ANTARA PERSAHABATAN DAN PREWANGAN


Oleh:  Ihsanuddin.


          Harianindonesiapost.com Kehidupan di masa penjajah memang penuh dinamika untuk dapatnya lepas dari cengkeraman kaum penjajah. 
Di tanah Jawa khususnya yang merupakan pusat pemerintahan Hindia-Belanda.
Orang-orang pribumi yang sudah begitu muak dengan penjajahan, banyak memilih masuk hutan meninggalkan kampung halamannya  daripada harus menjadi begundal Belanda ,mereka lebih bangga di sebut ekstrimis, bahkan di sebut brandal pun tak mengapa daripada menjadi penjilat.
Maka tak heran jika fenomena diatas, mendorong mereka untuk memiliki ilmu yang dapat diandalkan untuk membentengi diri dan menghadapi kaum penjajah, baik itu ilmu kebal, ilmu panglimunan , ilmu seipi angin dll.
Namun kesemuanya itu tergantung pada kepercayaan dan keimanan mereka.
Jangankan orang-orang yang ingin lepas dari penjajahan , sedangkan pribumi yang menjilat pada penjajah saja membentengi diri mereka dengan ilmu-ilmu tersebut.

          Sedikit cerita dari nenek saya, bahwa kakek buyut saya yang bernama *Wongsodikromo* , yang di cap sebagai orang yang ekstrim sudah barang tentu menjadi incaran kaum penjajah dan juga para begundalnya. Oleh sebab itu kakek buyut lebih memilih menjauh dari mereka, menjauh bukan dalam arti takut, namun menjauh agar tidak mati konyol.
Karena seringnya keluar masuk hutan, hingga punya sahabat *Harimau*. Dan harimau itu sangat patuh pada perintah beliau.
Masyarakat sekitar ada yang menyebutnya prewangan. 
Tapi menurut kakek buyut sangat jauh bedanya antara *prewangan* dengan *persahabatan* yang kakek buyut lakukan .
Prewangan , menurutnya persekutuan antara manusia dengan siluman dan di sertai persyaratan atau ritual tertentu. Sementara kakek buyut bersahabat dengan harimau beneran dengan tanpa harus melakukan ritual tertentu.

        Menurut kakek buyut, untuk bisa bersahabat dengan binatang buas itu sebenarnya siapapun bisa, asal punya keberanian dan keyakinan, sebab menurutnya binatangpun sebenarnya sangat mendambakan bisa bersahabat dengan manusia.
Hewan pun juga menginginkan belaian tangan lembut manusia.

         Sebenarnya di lingkungan keluarga tidak banyak tahu tentang persahabatan kakek buyut  dengan harimau ini,  tapi pada suatu malam di saat  nenek mengantarkan kopi  pada kakek buyut yang  berada di kandang sapi, nenek hampir pingsan karena melihat seekor harimau besar yang duduk di dekat perapian bersama kakek buyut , dan tangan kakek buyut meng elus-elus kepala harimau.
Sejak saat itu kakek buyut berterus terang kepada keluarga , bahwa sesungguhnya kakek buyut sudah  agak lama  bersahabat dengan harimau, dan sejak saat itu keluarga tidak merasa takut dan heran  bila   di setiap malam ada harimau seliweran di luar  rumah.
Walaupun demikian harimau itu tak pernah mengganggu ternak milik orang kampung.

                **************







Post a Comment

0 Comments