Prinsip Keseimbangan Hidup Menurut Islam


Oleh: Amrozi Mufida 

(Wakil Ketua PCM Babat 
Anggota MPK PDM Lamongan 
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Babat)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Menurut QS Al-Baqarah (2): 143, Umat Islam Merupakan Ummatan Wasathan, umat Tengahan, umat yang memiliki Prinsip Hidup Berkeseimbangan. Dan ayat ini Juga berada di tengah-tengah Surat Al-Baqarah yg berjumlah 286 ayat. 
Secara garis besar, Keseimbangan yang ditekankan oleh Islam adalah:

*1. Keseimbangan antara Dzikir dan Fikir: QS Ali 'Imran (3): 190-191*

Dzikir ialah olah rasa, olah jiwa, olah batin utk Senantiasa mengingat Allah SWT, menyebut asmaNya, dan mengaitkan Semua Pembuatan dengan ajaran-ajaran yang ditetapkan olehNya. 
Sedangkan fikir adalah olah akal, olah otak untuk Senantiasa merenung dan berpikir tentang ayat-ayat Allah SWT, baik yang terangkum dlm Al-Qur'an dan Al-Hadits (ayat-ayat Qauliyah) maupun yang terbentang Luas di seputar Kehidupan Kita (ayat-ayat Kauniyah). 

Dzikir yang Istiqomah akan Mampu mempertebal iman dan taqwa. Dan fikir yang dibiasakan akan membuahkan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Keseimbangan antara dzikir dan fikir pd dasarnya adalah Keseimbangan antara Imtaq dan Iptek. Umat Islam Hrs Mampu menyeimbangkan antara keduanya. Sebab klo tidak, akan cenderung reaktif dan destruktif. 

Prof. Murtadha Muthahhari, seorang Ulama dan Pemikir Islam Iran, berkata, "Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada pd orang yang tdk beriman dan bertaqwa bagaikan sebilah pisau yang ada pd orang yang gila." 
Sungguh sangat membahayakan. 

*2. Keseimbangan antara Hubungan dg Allah dan Hubungan dengan Sesama Manusia (Hablun min Allah dan Hablun min Annas): QS Ali 'Imran (3): 112*

Dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits banyak dijumpai bahwa Semua Ibadah hendaknya berdampak positif terhadap Prilaku Sosial. 

Shalat mengajarkan orang yang Istiqomah mendirikan Shalat untuk menjauhi perbuatan yang fahsya' (Haram) dan yg munkar (Makruh). QS Al-'Ankabut (29): 45. Zakat mendidik orang yg biasa berzakat untuk punya Kepedulian dan kepekaan Sosial, suka memberi, punya jiwa pengorbanan, Terutama dg hartanya. QS At-Taubah (9): 60. Puasa Membentuk orang yang Senantiasa berpuasa untuk menjadi orang yang bertaqwa, berilmu, Bersyukur, bersabar, dan berburu Hidayah. QS Al-Baqarah (2): 183-186. Haji menjadikan orang yang sdh berhaji untuk selalu menjaga hati, pikiran, dan lisannya agar Positif dan Edukatif. QS Al-Baqarah (2):197. 

*3. Keseimbangan antara Pemenuhan Kebutuhan Duniawi dan Ukhrawi: QS Al-Qashash (28): 77*

Kiranya tidak ada satu pun Kitab Suci di Dunia ini yang Sangat menekankan agar umat Manusia menyeimbangkan kebutuhan Dunia dan Akhirat, kecuali Al-Qur'an. Sebagai Bukti, kata dalam Al-Qur'an yang Menunjuk pada istilah Dunia jumlahnya sama persis dg kata yang menunjuk pd Akhirat, yaitu 115 kali. (Fuad Abdul Baqi' dalam Kitabnya Mu'jamul Mufahras li Alfadzi Ayatil Qur'an). 
Ini Menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh mementingkan salah satu dari keduanya, tpi harus menyeimbangkan antara keduanya. 

Dunia artinya rendah, hina, dekat, jangka pendek. Sedangkan Akhirat bermakna yang Akhir, yang abadi, yang Sempurna, jangka Panjang. 

Orang yg berorientasi Hidupnya pada hal-hal yang Bersifat Duniawi semata, maka orang itu pada dasarnya berselera rendah, berpola hidup hedonis, berorientasi kekinian, dan terjebak pada mental kekufuran (kufur secara Syariat, bukan kufur secara Aqidah), Meskipun secara Lahir dia mengaku sebagai orang Islam. QS Ibrahim (14): 2-3 

*4. Keseimbangan antara Doa dan Usaha: QS Al-Baqarah (2): 186*

Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang menyuruh utk Menyeimbangkan dan mementingkan antara amalan dan gagasan. (Dr. Muhammad Iqbal: The Reconstruction of Religious Thought in Islam). 

Dalam aktivitas Kita Sehari-hari, Kita hrs selalu menyeimbangkan antara Doa dan Usaha. Kalau Seseorang itu hanya berdoa saja tanpa berusaha , berarti ia orang yang malas. Tetapi, klo ia berusaha saja tanpa berdoa, berarti Ia sombong, seolah-olah Ia yang maha kuasa, padahal Yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Pengatur Semua urusan manusia adalah hanya Allah SWT. 

Dan setiap hari, sebelum Kita bekerja dari pagi sampai sore hari bahkan malam hari, Kita mulai aktivitas Kita dengan Shalat Shubuh, bahkan bisa diawali dengan Shalat Tahajjud. Dan nanti di tengah-tengah Kita bekerja, ada Shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya'. QS Al-Isra' (17): 78-81.

Post a Comment

0 Comments