Socialize

Menunggu Banjir


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Alkisah, ada beberapa desa di Kecamatan Bukit Jabalkat Kabupaten Karang Segoro menjadi langganan banjir berminggu minggu. Hal ini sudah terjadi sejak nenek moyang mereka. Banjir bagi mereka sudah jadi sahabat karib dan saling membutuhkan. Banjir butuh bozem, daerah rendah untuk aliran dan serapan air. Masyarakat yang ada di beberapa desa di Kecamatan Bukit Jabalkat juga membutuhkan banjir untuk menambah penghasilan mereka.
Mereka memang tidak beraktivitas dalam genangan air, tidak. 
Ketika banjir yang ditunggu tiba, mereka mengungsi sementara di tanggul tanggul desa, di bahu bahu jalan yang tinggi, di balai balai desa, dll dengan membawa peralatan dapur, pakaian, ternak dan kebutuhan sehari hari. Terlihat wajah wajah para pengungsi biasa biasa saja, tidak sedih. 
Selama nengungsi itu, banyak aparat dan masyarakat yang simpati dengan memberikan bantuan sembako, pakaian, alat MCK dll. Kebutuhan hidup selama di pengungsian cukup bahkan lebih lebih. 
Puluhan kali aparat desa cq pemerentah daerah maupun berinisiatip melakukan relokasi hunian, mereka menolak dengan berbagai alasan. 
Kenapa mereka menolak relokasi kampunya? Ini yang perlu ditelusuri.

Maka itu, suatu saat, teman saya coba coba cari tahu kenapa mereka menolak relokasi dan enjoi dengan banjir. Suatu malam dia diam diam datang di lokasi tenda tenda pengungsi untuk mendengarkan obrolan mereka.

Dia mendengar gelak tawa para pengungsi banjir dalam tenda tenda.
"He he he... Enak sekali ya pak, kalau musim banjir begini," kata seorang ibu pada suaminya.
"Ya betul bu, banjir berbulan bulan pun kita senang, bapak bisa ustirahat, tidak bekeja, hanya tidur tiduran saja di tenda, sembako datang melimpah, sumbangan dari pemerintah daerah dan pusat serta dari para dermawan," sambung seorang bapak sambil menikmati susu hangat dan nyamilan roti kalengan dari sumbangan.

Di tenda lain berkumpul para lelaki, sepertinya sedang rapat kecil. Betul, mereka sedang rapat.
"Begini saudara saudaraku, hujan dan banjir ini kita pakai untuk mengais rizki dari mana saja, karena itu jika pemerintah mau mengadakan relokasi kampung kita, harus kita tolak dengan berbagai alasan," kata seseorang yang kelihatannya dia orang berpengaruh di komunitas pengungsi itu.
"Betul kang, harus kita tolak, kalau kita direlokasi di daerah yang tidak kebanjiran, sebab relokasi berarti kita tidak lagi bisa cari nafkah dari banjir ini," kata lelaki yang lain. 
Obrolan itu semakin gayeng karen ibu ibu buatkan kopi susu dan suguhkan berbagai macam roti kaleng bernerk mahal sumbangan para dermawan.
"Monggo bapak bapak kopi susunya dan ini rotinya disruput dan dinyamil, nasi goreng dan ayam gorengnya masih disiapkan oleh ibu ibu yang lain".

 Itulah obrolan mereka yang sempat dikuping temanku. Ternyata banjir itu dipakai alat untuk dapatkan sumbangan dari mana saja. Pantesan mereka nenolak relokasi kampungnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel