Socialize

Baitul Mahmud: Ibadah Pada Allah Membentuk Pribadi Taqwa


0leh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes Ar Raudhatul Ilmiya, Kertosono)

Harianindonesiapost.com Missi hidup manusia sesuai dengan tujuan Allah menciptaiannya adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Dalam Surat Az-Zariyat Ayat 56, Allah berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Arab-Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Sementara itu hikmah terbesar dibalik beribadah kepada Allah itu adalah akan terbentuk manusia nanusia yang bertakwa kepada Allah Ta'ala semata, seperti firman-Nya dalam
Surat Al-Baqarah Ayat 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Arab-Latin: Yā ayyuhan-nāsu'budụ rabbakumullażī khalaqakum wallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)
Ini adalah panggilan dari Allah bagi manusia secara keseluruhan: “beribadahlah kepada Allah yang telah mengurusi kalian dengan nikmat-nikmat Nya dan takutlah kepadanya serta Jangan melanggar aturan agama Nya. Sungguh Dia telah mengadakan kalian dari ketiadaan dan juga mengadakan orang-orang sebelum kalian dengan harapan kalian menjadi manusia yang bertakwa yang diridhoi Allah dan kalian pun Ridho kepada Nya.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar oleh Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram menjelaskan ayat tersebut, 

Setelah Allah menjelaskan tiga golongan manusia, Dia kemudian menyeru mereka untuk mengikrarkan peribadatan kepada-Nya; sebab Dialah yang menciptakan mereka dan seluruh manusia sebelum mereka sejak masa nabi Adam.
Penegasan hal yang agung imi agar mereka dapat meraih derajat orang-orang bertakwa yang takut kepada Allah, supaya mendapat pahala yang besar dan keselamatan dari azab yang pedih.
Penciptaan Nabi Adam dan keturunannya ini setelah Allah menciptakan langit dan bumi; Allah menjadikan bumi layak untuk dihuni dengan menciptakan di dalamnya rezeki dan berbagai kenikmatan, dan menjadikan langit sebagai atap yang terjaga dan rezeki yang baik berupa air hujan yang dapat menumbuhkan buah-buahan di bumi yang juga menjadi rezeki bagi binatang-binatang yang ada di atasnya. Dengan air tersebut tumbuhlah berbagai tanaman yang berpasang-pasangan, dan menjadi tempat merumput berbagai jenis binatang.

Jika Allah merupakan Dzat yang memberi rezeki kepada manusia maka wajib bagi mereka untuk mengesakan-Nya dalam rasa syukur dan peribadatan. Oleh sebab itu Allah melarang hamba-hamba-Nya dari kesyirikan dengan membuat sesembahan selain-Nya, seperti menyembah para nabi atau orang-orang sholih, menyembah kuburan atau patung, atau menyembah hewan, semua perbuatan ini merupakan dosa yang paling besar yaitu kesyirikan. Padahal manusia memiliki ilmu sebagaimana yang mereka akui, maka selayaknya mereka mengetahui bahwa Allah Sang Pencipta dan Pemberi nikmat berhak untuk diesakan dalam peribadatan. Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas'ud bahwa ia bertanya kepada Nabi: "Dosa apa yang paling besar?" Nabi menjawab: "Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia telah menciptakanmu." (shahih Bukhari: tafsir surat al-Baqarah, no. 4477. Dan shahih Muslim: kitab iman, bab syirik adalah dosa yang paling buruk, 

 Sedang dalqn Aisarut Tafasir karangan Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi menjelaskan, 

Alqomah dan mujahid berkata “setiap ayat yang awalnya “يا أيها الناس” maka ayat tersebut diturunkan di Mekah, dan setiap ayat yang diawali dengan kalimat “يا أيها الذين آمنوا”  maka ayat tersebut diturunkan di Madinah.

Alqurtubi membantah pendapat ini dengan mengatakan bahwa dalam surat Al-Baqoroh dan surat An-Nisa ada ayat yang diawali dengan kalimat “يا أيها الناس” padahal dua surat ini merupakan surat yang diturunkan di Madinah. Adapun pendapat mereka tentang يا أيها الذين آمنوا  maka hal itu shohih.

‘Urwah bi az-Zubair berkata, tidak ada satu aturan atau kewajiban pun yang ada dalam alquran kecuali diturunkan di Madinah, dan adapun surat-surat yang menyebutkan tentang kisah-kisah umat terdahulu dan tentang azab nya kecuali diturunkan di Mekah” Dalam ayat ini menyeru dengan kalimat “يا أيها الناس” “wahai manusia”. Para ulama berbeda pendepat mengenai makna kalimat ini menjadi dua pendapat.

Pertama, yang Allah seru dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tidak menyembah-Nya. Hal ini ditunjukan oleh ayat-ayat berikutnya yaitu :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (QS. Al-Baqoroh : 23)

berdasarkan ayatt di atas Jelaslah bahwa yang dimaksud oleh Allah dalam seruan-Nya adalah orang-orang kafir.

Kedua, yang dimaksud dalam seruan Allah pada ayat ini adalah umum untuk seluruh manusia, maka jadilah makna seruannya sebagai perintah mendawamkan ibadah bagi orang-orang mukmin dan perintah untuk memulai ibadah untuk orang-orang kafir. Dan pendapat ini sangat bagus.

Allah meyuruh manusia untuk beribadah kepadanya, dan yang dimaksud dengan ibadah dalam ayat ini adalah Tauhid dan berpegang teguh pada syariat agama Allah.

Pokok dari ibadah adalah ketundukan dan kepatuhan kepada yang diibadahi.

Ibnu tayimiyah mengatakan bahwa ibadah adalah satu nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridoi-Nya baik ucapan, perbuatan. Baik yang dzohir ataupun yang tersembunyi.

Dalam ayat ini juga Allah menegaskan ke-uluhiyahan-Nya sehingga hanya Dia-lah satu-satu yang berhak mendapat penyembahan seluruh makhluk. Selain itu juga Allah mempertegas ke-rububiyahan-Nya, yaitu bahwa Dia-lah yang telah menciptakan seluruh makhluk, tidak ada yang mampu menciptakan sesuatu dari ketidak adaan menjadi ada kecuali Allah ‘azza wa jalla.

Dengan demikian jelaslah salah satu alasan kuat kenapa Allah memerintahkan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya, yaitu karena Dia-lah yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka. Dan tujuan dari penciptaan ini tiada lain adalah penyembahan total dari yang dicipta kepada Sang Pencipta, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Adapun tujuan pelaksanaan ibadah untuk manusia adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. Maksudnya, dengan melaksanakan ketauhidan dan segala konsekwensinya serta berpegang teguh terhadap syariat-syariat agama, maka akan membuat diri menjadi takut kepada Allah ta’la dan membuat adanya penghalang yang menjaga anatara dirinya dengan neraka Allah. Ketaqwaan adalah sesuatu yang dijadikan sebagai alat ukur kemuliaan manusia di hadapan Allah, semakin kuat manusia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka semakin besar ketakwaannya dan semakin mulia kedudukannya di hadapan AllahbTa'ala.

Sumber: tafsirweb.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel