Socialize

Pondok Ruhani Guru Gaib


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ketika saya masih di Yogyakarta dulu, sering blusukan kemana mana baik di Yogyakarta itu sendiri maupun di seluruh kabupaten yang ada di DIY. Bahkan sampai luar DIY seperti Kebumen, Wonosobo, Cilacap, Purwotejo, Muntilan, Magelang dan lain lain untuk nengikuti kegiatan organisasi ekstra kampus.
Dalam pengembaraan itu banyak hal yang saya temui. Misalnya prrnah ketemu tokoh spiritual yang salah satu  anaknya ada yang sedang sakit jiwa sejak remaja, tapi oleh keluarganya dibilang sedang menuntut ilmu (mondok) secara gaib. Kalau sudah selesai mondoknya, menurut ortunya, dia akan normal kembali dan jadi orang alim. Lalu saya tanya, mondoknya di mana paj?

"Di pesantrennya Pangeran Diponegoro yang terletak di lembah gunung Merapi," jawab keluarganya mantab sambil tersenyum.

"Kalau sedang mondok di lembah gunung Merapi, kok sekarang dia ada di rumah,?" tanyaku heran.

"Yang mondok rohaninya mas dono, sedang jasadnya tetap di sini. Kadang kadang rohaninya pulang karena kangen jasadnya dan keluarganya. Saat rohaninya pulang itu banyak tamu datang ke rumah tanya ini itu. Yang pengusaha tanya soal ekonomi, yang pejabat tanya soal kariernya, yang politisi tanya soal politik, yang perawan tua tanya soal jodoh dll. Semua dijawab dengan baik dan memuaskan,?" jawab keluarganya.

"Sekarang apa waktunya rohaninya pulang, saya pingin tanya siapa penggantinya Pak Harto nanti,?" tanyaku menggoda keluarganya.

Mereka menjawab, belum waktunya. Maka itu jika diajak bicara tidak nyambung mas dono. 

"Kira kira kapan selesai mondoknya,?" tanyaku penasaran.

"Ini sudah 9 tahun mondok, kontraknya 10 tahun, berarti tinggal setahun lagi selesai, karena itu sudah kami siapkan pondoknya kapasitas 1000 santri mukim. Ada aula, kantor, gest house dan masjid untuk dia mbabar ilmunya di sebelah rumah ini, di atas tanah 5 hektar,' jawab keluaganya sambil menunjuk ke arah selatan rumahnya yang berupa tanah tegalan yang sedang ditanami singkong.
Saya mencoba lihat lihat tanah tegalan itu, tidak ada bangunan apa pun.

Nampaknya mereka menangkap apa yang saya cari, lalu buru buru mereka mengatakan, itu mas dono, pondok, aula, kantor dan masjid yang saya bangun itu secara gaib, tidak ada yang tahu kecuali adik saya yang sedang mondok itu, kami dan beberapa tamu kami yang sudah saya izinkan untuk melihatnya.

"Mbok saya diizinkan untuk melihat bangunan pondok itu," pinta saya sambil pura pura menghiba

'Nanti saja kalau rohani adik saya sudah tamat mondoknya dan menyatu dengan jasadnya kembali, ga lama kok, setahun lagi," jawab mereka

Untuk menjaga perasaan keluarga itu, saya pura pura mengiyakan penjelasannya sambil mantuk mantuk dan pamit mau pulang, 
"Baiklah pak, setahun lagi ya rohani gus Yakin selesai mondok. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, mungkin dua tahun lagi saya mau ke sini untuk ikut taklimnya gus Yakin," kataku. Lalu saya uluk salam untuk pamit, assalamu'alaikum.
Wa'alaikumussalam... 

"Terimakasih kunjungannya mas dono. Kalau lewat desa ini lagi kami mohon mampir..."

Dua tahun kemudian, saya teringat kisah gus Yakin yang sudah selesai mondok secara rohani. Lalu saya ingin 
mertamu lagi ke rumah gus Yakin. Sesampai di rumahnya, saya melihat gus Yakin ngobrol sendiri, saya salam tidak dijawab. Tak lama kemudian keluarganya menemui saya dan bilang kalau rohani gus Yakin belum boleh pulang oleh guru ghoibnya, suruh nambah 5 tahun lagi.
Ou begitu, baiklah pak, saya sebetulnya hanya ingin ngobrol dengan gus Yakin, tapi karena rohaninya belum pulang, nanti saja 5 tahun lagi saya kesini, sekarang mau meneruskan laku saya dulu menyusul temanku pujangga yang lagi riyadhah di masjid "tiban" Turen Malang.
Assalamu'alaikum.

Tiga tahun kemudian, saya dapat informasi kalau gus Yakin meninggal di sebuah gubuk samping rumahnya. Keluarganya tidak tahu pasti kapan gus Yakin meninggal, ketika ditemukan meninggal, tubuhnya sudah membiru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel