Socialize

Catatan Budaya: Ngunduh wohing pekerti


Oleh: Didik Akhmadi

(Penganat Buadaya Jawa dan Pilitik)

Harianindonesiapost.com Menemukan alur tema lakon wayang bisa melalui melalui proses induksi dan deduksi. Alur tema bisa didapatkan melalui pelajaran yang diambil pada setiap gelaran wayang dengan 'tari golek' atau 'golekana dhewe piwulange'. Atau, turunan dari landasan filsafah pewayangan. Alur tema lakon pewayang bertumpu pada ideom budaya "Ngunduh wohing pakerti".

Saat awal nonton wayang, misalnya lakon wayang "Gondomono Luweng", seseorang bisa menemukan ideom 'ngunduh wohing pakerti'.  Lalu, "oh, ngono yoo". Kemudian setelah nonton wayang dengan lakon "Samba sebit", 'ngunduh wohing pakerti' ditemukan lagi. Pada lakon "Dursasana Jambak", 'ngunduh wohing pakerti' ditemukan lagi. Saat lakon "Wisanggeni Lahir", ideom itu kemudian ditemukan lagi.

Secara akumulasi lakon lakon itu kemudian, ada perumusan aksioma bahwa para pelaku keburukan akan memperoleh balasan yang setimpal, yang bisa berujud pada bentuk kematian kematian yang mengenaskan.

Lalu, apakah 'ngunduh wohing pakerti' itu hanya berlaku bagi para pelaku keburukan? Eh, ternyata pada semacam lakon turunnya wahyu, lakon satria satria winisuda, lakon perang Barantayudha, dan lakon "Pandawa Kumpul" dan lakon lakon yang lainnya itu merupakan kilasan cerita tentang ideom "ngunduh wohing pakerti". Pada jalur yang semacam ini, 'ngunduh wohing pakerti' berlaku bagi pelaku pelaku kebaikan. Kejayaan dan kesuksesan merupakan imbalan yang setimpal atas  pengorbanan  dan kesabaran yang ditempuhnya selama menjalankan proses perjuangan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel