Catatan Burung (5)


Oleh: Didik Akhmadi

(Pengamat Budaya dan Politik)

Harianindonesiapost.com Saat beredar video clip seorang anak yang bisa menirukan beragam suara burung, banyak orang yang takjub. Piye yo koq iso? Anak tersebut mengolah alur udara berikut berbagai posisi mulutnya bisa bersuara menirukan burung podang, kutilang, emprit, kacer, derkuku, perkutut, dan yang lainnya. Saya berharap anak tersebut bisa terus belajar mengenal burung sehingga dia bisa mengenal tabiat dan perilaku burung, dan kemudian bisa mendayagunakan ilmu perburungannya.

Ulama ulama terdahulu, kata Prof Mulyadi Kartanegara, sangat intens memahami binatang binatang termasuk burung. Mereka mencoba mengenali dan memahami tabiat, perilaku dan bahasa burung. Pengetahuan para ulama tersebut dituangkan dalam buku buku. Prof Mulyadi Kartanegara sempat menyampaikan minatnya untuk menterjemahkan buku buku tentang binatang tersebut.

Ilmu perburungan di dalam al-Quran tertera secara kelas ketika al-Quran mengisahkan tentang Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman mewarisi  ilmu pengetahuan yang luas dari Nabi Daud as. Nabi Sulaiman berkata:

 "Ya ayyuhannas, ngulimna mantiqaththoiri wa utina min kulli sya'i". 

"Wahai manusia, kami telah diberi ilmu bahasa burung dan diberikan segala sesuatu".

"Mantiqaththoiri" diterjemahkan sebagai 'bahasa burung', tentu kata terjemahan tersebut  sudah dirasa cukup memadai. Meskipun jika dimaknai dengan ilmu mantiq maknanya menjadi sangat mendalam termasuk alur berpikir. 

Demikian hebatnya pengetahuan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as atas burung. Yang kemudian menjadikan dan menyebutkan burung sebagai salah satu barisan tentaranya, selain dari kalangan jin dan manusia. Surat An-Naml surat ke 27 ayat 16-17.


Post a Comment

0 Comments