Gus Solah Ulama Moderasi NU yang Berusaha Keras Harmoniskan Hubungan NU dan Muhammadiyah


Oleh: Sudono Syueb

(Dosen Fikom-Unitomo, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah dijabat Prof. Dr. Din Syamsudin dan Ketua Umum PBNU dijabat KH. Dr. Hasyim Muzadi Allahuyarham, hubungan Muhammadiyah dan NU harmonis sekali. Apa lagi kedua tokoh tersebut sama sama alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jatim.
Keharmonisan hubungan NU dan Muhammadiyah itu diteruskan dan dijaga oleh Gus Solah sampai akhir hayat. Dan itu warisan sangat berharga yang ditinggalkan Gus Solah pada NU dan Muhammadiyah serta dunia lslam

Dilansir dari republika.co.id,
Di antara banyak warisan penting Gus Sholah adalah ihtiarnya untuk terus menjaga persaudaraan antar sesama warga bangsa, umat beragama, dan ormas keagamaan. Secara spesifik ikhtiar untuk terus memupuk persauadaraan antara NU dengan Muhamaduyah sebagai dua ormas penting dalam perjalanan bangsa ini layak kita renungkan kembali. 

Gus Solah tidak sekedar berwacana tentang keharmonisan hubungan antara NU dan Muhammadiyaha tapi dibuktikan dengan kerja nyata budaya dengan memproduksi film "JEJAK LANKAH 2 ULAMA" kerja sama dengan Muhammafiyah.

Dikutip dari repuhlika.co.id, film itu memiliki misi meluruskan posisi dua tokoh pendiri NU dan Muhammdiyah KH Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Keduanya sejak usia muda sangat dekat sama-sama nyantri kepada Kyai Saleh darat Semarang.

Usia keduanya juga sepantaran, hanya terpaut dua tahun, sehingga layaknya kakak dan adik seperguruan. Semua kita tahu, kemudian Kh. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 dan Kh Hasyim Asyari mendirikan NU pada tahun 1926. Peran Gus Sholah dalam mendukung film ini amatlah besar. Tidak lain karena film ini diproduksi atas kerjasama Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Ponpes Tebuireng, dimana beliau menjadi pengasuhnya. 

Dengan demikian kontekstualitas pesan Gus Sholah melalui kerjasama pembuatan film itu, tidak hanya meluruskan kesalahan persepsi  dalam hubungan kedua Ormas terbesar bahkan berupaya mengembalikan kisah historis pada tempatnya semula.

Integrasi NU-Muhammadiyah

Masih dari lansiran republika.co.id, apa yang dilakukan oleh Gus Sholah melalui kerjasama pembuatan film itu hanyalah salah satu ihtiar untuk terus menghidupkan persaudaraan diantara NU-Muhammdiyah. Karena memang begitulah adanya.

Meski ada perbedaan lebih karena metode dalam dakwah dan segmen. Muhammdiyah lebih banyak berkembang di perkotaan, sementara NU basisnya banyak di wilayah pedesaan.  Kalaupun ada perbedaan hanya menyangkut aspek-aspek khilafiah dan tidak perlu dikedepankan. Justru persamaan itulah yang harus menjadi pegangan bersama.

Bila dirunut, apa yang dilakukan oleh Gus Sholah dengan film itu, hendak meneruskan rintisan Gus Dur, pada era awal reformasi. Ketika itu hubungan NU dan Muhmmadiyah mengalami berjalan sangat intens dan mampu menjadi perekat sekaligus solusi bagi persoalan kebangsaan. Dasar ikatan yang berkembang saat itu adalah mengawal reformasi dan menjaga keutuhan NKRI, bahkan mencakup juga agenda pemberdayaan ekonomi umat.

Tercatat sejumlah bentuk hubungan yang sangat erat dan saling pengertian yang tinggi layaknya persaudaraan kakak dan adik seperguruan. Saling berkunjung dan menyelenggarakan pengajian bersama dilakukan secara bergiliran dalam kurun waktu tahun 1998-2000. Terdapat sejumlah faktor yang menjadi perekat yaitu  spirit ukhuwah Islamiyah, adanya generasi baru (muda)yang berfungsi sebagai penghubung dan perekat, serta pengembangan kerjasama di bidang pemberdayaan masyarakat dan sosial budaya.

Walhasil pada era itu tercipta integrasi yang kuat diantara NU-Muhammdiyah. Begitu eratnya hubungan diantara kedua ormas ini sampai muncul ungkapan yang saling menguatkan. Pernah diusulkan pada saat itu agar di kantor PBNU ada perwakilan Duta Besar Muhammadiyah, dan sebaliknya di Kantor Pusat PP Muhammdiayh dibuka Duta Besar NU. Bahkan meski tidak secara langsung berkaitan, momen politik yang terjadi pada saat itu mengantarkan Ketua NU sebagai Presiden dan Ketua Muhammadiyah sebagai Ketua MPR pada saat itu.

Harus diakui, hubungan integratif kedua ormas ini belakangan mengendur dan bahkan tidak tampak di permukaan. Bisa jadi itulah alasan mengapa Gus Sholah begitu bersemangat untuk menghadirkan kembali gambaran yang asli tentang sosok dan kedekatan pendiri kedua ormas itu.

Jadi sepertinya beliau risau dengan hubungan kedua ormas saat ini dan ingin kembali merekatkan sebagai kekuatan bangsa. Di tengah kondisi bangsa dan ancaman serta tantangan yang semakin berat terasa betul urgensinya ihtiar Gus Sholah untuk terus kita jaga. Basisnya pemahamanya sama, bahwa sebuah integrasi dapat terbangun apabila lebih mengedepankan persamaan dan mengenyampingkan perbebedaan.

Hari ini dan ke depan kita semua akan terus merasa kehilangan figur Gus Sholah dengan segala pemikiran dan sikap-sikap kenegarawananya. Namun kita akan tetap mewarisi pesan-pesan penting  persaudaran tersebut. Bagi NU-Muhammdiyah, semoga semangat persaudaraan terus menguat sebagai sumber kekuatan untuk mengatasi berbagai permasalahan kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kita semua dapat berkontribusi dengan menyimak dan mengambil pesan serta mewujudkan persuadaraan itu sesuai spirit dari film Jejak Langkah 2 Ulama yang akan segera rilis

Post a Comment

0 Comments