Jalan Tol Menuju Krisis


Oleh: Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid

(Guru Besar ITS, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Di tengah berbagai hiruk pikuk kasus korupsi, deklarasi kerajaan-kerajaan lama, dan monopoli parpol atas _polity_ di negeri ini, penting dicermati bahwa kehidupan spesies manusia saat ini menghadapi ancaman eksistensial, termasuk spesies yang tinggal di bentang bumi yang disebut Nusantara ini. Spesies yang sering mendaku paling cerdas ini sedang melakukan bunuh diri massal dengan merusak ekosistem satu-satunya yang mereka miliki : planet bumi. Di samping bencana iklim yang datang bertubi-tubi dengan intensitas yang makin besar, proses ini bahkan dipercepat melalui konflik perebutan sumberdaya melalui berbagai perang tidak sah dengan persenjataan yang makin merusak dan akan segera diakhiri oleh perang nuklir sebagai senjata pemusnah massal karya spesies ini sendiri. Sementara itu banyak pemerintah melakukan _bussiness as usual_ seolah bumi ini baik-baik saja. 

Itu semua terjadi di depan mata Perserikatan Bangsa Bangsa yang telah dilumpuhkan oleh kekuatan-kekuatan adikuasa yang telah melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan melalui pengingkaran atas fakta perubahan iklim, dan perang-perang tidak sah sebagai _military industrial complex_ dan pembiaran berbagai _ethnic cleansing_ yang terjadi di berbagai kawasan bumi. Ini semua dibiarkan terjadi oleh banyak rezim di dunia yang sudah ditaklukkan melalui hutang yang makin menggunung. 

Para elite penguasa dunia menggunakan 2 instrumen utama untuk menjalankan agenda nekolimik atas ummat manusia tidak peduli agamanya, ataupun ideologinya kapitalis atau komunis : persekolahan paksa masal dan sistem keuangan ribawi yang sistemik, terstruktur dan masif. Persekolahan menyiapkan budaya berhutang yang konsumtif sebagai pasar bagi keuangan ribawi tersebut. Persekolahan adalah instrumen propaganda sekulerisme yang  menjadi lahan subur bagi budaya tanpa-nilai seperti korupsi dan berbagai sikap tidak bermoral lainnya di berbagai jenjang kehidupan. 

Dua instrumen pokok nekolim ini di Indonesia telah berhasil membegal perwujudan cita-cita kemerdekaan yang dituangkan dalam Pembukaan UUD1945. Sejak Dekrit Presiden RI 5/7/1959, Pemerintah gagal melaksanakan amanat kemerdekaan ini, bahkan sejak reformasi telah mengubah batang tubuh UUD1945 secara mendasar sehingga konstitusi yang berlaku saat ini sulit disebut lagi sebagai UUD1945. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk menyediakan prasyarat budaya bagi bangsa cerdas dan merdeka. Bahkan saat ini pengelolaan sumberdaya alam dan fasilitas publik diserahkan untuk dikuasai oleh para pemodal besar asing. 

Sejak reformasi, berbagai penyakit sosial masyarakat (penyalahgunaan narkoba, pornografi, LGBT, perbuatan maksiyat, tindak kriminal oleh remaja) marak, dan skandal mega korupsi BUMN yang melanda Indonesia di sepanjang era reformasi saat ini merupakan bukti mutakhir yang menunjukkan penyimpangan atas cita-cita kemerdekaan yang pintunya dibuka oleh UUD2002 hasil amandemen atas UUD45. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai anak kandung reformasipun kini dilumpuhkan oleh korupsi politik kongkalingkong permainan kekuasaan _executhieves, legislathieves_ dan _judicathieves_. 

Saya khawatir kita sebagai spesies, dan sebagai bangsa sedang meluncur cepat menuju _point of no return_ ke  kehancuran. Dibutuhkan kedunguan yang cukup untuk membiarkan deformasi kehidupan berbangsa dan bernegara serta berplanet ini berlangsung terus tanpa dipersoalkan.

*Rosyid College of Arts*, Gunung Anyar, 23/1/2020

Post a Comment

0 Comments