Socialize

PROF AMIEN, DENGARLAH SUARA KAMI


Oleh: Dr. Bambang Sutrisno

(Kader PAN Jawa Timur )

Harianindonesiapost.com Sudah menjadi semacam kelaziman atau kesepakatan tidak tertulis dalam setiap momentum suksesi kepemimpinan DPP Partai Amanat Nasional, bahwa siapapun yg berhajat untuk mendapatkan kepercayaan menjadi orang nomor satu di partai ini harus mendapat restu dari penggagas sekaligus pendiri Partai Amanat Nasional, bernama Prof. Dr. H. M. Amien Rais. Oleh karena itu tidaklah heran jika para kader PAN yg berniat ikut bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum partai melalui forum konggres ramai ramai sowan untuk mendapatkan restu beliau.

Sebagai sesepuh partai yg selalu konsisten menjaga ideologi partai di tengah sengitnya pertarungan politik nasional di republik ini, keberpihakan beliau kepada kandidat tertentu cukup rasional untuk dijadikan referensi para kader dalam menentukan pilihannya. Apakah hal ini bersifat mutlak? Tentu saja tidak. Kita memang menghormati dan loyal kepada beliau sepanjang pilihan politiknya rasional dan objektif. Tetapi jika sebaliknya maka tidak ada kewajiban bagi siapapun untuk mengikutinya, bahkan sebagai kader idealis yg selama ini terus berjuang untuk ikut menyelamatkan masa depan partai, kita dituntut untuk berani mengingatkan beliau agar tidak sampai  tergoda oleh bisikan maut para maniak kekuasaan yg cenderung menghalalkan segala cara. Kita berkewajiban memberikan informasi secara utuh, realistis dan objektif kepada tokoh panutan kita tentang kehendak kolektif para kader partai di akar rumput. Suara mereka wajib didengar sekaligus dipertimbangkan secara serius, karena sesungguhnya merekalah kekuatan penentu bagi kelangsungan masa depan partai ini. Merekalah yg dapat merasakan langsung bagaimana respons publik terhadap kinerja Partai Amanat Nasional dalam memperjuangkan hak hak politik publik selama masa kepemimpinan Zulkifli Hasan. 

Seperti yg pernah saya tulis sebelumnya, bahwa di bawah kendali Zulkifli Hasan PAN telah kehilangan shibghah dan wijhahnya sebagai partai reformis yg idealis, bahkan terkesan menjadikan partai besutan Prof. Amien Rais ini sebagai rubber stamp dan legitimator kehendak subjektif penguasa secara membabi buta. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut larut, perlu ada tindakan radikal konstitusional untuk mengembalikan performance PAN sesuai cita cita luhur para pendirinya. 

Di tingkat grass root ada semacam kekhawatiran kolektif, termasuk saya pribadi akan munculnya gerakan terstruktur, sistematis dan massif mempertahankan Zulkifli Hasan dg memanfaatkan hubungan perbesanan ZH dan MAR atau dg menghembuskan klaim restu MAR secara sepihak. Kekhawatiran tersebut bukanlah hal yg mustahil terjadi, karena di dalam politik itu sendiri tidak ada yg tidak mungkin. Meminjam istilah Otto Van Bismarck "Politics is art of possibelity". 

Mayoritas kader Partai Amanat Nasional di grass root termasuk saya pribadi, merasa tidak memiliki alasan objektif untuk mempercayai objektifitas para peserta konggres dalam menentukan pilihannya di forum konggres kelak, karena kehadiran mereka sebagai pucuk pimpinan partai di daerahnya masing masing bukan atas kehendak kolektif para pemegang hak suara, melainkan atas pemaksaan kehendak segelintir elite berdasarkan prinsip " Survival of the fitters" (Siapa yg kuat dialah yg menang).  

Sebagai kader pinggiran yg masih sangat menyintai PAN, melalui tulisan ini saya mengetuk pintu hati Prof. Amien Rais yg sangat saya kagumi dan hormati, mohon kiranya berkenan ikut mendorong sekaligus mendukung figur calon Ketua Umum PAN yg benar benar representatif, credible, capable dan accaptable. Perhelatan konggres V ini merupakan medan pertarungan hidup mati yg sangat menentukan kelangsungan masa depan partai yg sangat kita cintai. Oleh karena itu kita dituntut untuk rela mengenyampingkan pertimbangan subjetifitas apapun demi kejayaan masa depan PAN yg lebih besar. 

Saya sadar bahwa tulisan ini membuat sebagian pihak merasa kepentingan politiknya terganggu. Tulisan ini sama sekali tdk bermaksud mendiskreditkan pihak manapun, melainkan semata mata demi untuk ikut menyelamatkan masa depan partai yg sangat saya cintai, sekecil apapun. Saya sadar bahwa tulisan ini berpotensi akan semakin meminggirkan posisi saya sebagai kader yg selama ini memang sudah terpinggirkan sangat jauh dari lingkaran kekuasaan partai. Bagi saya hal itu tdk terlalu penting. Sebagai orang yg merasa dibesarkan oleh Muhammadiyah, saya tdk terbiasa diam apalagi menjilat atasan demi kepentingan pribadi yg tidak bermanfaat bagi kemaslahatan ummat. Lebih baik menjadi sasaran kebencian atau bahkan terpinggirkan dari pergaulan elite demi tegaknya kebenaran ketimbang harus melawan kejujuran nurani dg membiarkan ketidakberesan yg sedang terjadi. 

Sebagai penutup, marilah kita renungkan apa yg pernah diucapkan oleh Publius Terentius, seorang penulis drama Romawi kuno "Hoc tempore obsequium amicos, varitas odium parit" ( Kini persahabatan sering didapatkan melalui penjilatan, sementara kebenaran justru menghasilkan kebencian)





Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel