Rahasia Alumnus Ponpes eLKISI Mojokerto Memenangi Lomba Karya Tulis KBRI Sudan

  

Laporan: Tom Mas'udi

Harianindonesiapost.com Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kedutaan  Besar Republik Indonesia (KBRI) Sudan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis dengan tema "Potensi Ekonomi Di Balik Cantiknya Batik Indonesia" untuk memperingati Hari Batik Nasional. Pengumuman dan penyerahan hadiah dilangsungkan di akhir bulan Desember 2019 lalu bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Keluar sebagai juara pertama adalah Faradilla Awwaluna Musyaffa', alumnus Ponpes Islamic Center eLKISI Mojokerto Jawa Timur. 

Hal ini dibenarkan oleh Mira Kamal, salah seorang panitia lomba. "Memang betul, pemenang lomba penulisan karya tulis adalah Ananda Faradilla Awwaluna Musyaffa', yang tengah menempuh tahun pertama studi di International University of Africa (IUA) ".

Sementara itu, Fara, begitu Faradilla biasa dipanggil, begitu berbahagia. "Alhamdulillah, pastinya saya sangat senang dan bersyukur, namun sungguh kemenangan yang saya dapatkan bukan semata-mata karena kemampuan saya, tapi karena kebaikan dan pertolongan Allah Subhanahu wata'ala", kata Fara merendah.

"Saya juga sangat senang dengan diadakannya lomba ini karena membuat saya terlatih untuk membuat karya tulis berbasis informasi, referensi dan penelitian ilmiah. Saya juga jadi tahu bagaimana wajibnya seorang penulis berhati-hati dan tidak boleh sembrono untuk beropini tanpa rujukan yang benar oleh sebab karya penulis itu kelak akan menjadi konsumsi publik", sambung mahasiswi penerima beasiswa dari IUA ini.

Reward dan sertifikat juara diserahkan langsung oleh Duta Besar RI untuk Sudan Drs. Rossalis Rusman Adenan, MBA.
"Pak Dubes dan Isteri yang menyerahkan langsung. Beliau sendiri yang membaca  dan memberi penilaian atas karya-karya yang masuk. Begitu kata Beliau ketika memberi kata sambutan dan penyerahan hadiah, seraya memotivasi para mahasiswa agar mengembangkan bakatnya dalam bidang tulis menulis. Beliau sendiripun suka menulis", tukas gadis asal Perum Puncak Permata Sengkaling Malang ini bersemangat.


Ihwal isi karya tulis, Fara menjelaskan bahwa  sesuai dengan tema yang ditentukan panitia, ia mengelaborasi bagaimana batik bisa menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat Ibu Pertiwi karena pada hakekatnya batik bukan hanya warisan budaya tetapi haruslah memiliki 'economic value' yang dapat memajukan kesejahteraan masyarakat. 

"Saya mengajukan beberapa pendapat tentang upaya apa saja yang bisa kita lakukan agar batik bisa mendongkrak ekonomi," paparnya.

Dalam menyusun karya tulis itu, Fara mengambil sampel data penelitian ilmiah yang pernah dilakukan Ayahnya menyangkut bagaimana respon masyarakat universal terhadap batik. "Penelitian itu dilakukan di Jepang ketika Ayah saya sedang bertugas di Negeri Sakura".

Fara juga menambahkan dalam karya tulisnya bagaimana agar gerai batik Indonesia pada acara Asean Cultural Festival (ACF) di Sudan menjadi lebih punya daya tarik dan lebih 'eye catching'. "Lebih menarik jika gerai kita tidak hanya menjual produk sebagaimana dilakukan negara lain, tapi kita bisa memberikan wawasan pengetahuan dan edukasi tentang batik sehingga orang punya impresi atau kesan, tidak sekedar membeli", kata peraih juara dalam Festival Bahasa Arab di Khartoum, Sudan ni.

Ia juga mengusulkan lewat karya tulisnya agar pelajaran tentang batik di sekolah di Indonesia tidak berhenti pada tataran teori dalam kelas, tentang sejarah batik dan sebagainya, tapi bagaimana materi itu bisa menyentuh hati para murid untuk mempraktekkan ketrampilan membatik guna melestarikan budaya sekaligus meningkatkan income masyarakat.

Prestasi Faradilla menyabet juara satu lomba karya tulis  tentu saja  membanggakan keluarga besar Pondok Pesantren eLKISI almamaternya. "Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla atas yang diraih Faradilla di Sudan. Eksistensi para alumni eLKISI baik yang di IUA Sudan maupun yang di Al Azhar Mesir cukup membahagiakan karena sesuai dengan visi dan misi Pondok bahwa para santri musti berdaya saing global. Insya Allah ekspektasi ini bisa terwujud", ujar KH. Fathur Rahman Fadhil, Direktur eLKISI yang sedang menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci bersama Wakil Direktur KH Ainur Rofiq, Ustadz H. Hairul Warizin dan beberapa pengurus lain ketika pengumuman juara disampaikan.

Kreasi - Inspirasi


Faradilla Awwaluna Musyaffa' yang lahir pada 16 Agustus 2001 ini adalah puteri pertama dari pasangan Abdul Kholik dan Sri Wahyuni. Dua saudarinya adalah Jehan Masayuki Farhan dan Shabrina Fatimah Azzahra. 

Tinggal nun jauh di negeri orang, Fara terus menyemangati diri dengan mimpi setinggi langit dengan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkahnya. "Saya yakin bahwa ketika Allah sudah menjadi alasan di balik langkah dan mimpi kita, maka kegagalan tidak akan membuat kita rapuh, dan keberhasilan tidak akan membuat kita tinggi hati", tuturnya.

Menjadi penulis adalah salah satu cita-cita yang ingin digapai Fara. "Saya tidak lupa iringi dengan doa, ya Allah, jika pada tanganku ini Kau berikan aku kelebihan untuk menulis, maka beri aku kemampuan untuk terus berkarya, dan jadikan karya-karyaku adalah karya yang dapat menjadikan ummatMu mengingatMu", kenang Fara.

Fara telah mengahasilkan sebuah buku yang ia beri judul "Mager" (Muslim Anti Galau Generation).
Ia bertekad akan tetap menulis meskipun mungkin dia punya bakat lain. "Dunia tulis-menulis akan saya tekuni karena karya tulis atau buku akan bermanfaat dan menginspirasi orang lain, dan lagi karya itu  akan berumur panjang melampaui usia hidup kita di dunia", pungkasnya.(Sudono Syueb)

Post a Comment

0 Comments