu, mereka  yang ikut diskusi ada yang marani sy sambil marah marah.
Lalu saya jwb, kalau sampyan tidak berkenan dengan tulisan saya, silahkn sampyan jawab lewat  koran yang sama atau koran lain.  Tulisan harus dijawab dengan tulisan kang. 
Karena mereka tidak biasa menulis di media, mereka diem
Teman teman saya yang suka cuap cuap n demo di Yu Ji Yem dulu, setelah lulus, pulang dan jadi pejabat penting di daerahnya masing masing, tapi namanya ga muncul lagi baik di tingkat  nasional maupun regional. Banyak yang merasa kehilangan mereka karena dulu mereka adalah para tokoh mahasiswa DIY yg populer.

Ketika suatu saat saya main di Yogyakarta ditanya teman teman Yogyakarta, itu teman teman cak dono yang kritis n suka demo dulu dimana sekarang?.
Saya jawab, jadi pejabat penting di daerahnya masing masing. 
Sambung teman Yogya, ouu jadi kritis itu hanya sebagai alat bargaining power tho ?
Gitulah, jawabku.

Post a Comment

0 Comments