Socialize

CERMIN TERINDAH



Oleh: MASYKUR SARMIAN

Harianindonesiapost.com 
بسم الله الرحمن الرحيم

المؤمن مراءة المؤمن والمؤمن  اخوالمؤمن يكف عليه ضيعته ويحوطه من وراءه ( رواه ابو داود )

Seorang mukmin itu menjadi cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya, ia harus menutup kekurangannya ( aibnya ) serta melindungi kepentingannya.

( HR. Abu Daud )

1. Betapa indahnya pesan Baginda Rasululloh SAW di atas bagi setiap Mukmin, pesan yang mengingatkan agar  seorang yang beriman memiliki cermin yang baik dan menjadikannya sebagai cermin yang indah, diharapkan penampilan dan prilakunya selalu terjaga dan enak dipandang. Cermin terbaik adalah kawan sejawat yang  baik dan berintegritas. Cermin terindah sepanjang masa adalah Baginda Rasulillah.

1.1. Dipangkal hadits ini dikatakan

المؤمن مراءة المؤمن

Seorang mukmin itu menjadi cermin bagi mukmin lainnya

Tidaklah berlebihan bila seorang mukmin diibaratkan sebagai cermin, dan tentu ini bukan suatu kebetulan.

1.2. Pertanyaannya, kenapa mesti cermin sebagai tamsil bagi seorang beriman, tidak adakah yang lebih keren dari cermin ?

Itu disebabkan karena tidak ada benda di dunia ini yang lebih tulus dan loyal melampaui cermin. Setidak-tidaknya cermin tak pernah mau berdusta apalagi menipu. Ia selalu mengatakan apa adanya.

Diamnya cermin, mengirim pesan secara jujur tentang kita. Ketulusan cermin adalah wujud kesempurnaan loyalitas, yang menegaskan tak ada dusta diantara kita apalagi harus menyimpan dendam kesumat. 

Di depan cermin kita bisa berpikiran dan merasa apa saja. Bisa pula menyembunyikan suasana kebatinan kita, tetapi apa yang nampak dari kita akan dipantulkan apa adanya.

Saat kita pergi menghindar daripada cermin, dia takkan menyimpan bayangan tentang kita di dalamnya. Begitu selesai ya selesai, takkan ada jejak yang kita tinggalkan. Ini pesan terindah kepada mukmin, kiranya tak mudah mendendam apalagi mesti membuka kekurangan saudaranya pada orang lain.

Cermin akan berusaha menutupi aib itu sebagaimana dia takkan membiarkan bayangan orang tetap berada di dalamnya. Ketulusan cermin bagi seorang mukmin adalah pekerjaan hati yang mestinya terus mendapat sentuhan lembut, dalam hal ini dibutuhkan seni menata hati dengan sebaik-baiknya.

Sebagaimana cermin yang tak boleh buram. Demikian juga Ketulusan hati seorang mukmin kepada lainnya tak boleh dinodai oleh vested interest apalagi harus menggunakan semboyan aji mumpung. Ketulusan yang sempurna dari seorang mukmin, sangat dibutuhkan agar dapat memantulkan harapan dan motivasi indah serta menjadi cermin terindah untuk saudaranya.

1.3. Sayid Abdulloh bin Husein bin Thohir memberikan penjelasan tentang ini sebagai berikut :

1.3.1. Apabila seorang mukmin melihat keluhuran Akhlak dalam diri saudaranya, pastilah ia akan mengagumi dan berusaha menirunya, sebagaimana saat mendengar kisah inspiratif tentang keindahan budi Baginda Rasululloh SAW dalam cinta,kasih sayang dan besarnya samudera kepemaafan beliau kepada sesama, tak terkecuali kepada seorang Yahudi yang hampir tiap hari meludahi Nabi SAW, beliau terus sabar Alhamdulillah. Suatu ketika si Yahudi sakit. Dengan penuh ketulusan Rasululloh menjenguknya. Secara khusus beliau bawakan makanan yang paling digemari si Yahudi ini, rupanya hati akan bisa menembus hati, itu bukanlah hiasan kata-kata saja, bukan pula isapan jempol, oleh sebab beliau  tidak bawa dendam ke dalam hatinya dan kunjugannya murni karena panggilan kemanusiaan dan cinta kasih, maka hati Yahudi ini tergerak dan lisannya bergetar lantas mengakui kesalahannya selama ini dan kepada Rasululloh dia bersedia menjadi pengikutnya. 

Rasululloh adalah cermin yang indah buat mukmin, buat kita semua. Kita pasti menyaksikan keindahan dalam hati sanubari kita akan betapa indahnya bila mengikuti akhlak indah Rasululloh SAW dan hati kita makin tergerak untuk mengikuti dan mencontohnya. Demikian juga diantara sesama mukmin, mereka akan saling memandang dan saling mengintai ( dalam kebaikan ) sesama saudaranya dan akan berusaha mengikuti kebaikan satu sama lain diantara mereka.

Ini berlaku sebaliknya apabila seorang mukmin menjumpai Akhlak tidak baik dalam diri saudaranya, akan terasa dan terlihat dalam pergolakan batinnya. Ia sedih,marah dan protes. Tanpa disadari iapun telah terhipnotis dan memiliki karakter buruk, sifat tercela seperti itu, maka ia akan berusaha membersihkannya dan dengan sekuat tenaga akan menyingkirkannya dari dalam dirinya 

1.3.2. Kedua, apabila seorang mukmin melihat Akhlak yang tercela dalam diri saudaranya, ia menjadi tergerak untuk bisa mengingatkan saudaranya, sehingga dengan nasehat dan petuah-petuahnya itu, seakan-akan melihat cermin yang dapat memantulkan keburukan (aib) tentang dirinya lalu bergegas memperbaikinya.

1.3.3. Ketiga. Seseorang dalam memperhatikan orang lain, sesuai dalam suasana  kebatinannya. Bila hati lagi baik, bersih, suci dan terjaga dari sifat tercela. Maka pandangan dan sikapnya kepada mukmin lainnya pasti akan sangat baik dan takkan ada sedikitpun ghil apalagi purbasangka. 

Jika setiap kali melihat seseorang  lalu melihat keburukannya, maka itu adalah cerminan dari keburukan dirinya sendiri. Karena ia adalah cerminan dari yang dilihatnya.

1.3.4. Keempat, Hati seorang mukmin yang bening akan memancarkan sifat Alloh Al-Mukmin. Sebab Al- Mukmin adalah salah satu dari nama Alloh yang indah.

1.4. Begitu pentingnya posisi mukmin sebagai cermin terbaik bagi mukmin lainya, yang setiap becermin akan selalu memancarkan aura Kewibawaan, Ketampanan, Kecantikan dan Kemulyaan dari dalam dirinya. 

Karena itu becerminlah dengan cermin yang bagus dan indah agar wajah kita juga terpantul secara indah juga. Bercerminlah kepada Rasululloh maka akan terpancar keindahan Akhlak dan budi kita, kemuliaan pekerti kita. Bergaul lah dengan orang-orang baik dan berakhlak mulia, karena pergaulan dengan mereka  akan mempengaruhi pikiran, kata-kata dan  perilaku kita. Itu sebabnya Baginda Rasululloh mengatakan :

الرجل على دين خليله، فلينضر احدكم من يخالل ( رواه ابو داود و الترمذي والحاكم )

Seseorang itu tergantung dengan Agama teman dekatnya, maka dari itu hendaknya setiap dari kalian memperhatikan dengan siapa dia berteman.
( HR. Abu Daud,Tirmidzi dan Al-Hakim )

2. Selanjutnya Baginda Rasululloh SAW tegaskan : 

والمؤمن اخو المؤمن

Dan orang mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya

2.1.Pernyataan Baginda Rasululloh ini dengan tegas mengatakan bahwa saudara bagi mukmin itu adalah mukmin yang lain. Sehingga bila ada orang yang menyatakan dirinya beriman lalu tidak mau bersaudara dengan orang yang sama-sama beriman diragukan keimanannya.

2.2. Karena sesama mukmin itu bersaudara, maka seharusnya terbangun hubungan yang baik diantara mereka. Tanpa membeda-bedakan suku,ras,golongan,status sosial,profesi,pangkat,jabatan, kedudukan,posisi dan lain sebagaimana. Pada akhirnya semuanya sama di mata Alloh, yang membedakan hanyalah kualitas taqwanya. 

2.3. Saling cinta, bukti Keimanan

Seorang mukmin satu sama lain haruslah benar-benar diuji persaudaraannya. Benarkah ada cinta di antara mereka, karena cinta itu syarat utama persaudaraan.


Sabda Baginda Rasululloh :

لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه
Tidak (dianggap ) beriman salah seorang di antara kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
( HR Bukhori dan Muslim )

Menurut Imam Qurthubi, Ukhuwah atau Persaudaraan karena Agama, karena atas dasar Keimanan kepada Alloh SWT itu jauh lebih kuat ikatannya dibandingkan persaudaraan karena nasab.

Sebab persaudaraan karena nasab dan darah daging akan terputus ketika terjadi perbedaan Agama.

 Sementara persaudaraan karena kesamaan Iman dan Agama akan berlanjut hingga mati, meski tak ada hubungan darah daging. 

Sabda Rasululloh yang artinya :

Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi,saling menyayangi dan saling menolong diantara mereka seperti satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan sakit dengan demam dan tak bisa tidur.

( HR. Muslim )


Selanjutnya Baginda Rasululloh tegaskan

يكف عليه ضيعته

Ia menutup kekurangan ( aib ) saudaranya

2.4. Menutup aib saudaranya adalah bukti cinta mukmin

Salah satu ujian persaudaraan adalah seberapa mampu seseorang itu menjadi pakaian yang dapat menutup kekurangan dan aib saudaranya sesama mukmin. Dengan kata lain seberapa kita dapat menutup rapat aib saudara kita, kecuali bila aib tersebut tak dibuka lantas dapat mengancam keselamatan orang banyak.

Rasululloh bersabda :

Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia melainkan Alloh akan menutupi aibnya di hari Kiamat kelak.
         
( HR Muslim )

2.5. Terakhir bukti mukmin cinta kepada sesamanya  adalah : ويحوته من وراءه

Dan melindungi kepentingannya

Bila benar-benar mukmin mencintau saudaranya, maka hendaklah berusaha membela kehormatan saudaranya bila diganggu orang, mukmin tak akan pernah rela bila saudaranya terjatuh, terhina, direndahkan,dilecehkan,dicampakkan dan dinodai. Bila ini terjadi maka dia akan tampil membelanya dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Karena yang demikian itu adalah konsekwensi dari kecintaan.
Bukan malah sebaliknya bila seorang mukmin terjatuh, dalam ujian berat atau terpuruk justeru paling aktif membully, menyalahkan, mengapokkan dan ucapan sumpah serapah keluar dari lisannya. Yang demikian ini adalah contoh yang tidak baik dari seorang yang menyatakan dirinya beriman.

Oleh karena itu hendaknya kita berhati- hati, janganlah karena alasan apapun seorang mukmin memotong akses rizki saudaranya, janganlah seorang mukmin merencanakan keburukan saudaranya. Janganlah hendaknya seorang mukmin bertindak semena-mena lewat jabatan dan kewenangannya yg menyebabkan kesulitan dan penderitaan bagi saudara mukmin yang lain. Karena yang demikian itu akan menghancurkan amal kebaikan kita.

Akhirnya orang beriman sejati adalah mereka yang berusaha melindungi segenap kepentingan orang mukmin lainnya tanpa pamrih, sehingga setiap mukmin akan  merasakan kekhusu'an dalam Ibadah, nyaman saat makan dan minum serta tenang dalam istirahat dan damai dalam menjalankan agenda nya tanpa ada rasa was-was dan ketakutan yang kepanjangan.

Wallohu a'lam bish_showaab(Sudono Syueb/ed)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel