Kuswiyanto ln Memoriam: Pribadi Yang Selalu Menyebar Kebaikan


Oleh: Sudono Syueb

(Dosen Fikom Unitomo, Surabaya dan Anggota FPAN DPRD Jatim 2004-2009 dan 2009-2014 PAW)

Harianindonesiapost.com Seolah olah sudah terasa mau dipanggil Allah, saudaraku Kuswiyanto, Anggota FPAN DPRRI, 2014-2019, maka  beliau tambah semangat melakukan banyak kebaikan. 
"Saya ingin melakukan banyak kebaikan untuk bekal menggadap Allah. Sewaktu waktu Allah memanggil saya, saya sudah siap bekalnya," demikian kata mendiang saudaraku  Drs. H. Kuswiyanto, MSi, mantan Kepsek SMAM 2 Surabaya, kepada sahabat karibnya ust. Abdul Kholiq, mantan Kepsek SMKM, Kertosono, sebulan sebelum saudaraku Kuswiyanto meninggal, Selasa 31/12, pukul 03.35 di RS Husada Utama, Surabaya.

Ketika ust. Abdul Kholiq saya konfirmasi hal itu, Abdul Kholiq membetulkan.
"Betul ust. Sudono Syueb, pak Kuswiyanto  mengisi hidupnya selalu aktsaru waahsanu amala (memperbanyak dan memperbaiki amalan amalan). Beliau dengan semua teman baik, merendah, menghargai, peduli, perhatian, simpati, suka menolong dan lumanan (dermawan)," jawab Abdul Kholiq lewat sambungan seluler.

Lebih lanjut Abdul Kholiq katakan, kita banyak dibantu ketika beliau menjadi anggota FPAN DPR RI (2014-2019), beliau mengawal dan mengantarkan kita bertiga saya, ust. Sudarji dan ust. Amam Fahhur untuk menemui  Bpk. Dr (HC) Zulkifli Hasan, ketua MPR 2014-2019, di rumah dinasnya, dan kita diajak makan bersama di gedung senayan. dan endingnya Bpk. Zulkifli Hasan hadir bersama p. Kuswiyanyo, p. Eko Patrio naik helikopter landing di helipad  lapangan sepak bola desa banaran kemudian naik mobil beriringan menuju Ponpes Ar Roudhotul Ilmiyah YTP, Kertosono, hari Sabtu 21 Mei 2016 untuk mengisi Ceramah Kebangsaan dalam Haflah Akhirussanah ponpes Ar Roudhotul Ilmiyah YTP, Kertisono. 


"Betapa suka citanya masyarakat Kertosono dan sekitarnya, khususnya keluarga besar ponpes YTP dan wabil khusus bpk KH Ali Mansyur Kastam, Mudir ponpes YTP, para asatidz, para santri dan para wali santri serta para hadirin dan hadirot. 
"Kesuksesan haflah dan kehadiran Bang Zulkifli Hasan waktu itu merupakan sentuhan setitik ahsanu amala p. Kuswiyanto yang juga wali santri yang adiknya pernah pondok du ponoes YTP, Kertosono dan juga belajar di SMKM,  Kertosono.
Semoga Allah mencatat sebagai amal sholih kelak dpt dipamerkan kehadapan Allah swt, dan dimasukkan surga Nya. Amin," tutur Abdul Kholiq, aktivis Muhanadiyah di PDM Nganjuk.

Nampaknya semangat saudaraku Kuswiyanti mengisi hidupnya dengan menebar kabaikan itu diilhami oleh firman Allah Ta'ala berikut ini:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Dan juga furman-Nya

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS: Hud [11]: 7).

Maka itu, saudaraku Kuswiyanto  ini tidak lagi sebatas menempa diri hanya untuk prestasi pribadi, lebih jauh dari itu adalah beliau ingin selalu beri kontribusi berarti bagi kelangsungan hidup dan masa depan kemanusuaan umat Islam.

Mengaca dari semangat saudaraku Kuswiyanto ini, maka seorang Muslim itu tidak boleh patah semangat apalagi patah arang dalam kondisi apa pun. Sebaliknya justru terus mampu membakar semangat juangnya untuk menjadi pribadi terbaik dan bermanfaat bagi sesama.

Melansir dari laman hidayatullah.com, soal hari ini masih hidup dalam kesulitan dan kekurangan, semua itu tidak boleh menjadi alasan kita hidup dengan mementingkan diri sendiri. Sebab hidup yang demikian adalah hidup yang tidak bermakna. Apalagi kalau ternyata kehidupan kita sudah lebih dari mencukupi. Menggapai derajat ahsanu amala mestinya kian jadi kebutuhan utama.

Muslim yang memiliki tekad menggapai ahsanu amala bisa dikatakan sebagai Muslim yang benar-benar ingin secara tulus membutkitkan keimanannya sebagai wujud amaliah dari ilmu yang dipahaminya. Sebab, ilmu tanpa amal adalah sia-sia.
Ibn Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sekiranya ilmu itu bermanfaat tanpa amal, Allah tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab, dan jika ilmu itu bermanfaat tanpa ikhlas, Allah tidak akan mencela orang-orang munafik.”

Masih dari lansuran hidayatullah.com, dengan kata lain, ahsanu amala adalah cara Allah menjauhkan setiap Muslim dari sifat buruk yang membahayakan kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, daripada sibuk melakukan hal-hal yang belum jelas manfaatnya, alangkah sangat baik jika setiap Muslim menempa diri sedemikian rupa untuk sampai pada derajat ahsanu amala, apapun status dan profesinya.


Semoga Allah senantiasa menuntun diri kita semua untuk mampu menjadi Muslim yang memiliki kejujuran, kesungguhan dan kepedulian terhadap nasib dan masa depan umat Islam, sehingga kita bisa mewujudkan ahsanu amala itu dalam setiap hari-hari yang kita lalui, seoerti apa yang dilakukan mendiang saudaraku Kuswiyanto Allahuyarhamhu.
Aamiin.

Post a Comment

0 Comments