Mutiara Masjid Unitomo: Ada Dukun Mau "Nyuwuk" Rasulullah


Oleh: Sudono Syueb

( Dosen Fikom Unitomo, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Ketika Rasulullah SAW mulai berdakwah secara terang terangan, banyak kalangan pembesar kafir Quraisy menolak, menentang dan bahkan menuduh Rasulullah sebagai orang gila, penyihir dan atau kena sihir. Allah menjelaskan dalam surat Al Qalam ayat 51, 

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

"Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: "Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila," (QS Al Qalam: 51)

Tuduhan gila pada Rasulullah itu dibantah oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

مَاۤ اَنْتَ بِـنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ۚ 

"Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila."
(QS. Al-Qalam: Ayat 2)
Dan dalam firman-Nya,

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

"Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.' (QS. An Najm: 22)

Di samping Rasulullah dituduh gila juga dituduh kena guna guna, kena santet dan atau kena sihir. Allah berfirman,

 نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُوْنَ بِهٖۤ اِذْ يَسْتَمِعُوْنَ اِلَيْكَ وَاِ ذْ هُمْ نَجْوٰۤى اِذْ يَقُوْلُ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا

"Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan engkau (Muhammad), dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang zalim itu berkata, Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir."
(QS. Al-Isra': Ayat 47)

Diantara upaya orang musyrikin Mekah untuk menghalangi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menjatuhkan karakter beliau. Beliau digelari dengan berbagai sifat buruk, agar masyarakat yang belum kenal, berusaha menjauh dari beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut tukang sihir, jena sihir, penyair, orang gila, dan seabreg gelaran lainnya.

Karena telah viral  Rasulullah dianggap segai orang yang kena sihir itu, maka ada seorang dukun  yang, katanya, ahli nyuwuk orang yang kena sihir mendatangi Rasulullah mau mengobatinya, namanya Dhimad al-Azdi [arab: ضِمَاد الأزدى ]. Dia berasal dari suku Azd, kampung Syanu’ah, di Yaman. Dhimad biasa menyuwuk/meruqyah orang gila atau kesurupan, orang yang kena sihir dan banyak diantara pasiennya yang sembuh.

Ketika tiba di Mekah untuk sebuah keperluan, Dhimad mendengar orang-orang Mekah banyak mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad itu majnun (gila) dan penyihir atau kena sihir.”

Lalu Dhimad  berkata,

لو إني أتيت هذا الرجل لعل الله يشفيه على يدى

“Bagaimana kalau aku datangi orang ini? Semoga Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”

(Mengapa Dhimad sampai terpikir untuk meruqyah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka belum pernah kenal?

Bisa jadi faktor terbesarnya adalah karena Dhimad merasa sangat penasaran dengan beliau. Ini ada orang gila yang sampai menjadi isu utama di kota Mekah, kota yang menjadi pusat peradaban bangsa arab. Banyak orang gila di Jazirah Arab, tapi masyarakat menanggapinya biasa-biasa saja. Sementara ini, ada orang gila dan masyarakat menanggapinya serius, hingga menjadi pusat perhatian seluruh penduduk Mekah. Pasti ini orang gila istimewa.)

Setelah ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dhimad berkata,

يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ، فَهَلْ لَكَ؟

”Hai Muhammad, saya biasa mengobati sakit jiwa. Dan Allah menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apa kamu bersedia?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanggapi dengan mengucapkan iya atau tidak. Tapi beliau menanggapinya dengan memuji Allah. Beliau bersabda,

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ

”Segala Puji Bagi Allah, kami memuji Nya, meminta kepada Nya. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagi Nya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Amma Ba’d”

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan yang sangat indah hingga membuat hati Dhimad bergetar ketika mendengar kalimat ini pertama kalinya. Dhimad keheranan.

”Tolong ulangi semua ucapanmu tadi!” pinta Dhimad.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya 3 kali.

Selanjutnya  Dhimad mengatakan,

لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، هات يدك أبايعك على الإسلام، فَبَايَعَهُ

”Sungguh saya telah mendengar ucapan dukun, ucapan tukang sihir, dan penyair, dan saya belum pernah mendengar seperti ucapanmu tadi. Sungguh untaian kalimatmu mencapai kedalaman lautan. Berikan tanganmu, kubaiat kamu bahwa aku masuk islam.” Kemudian Dhimad membaiat beliau.

Dalam Lanjutan hadis dinyatakan,

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَى قَوْمِكَ»، قَالَ: وَعَلَى قَوْمِي، قَالَ: فَبَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً، فَمَرُّوا بِقَوْمِهِ، فَقَالَ صَاحِبُ السَّرِيَّةِ لِلْجَيْشِ: هَلْ أَصَبْتُمْ مِنْ هَؤُلَاءِ شَيْئًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَصَبْتُ مِنْهُمْ مِطْهَرَةً، فَقَالَ: رُدُّوهَا، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمُ ضِمَادٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan, ”Untuk kaummu juga.”

Dhimad mnjawab, ”Juga untuk kaumku.”

Setelah islam jaya di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu kompi pasukan. Ketika itu, mereka melewati kampungnya Dhimad. Sang pemimpin pasukan bertanya kepada pasukannya, ’Apakah kalian mengambil sesuatu dari mereka?’ Salah satu pasukan menjawab, ’Saya mengambil satu bejana dari mereka.’
Lalu Rasulullah bersabda ’Kembalikan benda itu, karena mereka adalah kaumnya Dhimad.’

(HR. Muslim no. 868).

Post a Comment

0 Comments