Masjid Baitul Mahmud: Menyepi Menghindari Kemaksiatan dengan Uzlah (Tafsir Surat Al Kahfi:16)


Oleh: lbnu Kharis*

Editor Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ayat surat al-Kahfi sebelumnya menjelaskan bagaimana para pemuda Nasrani di zaman Nabi Isa ingin beriman pada Allah dengan nyaman dan tenang tanpa rasa intimidasi dari raja Romawi yang zalim. Karena itu, para pemuda menyarankan untuk menghuni gua. Satu sama lain saling menasihati, Meskipun hidup di gua, mereka yakin masih tetap bisa hidup. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman:

وإذ اعتزلتموهم وما يعبدون إلا الله فأووا إلى الكهف ينشر لكم ربكم من رحمته ويهيئ لكم من أمركم مرفقا

Wa idzi'tazaltumuhum wa ma ya'buduna illallaha fa'wu ilal kahfi yansyur lakum robbukum mir rohmatihi wa yuhayya 'lakum min amrikum mirfaqo (16)

Artinya:
"Dan biarkan kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka ganti tempat yang terlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian besar rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan informasi yang berguna bagimu dalam urusan kamu." (QS: Al-Kahfi Ayat 16)

Ayat ini kembali diterjemahkan sebagai anggota Ashabul Kahfi yang satu sama lain saling dipertanyakan untuk disembunyikan di gua. Syekh al-Sya'rawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan percakapan mereka demikian:

“Mari kita menyingkir dari ahli kekufuran, dan memilih jalan kita sendiri untuk beriman pada Allah yang sudah lebih banyak memudahkan kita. Mari kita menuju gua untuk melindungi kita agar para penyembah berhala itu tidak mengintimidasi keyakinan kita. ”

Syekh al-Sya'rawi mengajak kita berpikir para pemuda yang beriman kepada Allah itu lebih memilih gua, bukan pindah ke negeri lain yang penuh dengan fasilitas hidup. Mereka malah memilih gua yang ketat di padang pasir yang tak ada kehidupan manusia di situ.

Menurut Syekh al-Sya'rawi, Allah mengingatkan kepada kita, “Janganlah kalian mengatakan bahwa gua itu sempit, lalu bagaimana Ashabul Kahfi hidup. Mereka itu sedang hijrah menuju Allah, menyetujui, dan pasrah pada-Nya. ”Oleh karena itu, Allah berfirman yansyur lakum robbukum mir rohmatihi 'Tuhan kalian akan senang kasih kalian'. Kasih sayang yang dibahas dalam kisah Ashabul Kahfi adalah mereka yang tidur dalam waktu yang cukup lama dan tak ada yang membicarakan mereka.

Sementara itu, menurut Syekh Thahir bin 'Asyur dalam tafsir al-Tahrir wat Tanwir, pembicaraan sesama anggota Ashabul Kahfi di atas saat ini mereka telah menghilangkan keinginan masyarakat untuk melarikan diri berhah, dan hanya beribadah pada Allah saja. Selain itu, Syekh Thahir bin 'Asyur mengutip itu dibentangkannya terima kasih Allah untuk para pemuda Ashabul Kahfi karena mereka percaya, berharap, dan memohon pada Allah. Karena menghargai kepercayaan mereka pada kelembutan dan kasih sayang Allah, Pemuda Ashabul Kahfi ini semangat dari kezaliman Raja Romawi.


Ibnu Kharis adalah alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peneliti Ilmu Hadis di El Bukhori Institute

Sumber: islami.co




Post a Comment

0 Comments