Jangan Terkecoh Penampilan Orang (Suara Masjid Baitul Mahmud)


Oleh: Sudono Syueb

(Pegiat Masjid)

Harianindonesiapost.com Sering kali kita ketemu seseorang dengan penampilan rapi, pakaian bagus dan mewah, branded lagi dan gagah sumringah serta banyak bicara. Kita anggap dia orang baik, berprestasi, eh ternyata penipu ulung yang jadi DPO Polisi.
Begitu juga sering kali kita menjumpai orang dengan penampilan  sederhana, pakaiannya murahan, badannya kurus dan pendiam, tapi ternyata orang itu alim, ahli ibadah dan dermawan.
Hal seperti itulah yang pernah dialami oleh ulama besar abad ke dua hijriah, Abdullah lbnul Mubarrok. Dia ketemu dengan seorang budak hitam dan kurus di lapangan ketika akan dilaksanakan sholat lstisqa' di Bagdad, lraq.

Dilansir dari bincangSyariah.Com- Di dalam kitab Syaraḥ al-Yāqūt an-Nafīs, ada sebuah cerita unik yang dialami Abdullah bin Mubarak. Suatu hari beliau menghadiri salat Istisqa’ di Bagdad. Pada saat itu di dekatnya ada seorang budak yang hitam lagi kurus. Dari sinilah kisah unik beliau dimulai:

Aku mendengar budak itu berdoa: “Ya Allah, sungguh hamba-hamba-Mu datang kepada-Mu meminta siraman dan meminta hujan dari-Mu. Ya Allah, dengan cinta-Mu padaku, siramilah mereka, sekarang.”

Tiba-tiba datanglah mendung dan turunlah hujan. Aku masih memandang budak itu. Aku yakin budak itu adalah orang saleh dan takwa. Aku terus mengamatinya dan mengikuti jalannya dari belakang secara diam-diam. Hingga akhirnya ia memasuki rumah pedagang budak. Tahulah aku kalau ia adalah salah satu budak yang dijual di sana. “Besok aku akan datang membelinya,” batinku.

Besoknya aku mendatangi si pedagang budak. Kubilang padanya: “Aku ingin membeli salah satu budakmu.” Lalu ia menawarkan budak-budaknya satu persatu padaku. Jumlah budaknya nyaris empat puluh orang. Semuanya ia tawarkan padaku. Tak ada kujumpai budak yang kucari. Sampai si pedagang putus asa.

“Apa maumu? Sudah kutawarkan budak-budak yang kuat dan baik kerjanya. Semua budak yang ada padaku sudah kutawarkan padamu!” kata si pedagang.

Aku bertanya, “Masihkah ada lagi selain semua budak yang sudah kulihat?”

Si pedagang menjawab, “Tidak ada lagi, kecuali seorang budak lemah yang bukan apa-apa.” Sungguh budak yang dimaksud tidak ada artinya bagi si pedagang.

“Perlihatkan dia padaku,” kataku.

Si pedagang memperlihatkannya, dan benar saja, dialah orang yang kucari. Langsung saja kubilang padanya, “Budak inilah yang kumau.” Kami pun membicarakan soal harga. Aku jadi membelinya dan kubawa ia berjalan-jalan.

Di jalan, dengan tutur lembut aku berkata, “Akulah budak dan kau tuannya.”

Ia bertanya, “Tuanku, apa yang membuatmu begini?”

“Dari dirimu aku melihat sesuatu yang membuatku berkata demikian.”

“Apa yang kau lihat?” Ia mulai curiga.

“Sungguh, pada saat Istisqa’ kemarin aku melihatmu memanjatkan doa pada Allah, dan tak lama orang-orang disirami hujan.”

Ia diam tak menjawab. Hingga kami melewati sebuah masjid dan ia berkata, “Tuanku, apakah kau bermurah hati padaku dengan mengizinkan aku melakukan salat dua rakaat di masjid ini?”

“Silakan,” jawabku.

Ia memasuki masjid, aku mengikutinya. Ia melaksanakan salat dua rakaat, aku mengamatinya.

Setelah berucap salam, aku mendengarnya bermunajat, “Ya Allah, sesungguhnya rahasia antara Kau dan aku sudah terbuka, maka ambillah aku menghadap-Mu.”

Kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat; tidur memiringkan tubuhnya menghadap kiblat; ruhnya pergi meninggalkan tubuhnya yang kurus-hitam pekat; memenuhi panggilan menuju pertemuan tanpa sekat.

Post a Comment

0 Comments